Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 101. Kembali ke Tangan


__ADS_3

Erlan berlari kecil menghampiri Dinda yang sedang dalam keadaan basah kuyup karena kehujanan. Meskipun tetes air hujan juga terasa begitu menghujam raga, namun lelaki itu jauh lebih memikirkan keadaan Dinda. Tanpa basa-basi, ia memapah tubuh Dinda untuk ia bawa kembali ke dalam teras.


"Hei, apa-apaan kamu? Mengapa kamu kembali membawa masuk wanita itu?" teriak salah seorang preman yang hampir saja memasuki mobil. Kedatangan Erlan lah yang membuat kumpulan preman itu mengurungkan niatnya. Mereka ikut kembali masuk ke teras.


"Aku yang harusnya bertanya kepada kalian? Ada apa ini? Mengapa kalian mengusir wanita ini dari rumahnya sendiri? Kalian mau cari mati?"


Meskipun nyalinya sedikit ciut karena berhadapan dengan para preman yang bertubuh kekar, namun Erlan tetap memaksakan diri untuk bersikap seolah ia jauh lebih berani. Ia sembunyikan rasa takutnya itu di balik wajahnya yang terlihat garang dan menantang.


"Hahaha ... Ternyata kamu ini ingin jadi pahlawan kesiangan untuk wanita ini?" ucap ketua preman dengan nada meremehkan. "Jika kamu ingin menjadi pahlawan untuk wanita ini, silakan berikan uang tiga ratus lima puluh juta untuk mengambil kembali rumah ini!"


Erlan terhenyak mendengar nominal tiga ratus lima puluh juta yang diucapkan oleh ketua preman itu. Ia sampai berpikir digunakan untuk apa uang sebanyak itu.


"Din, apa maksud preman itu? Kamu terjerat hutang dengan preman itu?"


Dinda menggelengkan kepala. "Tidak Tuan, saya sama sekali tidak terlibat hutang. Ini semua ulah mantan suami dan mertua saya. Mereka lah yang telah menggadaikan rumah ini."


"Hah? Setega itu mereka?" tanya Erlan seakan tidak percaya. "Benar-benar keterlaluan!"


Erlan mengepalkan telapak tangannya. Entah apa yang terjadi, ia seakan tidak terima jika Dinda mengalami hal seperti ini. Emosinya ikut meletup-letup melihat kedzoliman yang dialami oleh asisten rumah tangganya ini.


"Oke, akan aku berikan uang itu. Sekarang kembalikan sertifikat rumah itu kepada wanita ini!"


"Tuan? Ini apa maksudnya?" tanya Dinda yang semakin dibuat tidak mengerti akan apa yang diucapkan oleh majikannya ini.

__ADS_1


"Sssstttt .... Sudah, kamu tenang saja. Aku pastikan rumah ini bisa kembali ke tanganmu!"


Para preman itu saling bertatap netra. Mereka berbisik-bisik seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Erlan.


"Hahahaha ... Kamu ingin mengelabuhi kami? Orang macam kamu ini mana mungkin bisa menebus kembali sertifikat rumah ini? Jangan mengigau kamu!" timpal salah satu preman meremehkan. Ia tidak percaya jika lelaki di depannya ini memiliki banyak uang untuk bisa menebus sertifikat rumah.


"Jangankan tiga ratus lima puluh juta, satu miliyar pun sanggup aku berikan!" ucap Erlan dengan sombongnya.


"Apa? Satu milyar? Jangan mimpi kamu! Kamu ini tidak lain dan tidak bukan hanya lelaki miskin yang tidak memiliki apa-apa. Mana mampu membayar satu milyar!" sahut preman yang lainnya.


Erlan sedikit tersentak karena para preman itu tidak mudah percaya begitu saja. Ia pun memutar otak untuk bisa mencari jalan keluarnya. Hingga pandangannya tertuju pada arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Bawalah jam tangan ini sebagai jaminan. Besok, kalian bisa datang kembali ke sini untuk mengambil uang tiga ratus lima puluh juta itu!"


"Ori atau KW ini?" tanya ketua preman sembari menatap lekat jam Rolex yang diberikan oleh Erlan.


"Ckkkkcckk .... Aku ini pengusaha sukses, mana mungkin memakai barang KW. Aku pastikan jam tangan ini ori."


Ketua preman itu berpikir sejenak. Ia menimbang-nimbang apa yang diucapkan oleh Erlan hingga ia pun membuat sebuah keputusan.


"Baiklah. Sertifikat ini bisa kalian bawa. Namun besok aku akan datang kemari lagi untuk mengambil uang tiga ratus lima puluh juta itu!"


"Deal!" ucap Erlan mantap.

__ADS_1


Ketua preman itu menyerahkan kembali sertifikat rumah ke arah Dinda. Dengan tangan bergetar Dinda menerima sertifikat itu. Ia masih tidak percaya jika sertifikat ini benar-benar kembali ke tangannya.


Para preman itu mulai melenggang pergi. Kali ini mereka mulai meninggalkan pekarangan rumah Dinda.


"T-tuan ..... Terima kasih banyak. Saya benar-benar berhutang budi kepada Tuan. Untuk mengganti uang itu, saya sanggup untuk bekerja di kediaman Tuan tanpa digaji, berapapun lamanya!"


Erlan hanya tersenyum kecut. Kali ini kepalanya benar-benar terasa pusing luar biasa. Ia sampai heran mengapa bisa sampai pusing setengah mati seprti ini padahal sebelumnya ia merasa baik-baik saja.


"Ah, itu semua jangan terlalu kamu...."


Ucapan Erlan terjeda saat pandangannya mulai berkunang-kunang dan menghitam. Tanpa menunggu aba-aba tubuh lelaki itu...


Bruk!!!!


Tubuh Erlan terhuyung dan pada akhirnya tersungkur di atas lantai. Lelaki itu tiba-tiba pingsan di teras rumah Dinda.


"Tuan!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2