
Awas saja kamu, Sony.. Kalau sampai kamu menipuku, akan aku kejar kamu sampai ke lubang kubur sekalipun. Aku tidak terima kamu tipu seperti ini!! Jan*cuuukkkk
Umpatan demi umpatan layaknya lirik lagu yang mengalun merdu dalam hati Bayu. Sejak tersadar bahwa dia akan mengalami nasib yang sama dengan sang ibu, ditipu oleh sahabatnya sendiri, lelaki itu tiada henti mengumpat di dalam hati. Bahkan sumpah serapah juga sempat ia layangkan untuk Sony.
Sony memacu motor maticnya dengan kecepatan penuh. Meski jalanan terlihat sedikit ramai di siang hari ini, namun lelaki itu tetap tidak acuh. Api amarah seakan berkobar dalam jiwa hingga membuat dadanya begitu sempit dan terasa penuh. Saat ini, tidak ada satupun yang bisa membuat amarahnya meluluh.
Lima belas menit berada di jalanan beraspal, pada akhirnya Bayu tiba di kediaman Sony. Sebuah kontrakan kecil di mana cat dindingnya sudah usang dimakan oleh masa. Masih nangkring di atas motor, Bayu memperhatikan keadaan sekitar. Sepi, sangat sepi. Persis bangunan tempat tinggal yang sama sekali tak berpenghuni.
Untuk memupus segala pertanyaan yang membelenggu jiwa, akhirnya ia turun dari motor. Dengan langkah kaki lebar, Bayu tiba di depan kontrakan milik Sony.
Brak.. . Braakk.. . Brakkkk!! !
Bayu mendobrak pintu kontrakan yang ada di hadapannya ini dengan kasar. Menunjukkan emosi yang berkobar, persis sebuah bensin yang disiram di atas api. Membesar dan sulit untuk dipadamkan.
"Son .. . Keluar kamu! Jangan terus bersembunyi. Meski kamu bersembunyi di lubang semut sekalipun, aku pasti dapat menemukan keberadaanmu!"
Brak.. . Brak.. . Brak!!
"Buka Son! Jangan coba-coba kamu mempermainkanku!"
Lagi, Sony kembali mendobrak pintu seraya berteriak lantang. Tidak ia pedulikan berada di mana saat ini dirinya. Meskipun berada di tempat yang begitu asing, namun lelaki itu tiada henti berteriak. Berharap si penghuni kontrakan segera menampakkan barang hidungnya.
"Mas ... Anda sedang apa? Mengapa mendobrak pintu kontrakan ini dan berteriak-teriak?"
Seorang wanita berusia empat puluh tahun, menghampiri Bayu yang sedang dikuasai oleh amarah itu. Seorang wanita yang sepertinya pemilik kontrakan ini.
Bayu mengedarkan pandangannya ke arah sumber suara. "Ibu siapa? Mengapa Anda ada di sini?"
__ADS_1
"Justru seharusnya pertanyaan itu yang saya tanyakan kepadamu, Mas. Anda ini siapa? Mengapa kamu mendatangi rumah ini dengan tidak menggunakan tata krama? Berteriak lantang dan mendobrak daun pintu?"
"Saya mencari penghuni kontrakan ini Bu. Kemana orangnya?"
Sedikit merasa lelah karena sudah berteriak-teriak, Bayu memilih untuk duduk di sebuah kursi yang terbuat dari rotan yang berada di teras ini. Kali ini, ia mencoba untuk mendengarkan penjelasan si ibu dengan kerudung cokelat yang membalut kepalanya.
"Maksud Anda, Sony?" tanya si Ibu memastikan.
Bayu mengangguk pelan. "Iya Bu, Sony. Apakah dia sedang bekerja?"
Wanita itu tergelak pelan, seperti mencibir pertanyaan Bayu. "Sony itu hanya penganguran yang lontang-lantung ke sana kemari yang memiliki hobi judi Mas. Jadi ia sama sekali tidak bekerja."
Bayu terhenyak. "Pengangguran? Bukankah dia adalah seorang pengusaha sukses di bidang advertising dan marketing ya Bu?"
"Hahahaha ... Advertising? Marketing?" Si Ibu menjeda tawanya dan menatap ke arah Bayu. "Marketing untuk menipu Mas. Sudah banyak korban yang ditipu oleh Sony. Penampilannya saja keren, tapi dia tidak lebih dari manusia dengan kasta rendahan."
"Ah, Ibu jangan mengarang cerita. Mana mungkin Sony lelaki seperti itu?"
"Percaya atau tidak, semua terserah pada diri Anda sendiri. Namun asal Anda tahu, Anda orang kesekian yang datang kemari untuk mencari keberadaan Sony dan hasilnya sia-sia."
