Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 65. Tiket Honeymoon


__ADS_3


"Papa!"


Erlan yang membukakan pintu apartemen sedikit terkejut saat melihat sosok sang ayah sudah bertandang di kediamannya sepagi ini.


Barata hanya tersenyum tipis sembari menyilangkan lengannya di dada diberondong oleh beberapa pertanyaan oleh putranya ini.


"Apakah kamu tidak mempersilakan Papa untuk masuk terlebih dahulu? Tidak sopan sekali!"


"Baiklah, mari silakan masuk Pa!"


Erlan memandu Barata untuk menuju sofa. Dan di sofa mewah apartement ini, keduanya duduk saling berhadapan dan berbincang.


"Hmmmm... keren juga penataan apartemen milikmu ini. Dan terlihat lebih rapi juga bersih," puji Barata sembari memindai pandangannya ke arah sekeliling. "Kamu belum mau berangkat?" tanyanya pula kembali menatap Erlan.


"Sebentar lagi Pa. Ini sedang mempersiapkan file-file untuk bertemu dengan relasi," jawabnya dengan memperlihatkan beberapa map di tangan. "Oh iya, tumben Papa pagi buta seperti ini sudah datang kemari, ada apa?"


Barata menyunggingkan senyum. Ia merogoh sesuatu yang terselip di saku jas yang ia kenakan. Ia keluarkan ponsel dari dalam sana. "Sekretatisku memberi kabar bahwa lusa adalah jadwal keberangkatanmu dan juga istrimu ke Labuan Bajo. Bagaimana? Kalian sudah siap kan?"


"Astaga, lusa?"


Erlan terperanjat dengan mata yang terbelalak dan bibir menganga lebar. Entah apa yang terjadi dengannya, sampai membuat ia lupa akan tiket pesawat yang diberikan oleh sang papa di hari pernikahannya.


Dahi Barata berkerut dalam dengan kelopak mata yang menyipit. "Iya lusa. Kenapa Lan? Jangan katakan bahwa kalian lupa perihal tiket pesawat itu!"


Erlan tersenyum kikuk seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Karena pada dasarnya ia benar-benar lupa dengan tiket pesawat itu.


"Maaf Pa, aku benar-benar lupa. Tiket itu hanya aku simpan begitu saja di laci nakas. Tanpa aku chek kapan waktu keberangkatannya."


"Ckckkckkkckk ... kamu ini benar-benar tidak menghargai Papa ya Lan?" ujar Barata sembari berdecak kesal. "Dan jangan katakan kalau lusa kamu tidak bisa mengambil cuti selama satu minggu untuk honeymoon ke Labuan Bajo?" sambung Barata mengintimidasi.


Erlan semakin menunduk dalam. Karena pada dasarnya, ia memang tidak bisa mengambil cuti. "Itu memang benar Pa, aku tidak bisa mengambil libur untuk honeymoon. Aku ada pekerjaan yang tidak bisa untuk aku tinggal."


"Astaga, apa-apaan kamu Lan? Kamu ini kan pemilik perusahaan, bagaimana mungkin kamu tidak bisa mengambil libur di perusahaanmu sendiri?" protes Barata sedikit gemas dengan alasan yang dilontarkan oleh sang putra. Dia sebagai pimpinan perusahaan tapi sudah seperti karyawan saja yang tidak bisa mengambil libur.

__ADS_1


"Bukan begitu Pa. Tapi ini kebetulan Joni yang mengajukan cuti selama dua minggu pulang kampung untuk mengurus ayahnya yang sedang sakit. Oleh karena itu, saat ini aku yang harus meng-handle sendiri perusahaan."


Barata menghembuskan napas sedikit kasar sembari memijit-mijit pelipis. Ia tidak paham harus mencari jalan keluar seperti apa.


"Lalu sekarang bagaimana? Masa tiket pesawat dan hotel yang sudah Papa siapkan dibatalkan begitu saja? Sayang sekali Lan!"


"Loh, ada Papa?" teriak Jenica yang baru saja keluar dari kamar.


Setelah gagal mengajak Erlan untuk bercinta, Jenica bergegas masuk ke kamar mandi. Berendam di bath-up dengan segudang pertanyaan yang menyelimuti hati. Ia masih teramat heran dengan sikap Erlan yang tiba-tiba berubah. Awalnya suaminya itu terlihat begitu berhasrat untuk bercinta. Namun pada saat mencumbu, tiba-tiba ia membatalkannya begitu saja.


Pandangan Barata mengedar ke arah sang menantu yang terlihat begitu seksi dengan pakaian yang dikenakannya itu. "Iya Jen, baru saja Papa sampai."


