Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 35. Salah Duga


__ADS_3


Surti terbangun dari mimpi yang menyelimuti kala kerongkongannya terasa begitu kering. Ia mengerjapkan mata, berupaya untuk meraih kesadarannya. Wanita itu menggeser sedikit tubuhnya untuk mengambil posisi duduk di tepian ranjang. Dahinya berkerut kala menyadari bahwa Dinda tidak ada di kamar ini.


"Ke mana Dinda? Mengapa tiba-tiba menghilang?"


Surti bangkit dari posisi duduknya, melangkahkan kaki menuju dapur mencari air minum untuk sekedar melepas dahaga. Kelopak mata yang masih terasa begitu berat tiba-tiba terbuka lebar kala dari tempatnya berdiri melihat sosok bayangan laki-laki yang tubuhnya berbalut hoodie warna dongker. Lelaki itu berdiri tepat di pintu kaca yang menjadi sekat antara balkon dan ruangan bagian dalam.


"Siapa lelaki itu dan apa yang akan dilakukannya? Mengapa dia membawa spatula? Apa mungkin dia den Erlan? Tapi sepertinya tidak mungkin. Den Erlan tidak pernah memakai hoodie saat pulang kerja. Aahhhh .. dia menggunakan kupluk hoodie nya. Jadi aku tidak tahu itu siapa?"


Kedua bola mata Surti semakin terbelalak lebar saat melihat si lelaki melangkahkan kaki untuk menuju balkon dan mulai mengayunkan spatula yang ia pegang.


"Hah, Dinda?!"


Dengan cepat kilat Surti menyambar raket pembasmi nyamuk yang ada atas sofa. Seakan berpacu dengan waktu, wanita paruh baya itu bergerak cepat untuk bisa segera menimpuk lelaki yang ia anggap akan melukai Dinda. Dan...


Satu....


Dua .....


Tigaaaa.....


"Dasar pencuri. Rasakan ini!!"


Plak... Plak... Plak...


"Aaaahhhhhh .... sakittt!!!!"


Tubuh Dinda berjingkat saat mendengar suara pekikan dari balik punggungnya. Ia berbalik badan dan terlihat sosok seorang laki-laki dalam posisi jongkok dan menenggelamkan kepalanya di sela lutut.


"Dasar pencuri. Jangan kira aku takut ya. Ayo tunjukkan wajahmu! Akan aku seret kamu ke kantor polisi karena sudah berniat jahat di rumah ini!"


Seakan tidak merasa takut sama sekali, Surti berteriak lantang ke arah lelaki yang ia anggap sebagai pencuri. Bahkan, ia masih menimpuk kepala si lelaki dengan raket nyamuk yang ia bawa.

__ADS_1


"Adduduuhh ... sakit Mbok. Kenapa mbok Surti menimpuk aku?!"


Surti terhenyak kala mendengar suara yang begitu familiar di telinga. Bibirnya menganga lebar kala ia menyadari akan satu hal. Ia berjongkok untuk melihat secara langsung wajah lelaki ini.


"Ya Allah ... ini den Erlan? Astaghfirullah, maaf, maaf Den, Simbok tidak tahu!"


"Aaahhhh ... sakit Mbok, punggung dan kepalaku!"


"Aduhh, maaf ya Den." Surti mencoba untuk menegakkan tubuh Erlan. Namun sebelumnya ia mendongakkan kepala, menatap Dinda yang sepertinya belum begitu paham dengan apa yang terjadi. "Din, ayo bantu Simbok memapah den Erlan. Dia ini majikan kamu!"


Sadar bahwa lelaki yang ditimpuk oleh Surti adalah sang majikan, Dinda ikut membantu wanita paruh baya ini untuk memapah Erlan. Dua wanita beda generasi itupun saling bahu membahu untuk mendudukkan Erlan di atas sofa.


"Ya Allah Den, Simbok minta maaf ya. Simbok tidak tahu kalau ini adalah den Erlan. Habis tidak biasanya den Erlan memakai hoodie seperti ini. Simbok kira maling yang ingin melukai Dinda!" ucap Surti dengan wajah pias dipenuhi oleh rasa bersalah.


"Justru aku itu mau menimpuk penyusup, Mbok. Ada wanita asing di apartementku."


Surti terkejut. "Penyusup? Maksud den Erlan perempuan ini?"


Erlan mengangguk pelan. "Iya, dia ini penyusup kan?"


"Ya ampun Den, dia ini Dinda. Asisten rumah tangga yang akan menggantikan Simbok."


Dahi Erlan mengernyit sembari menatap wajah pengganti mbok Surti ini. "Jadi kamu asisten rumah tangga yang baru?"