Bayu semakin membelalakkan matanya. Perkataan si ibu sudah cukup menjadi bukti bahwa Sony memang seorang penipu.
Tapi, ketika kongkow bersamaku Sony yang lebih sering mengeluarkan uang. Uang darimana itu? Apa mungkin itu diambil dari uang modal yang akan aku gunakan sebagai modal berjudi?
Dahi si ibu sedikit mengernyit. Dia begitu heran karena tiba-tiba Bayu terlihat begitu hening, larut dalam pikirannya sendiri.
"Hei Mas. Mengapa malah melamun?"
Si Ibu dengan sengaja menepuk pundak Bayu hingga membuat tubuh lelaki itu sedikit terperanjat. "Eh, iya Bu? Ada apa?"
__ADS_1
"Jadi, maksud dan tujuan Anda datang kemari untuk mencari Sony itu dalam rangka apa? Jika Anda juga merupakan korban penipuan yang dilakukan oleh Sony, saya harap Anda bersabar untuk menjalani ujian hidup seperti ini. Sudah sejak satu minggu yang lalu Sony pergi dari kontrakan ini Mas. Bahkan uang sewa selama tiga bulan belum ia bayarkan sama sekali!"
Kata demi kata yang keluar dari bibir si ibu seperti sebuah tamparan yang mengenai pipi. Tiba-tiba saja tubuh Bayu serasa begitu lemas. Tulang dan sendinya seperti terlepas satu persatu. Dan lagi, kepalanya terasa begitu pusing.
Bayu tidak habis pikir bahwa apa yang menimpa sang ibu juga menimpanya. Ia yang sempat mengatakan bahwa sang ibu terlalu mudah untuk dibohongi, kini ia justru mengalaminya sendiri.
"Bu, apa Ibu bisa membantu saya untuk melaporkan Sony ke kantor polisi?"
Sekecil apapun peluang yang terpampang jelas di depan mata untuk bisa menemukan keberadaan Sony, akan diambil oleh Bayu. Ia merasa akan jauh lebih mudah untuk menemukan keberadaan Sony jika melalui pihak yang berwajib.
Mendengar perkataan Bayu membuat si ibu yang ternyata pemilik kontrakan ini terhenyak. Namun sesaat kemudian ia tertawa. "Hahahaha ... Anda ingin melaporkan Sony ke polisi?"
"Tidak ada yang salah kan Bu?"
"Jelas salah. Apakah Anda memiliki bukti hitam di atas putih bahwa uang yang dibawa oleh Sony itu milik Anda? Terlebih jika sampai polisi tahu, bahwa Anda menitipkan uang itu untuk dipakai sebagai modal judi online. Jika apes Anda malah bisa terseret kasus."
Bayu menunduk dalam. Terdiam, terpaku dan membisu. Sekali lagi ia dihadapkan oleh situasi yang begitu pelik seperti ini. Sudah berapa banyak harta yang ia miliki terbuang sia-sia hanya untuk memanjakan para penipu yang bersembunyi di balik gelar sahabat. Rumah sudah terjual untuk membayar ganti rugi para korban berlian Angelica. Uang pesangon dan sisa uang tabungan juga sudah habis setelah dibawa kabur oleh Sony.
"Tapi jika kita melaporkan ini bisa diproses kan Bu? Jadi, Sony bisa dijebloskan ke dalam penjara?" tutur Bayu yang seakan masih belum ikhlas jika sampai Sony belum masuk ke penjara.
"Bisa saja Mas. Tapi untuk kasus ini bukan kasus pidana melainkan perdata dan saya rasa akan jauh lebih ribet. Lagipula apa untungnya bagi Anda jika Sony mendekam di penjara dan sama sekali tidak bisa membuat uang Anda kembali? Hanya sebuah kesia-siaan bukan?"
Bayu mengacak rambutnya kasar. Ia menyenderkan punggungnya di sandaran kursi ia duduki. "Aaarrrgggghhh.... Lalu, sekarang saya harus bagaimana Bu? Sony membawa uang saya dua puluh juta yang merupakan pesangon dan sedikit tabungan saya."
Si ibu pemilik kontrakan hanya tersenyum simpul. "Yang perlu Anda lakukan hanya banyak-banyak merenung. Jangan mudah percaya dengan janji manis orang lain meskipun itu orang terdekat kita sendiri. Terlebih lagi, jangan mudah percaya akan cara instan untuk mendapatkan banyak uang. Indomie saja yang didaulat menjadi mie instan harus melalui proses perebusan terlebih dahulu sebelum bisa dinikmati. Apalagi perihal rezeki!"
.
.
__ADS_1
. bersambung..