Jenica mengulas sedikit senyumnya. Ia daratkan bokongnya di samping Erlan. Sedang Erlan hanya acuh tak acuh melihat kedatangan istrinya ini. Ia seakan masih terlihat menyimpan sesuatu yang tidak mengenakkan dalam hati. Namun tidak ada yang tau apa itu.


"Sedang membahas apa Pa? Kok terlihat asyik sekali."


"Sedang membahas tentang tiket bulan madu yang Papa berikan ke kalian. Eh, tahunya Erlan tidak bisa libur."


"Apa benar seperti itu Sayang? Masa iya kamu tidak bisa libur? Kita belum bulan madu loh Sayang. Ayolah ambil libur saja. Lagipula kasihan Papa kan kalau kita tidak menggunakan kesempatan itu? Itu sama artinya kita tidak menghargai Papa," ujar Jenica panjang lebar.


"Terus gimana? Tidak mungkin kan kalau kita tidak berangkat ke Labuan Bajo?"


Erlan masih terdiam dan membisu. Ia nampaknya tengah memikirkan sesuatu. Hingga ia pun menyunggingkan sedikit senyumnya.


"Bagaimana kalau kamu saja yang berangkat ke Labuan Bajo, Jen? Bukan honeymoon tapi liburan. Lumayan kan bisa kamu jadikan untuk melepas penat?"


Jenica terhenyak. "Apa? Jangan mengada-ada kamu Lan? Masa iya aku pergi sendiri. Tiket pesawat yang dipesan Papa ada dua Lan."


"Itu bukan masalah serius!" jawab Erlan santai. Lagi-lagi senyum tipis terbit di bibirnya. "Kamu bisa pergi bersama Dinda. Dengan begitu, kamu tidak sendirian."


"Jangan bercanda kamu Lan!" pekik Jenica sedikit terkejut dengan usul dari sang suami. "Masa iya aku harus pergi bersama pembantu itu. Tidak level tahu!" sasmbungnya dengan bibir mencebik seakan jijik dengan Dinda.


Erlan mengedikkan bahu dan mengangkat sebelah bibirnya. "Ya mau bagaimana lagi? Daripada tiket itu sia-sia kan?"


"Tapi Lan..."

__ADS_1


"Aku rasa ide yang dikemukakan oleh Erlan tidak begitu buruk. Benar, kamu berangkat dengan Dinda saja daripada sia-sia," pangkas Barata sependapat dengan Erlan.


"Dinda!" teriak Erlan memanggil asisten rumah tangganya ini. Tak selang lama, Dinda muncul dari arah dapur.


"Iya Tuan?"


"Duduklah Din!"


Meskipun sedikit canggung, duduk bersama kumpulan para majikan, namun Dinda hanya bisa menuruti kemauan Erlan. Dinda mendaratkan bokongnya di sofa yang masih kosong.


"Ada apa ya Tuan?"


"Begini Din, lusa kamu liburan ke Labuan Bajo!"


"Hah, liburan? Liburan bagaimana maksud Tuan? Saya tidak paham," ucap Dinda dengan suara sedikit melengking.


"Tidak perlu memikirkan apapun Din. Lusa, kamu berangkat bersama istriku. Temani istriku selama berada di sana. Dan liburan kali ini bisa kamu anggap sebagai bonus yang aku berikan untukmu."


"Tapi Tuan, saya baru satu bulan bekerja, apa pantas saya mendapatkan bonus itu Tuan?"


"Tidak masalah Din, terima saja daripada tiket yang aku belikan sia-sia." Barata kembali menatap wajah sang menantu yang memasang wajah yang sulit diartikan. "Oke ya Jen, lusa kamu berangkat bersama Dinda. Pastinya kalian hanya tinggal berangkat dan nikmati semua yang ada di sana. Dan kembali ke Jakarta dalam keadaan fresh."


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Jenica. Mau tidak mau ia harus menyetujui rencana Erlan ini. "Baiklah Pa, aku akan berangkat bersama Dinda!"


"Bagus, itu artinya apa yang Papa berikan tudaklah sia-sia!"


Jenica melirik ke arah Erlan yang bahkan suaminya itu sama sekali tidak mau melirik ke arahnya. Lelaki itu justru lebih fokus kepada ponsel di tangannya. Namun tiba-tiba saja wajah Jenica memancarkan binar kebahagiaan. Senyum manis terbit di bibir tipisnya.


.


.


. bersambung...


Mohon maaf baru sempat update ya Kak.. hehehe sedang tidak enak badan ☺☺☺ Terima kasih banyak masih setia mengikuti cerita ini ya Kak. Salam love, love, love🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2