"Iya Tuan, saya Dinda. Maaf jika sudah membuat suasana tidak nyaman dan keributan."


Erlan membuang napas kasar. Gegas, laki-laki itu bangkit dari posisi duduknya. "Seharusnya kamu kabari aku terlebih dahulu kalau sudah sampai di sini. Bisa kan WA aku dulu? Jadi aku tahu kalau ada penghuni baru di apartement ini. Kalau begini, aku malah yang kena apesnya kan?"


Tanpa banyak bicara lagi Erlan berlalu pergi meninggalkan Dinda dan juga Surti. Ia terus memegangi kepalanya yang masih berdenyut nyeri setelah ditimpuk oleh Surti. Tak selang lama, lelaki itu hilang di balik pintu kamar.


Surti dan Dinda masih berada dalam mode melongo melihat sikap Erlan. Terlebih Dinda yang berusaha keras untuk memahami maksud ucapan sang tuan muda.


"Mbok...?"

__ADS_1


"Ya Din?"


"Bagaimana caranya aku bisa menghubungi tuan muda Erlan kalau nomor ponsel yang aku tahu saja hanya milik mbok Surti?"


Surti menoleh ke arah Dinda sembari tergelak lirih. "Entahlah Din, Simbok juga tidak paham bagaimana caranya. Tapi seingat Simbok, Simbok sudah mengirim pesan ke den Erlan untuk memberitahu bahwa kamu sudah tiba di Jakarta."


Dahi Dinda berkerut. "Benarkah seperti itu Mbok? Tapi, mengapa tuan Erlan sampai tidak tahu?"


Surti mengendikkan bahu. "Entahlah Din, Simbok juga tidak paham. Sudah, tidak perlu kamu pikirkan. Kita kembali ke kamar yuk. Istirahat."


Mengingat sudah terlalu larut malam, Surti mengajak Dinda untuk beristirahat. Ia berpikir, mulai besok pekerjaannya akan sedikit lebih berat karena harus men-training Dinda sebagai asisten rumah tangga yang baru.


"Tapi bagaimana dengan den Erlan Mbok? Aku takut kalau sampai den Erlan murka hanya karena aku berbuat kesalahan."


Dinda memijit pelipisnya. Belum mulai bekerja saja sudah ada satu kesalahan yang ia buat. Tiba-tiba saja ingatannya tertuju pada cerita pak Dirman tentang salah satu karyawan yang digantung di atas pohon setelah ketahuan korupsi. Hal itulah yang membuat Dinda semakin bergidik ngeri.


Surti menepuk pundak Dinda. Bahkan ia pun tergelak untuk meredam rasa cemas yang dirasakan oleh Dinda. "Sudahlah Din, tidak perlu kamu pikirkan. Anggap saja den Erlan sedang PMS jadi sedikit sensitif. Sudah, ayo kita kembali tidur. Ingat, besok kamu sudah harus mulai bekerja!"


Pada akhirnya dua wanita itu melangkahkan kaki untuk kembali masuk ke dalam kamar. Sedangkan di salah satu kamar yang ada di apartement ini, nampak seorang laki-laki yang masih sibuk berjibaku dengan kepalanya yang terasa nyeri. Lelaki itu tiada henti mengusap-usap kepala.


"Ternyata wanita itu yang akan menggantikan mbok Surti. Mengapa masih terlihat muda sekali? Apa aku tega mempekerjakannya sebagai asisten rumah tangga? Jangan-jagan kalau pak Arist Merdeka Sirait bertandang kemari dikira aku mengeksploitasi anak di bawah umur?"


Setelah ditimpuk dengan raket pembasmi nyamuk oleh Surti, otak Erlan justru semakin absurd. Bahkan sampai ketua Komnas Perlindungan Anak ia seret masuk ke dalam pikirannya. Yang bisa dipastikan tidak ada hubungannya sama sekali.


"Haduuhhh ... sepertinya otakku aku mulai error setelah ditimpuk oleh mbok Surti. Lagipula untuk apa aku terlalu memikirkan wanita itu? Yang penting dia bisa bekerja dengan baik dan benar kan?"


Merasakan tubuhnya yang lelah dan kepala yang begitu pening, Erlan merebahkan tubuhnya di atas pembaringan. Tanpa berganti baju, tanpa mencuci tangan, mencuci kaki, mencuci muka terlebih dahulu, lelaki itu mulai merajut mimpi.


.


.


. bersambung...

__ADS_1


Hayooooo ... siapa yang menebak bahwa yang kena timpuk adalah Dinda? Ternyata malah Erlan sendiri. Hihihihi... tuan muda yang apesπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2