Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 42. Dendam Pribadi?


__ADS_3


"Cepat Jon. Kasihan Dinda!"


Joni hanya bisa mendengus kesal saat bos nya ini tiada henti merongrongnya dengan kalimat cepat-cepat sampai unit apartement miliknya.


"Astaga Lan, kamu tidak lihat kalau saat ini kita sedang naik lift. Aku harus bagaimana untuk mempercepat pergerakan lift ini Lan?"


"Badanku pegal Jon!" keluh Erlan sambil melirik wajah asisten rumah tangganya yang tengah tak sadarkan diri ini.


Joni menggeser sedikit tubuhnya untuk bisa lebih dekat dengan Erlan. Ia pun mengulurkan kedua tangannya. "Sini, kasih ke aku!"


Erlan terhenyak. "Kasih ke kamu? Maksudnya?"


"Ya kalau kamu keberatan gantian aku yang membopong Dinda. Kamu bisa jalan tanpa beban."


"Eh, tidak, tidak, tidak. Bisa bahaya dia kalau ada di tanganmu. Bisa-bisa kamu mengambil kesempatan untuk.... "


Tinggg...


Lift berbunyi, tak selang lama pintu terbuka dan Erlan bergegas untuk membawa wanita ini sampai di unit apartemen miliknya. Sedangkan Joni hanya bisa melongo melihat polah tingkah calon pengantin itu.


Ada apa dengan Erlan. Dia terlihat panik sekali melihat asisten rumah tangganya itu pingsan. Raut wajahnya juga terlihat berbeda. Bukan hanya rasa cemas tapi ... ah, apa-apaan kamu Jon. Tidak mungkin Erlan mempunyai perasaan lain terhadap Dinda. Dia kan mau menikah.


Tak ingin terjebak dalam prasangkanya sendiri, Joni ikut mengambil langkah kaki lebar untuk mengikuti Erlan.


"Mbok, Mbok Surti. Tolong Mbok, Dinda pingsan!"


Teriakan Erlan menggema memenuhi sudut-sudut ruangan. Membuat Surti yang baru saja selesai mengerjakan sholat Isya terkejut setengah mati. Wanita paruh baya itu bangkit dari posisinya dan menghampiri ke arah sumber suara.


"Ya Allah Den, ini Dinda kenapa? Mengapa bisa pingsan seperti ini?"


Erlan meletakkan tubuh Dinda di atas sofa saat rasa pegal mulai menyergap. "Entahlah Mbok, aku juga tidak tahu. Memang Dinda dari mana Mbok, kok naik ojek online?"


Dahi Surti sedikit berkerut, tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh majikannya ini.


"Keluar? Dinda ini baru pulang, Den."


"Apa? Jadi, sejak tadi Dinda belum sempat pulang Mbok?"

__ADS_1


Surti menggelengkan kepala. "Belum Den. Dinda pulang ya pas dibopong den Erlan ini."


"Wah, itu berarti calo istrimu tega Lan. Membiarkan Dinda pulang naik ojek online," timpal Joni memberikan sebuah pendapat.


Sejenak, Erlan menelaah apa yang diucapkan oleh asisten pribadinya ini. Apa mungkin Jenica tega melakukan hal itu. Tapi jika memang benar, lantas kenapa Dinda bisa pingsan seperti ini? Bukankah naik ojek online tidak akan membuatnya kelelahan.


Perhatian Erlan kembali tertuju pada wanita yang tengah pingsan ini saat kedua bola matanya bergerak meskipun kelopaknya masih tertutup. Benar saja, tak membutuhkan waktu lama, Dinda bangun dari pingsannya.


"Loh, ini ada apa? Mengapa semua berkumpul di sini?"


Tenaga wanita ini seakan terkuras habis sampai suaranya pun terdengar lirih. Ingin rasanya ia menggeser tubuhnya, mengambil posisi duduk. Tapi sayang, rasanya begitu tidak kuat.


"Seharusnya kami yang bertanya kepadamu. Mengapa kamu bisa pulang naik ojek dan kenapa kamu bisa pingsan?" timpal Erlan yang nampaknya ingin segera mendengar penjelasan dari Dinda.


"Tadi saya diturunkan di pinggir jalan oleh non Jenica, Tuan. Katanya, non Jenica ada urusan mendadak jadi saya diminta untuk pulang naik ojek online saja."


"Lalu, mengapa kamu bisa pingsan seperti ini Jen?"


"Saya ..."


Krucuk... krucuk... krucuukkkk..


"Astaga, Dinda ini kelaparan Lan. Kamu dengarkan bunyi perutnya?" ujar Joni begitu yakin bahwa Dinda memang kelaparan.


Erlan sedikit terhenyak saat mendengar bunyi perut asisten rumah tangganya ini. Baru kali ini, ia mendengar bunyi perut yang begitu nyaring.


"Kamu lapar Din?" Kini giliran mbok Surti yang melontarkan tanya kepada Dinda.


Dinda hanya menundukkan kepala seraya mengangguk pelan. "I-iya Mbok, saya lapar sekali."


"Ya ampun, kamu ini seharian pergi sama non Jenica, apa tidak diberi makan?" sambung Surti sedikit gemas.


Dinda hanya terdiam. Ia sedikit melirik ke arah Erlan yang pada saat itu Erlan juga sedang menatapnya. Ingin rasanya ia menceritakan apa yang ia alami. Namun, ia khawatir jika sampai apa yang diucapkan menjadi masalah antar sang majikan.


Diamnya Dinda sudah cukup membuat Erlan mengerti bahwa sang kekasih memang tidak membelikan makanan untuk Dinda. Ia pun hanya bisa membuang napas kasar.


"Ya sudah Mbok, sekarang buatkan Dinda makanan ya. Sepertinya tubuh Dinda memang lemas sekali," pinta Erlan kepada mbok Surti.


"Eh tapi Tuan, biar saya yang memasak sendiri."

__ADS_1


"Sudahlah Din. Untuk kali ini biar Simbok yang membuat makanan untukmu. Kamu istirahat saja."


"Terima kasih Mbok."


"Sama-sama. Kamu sedang tidak enak badan. Sudah seharusnya Simbok yang membuatkan makanan untukmu."


Surti berjalan menuju dapur, membuat makan malam untuk Dinda. Sedangkan Erlan memilih untuk masuk ke dalam ruang kerjanya yang diikuti oleh Joni. Namun sebelum Joni mengekor di balik punggung sang bos, ia terlebih dahulu berdiri di depan Dinda.


"Semoga lekas sembuh ya Cantik. Lain kali kalau ada apa-apa hubungi kakak Joni saja. Dijamin akan siap siaga, oke?"


Dinda hanya tersenyum kikuk. Entah apa yang harus ia katakan untuk menanggapi perkataan asisten pribadi bos nya ini. Kepalanya hanya menunduk karena malu. Sedangkan Erlan yang mendengar gombalan si asisten hanya bisa mengurut-urut pelipis. Bisa-bisanya ia menggoda seorang wanita yang notabene bukan gadis melainkan istri orang.


"Kamu harus bertanya kepada Jenica perihal ini Lan. Masa setega itu calon istrimu terhadap Dinda?"


Sampai di ruangan Erlan, Joni mencoba mengeluarkan pendapatnya. Ia berpikir jika sikap Jenica memang sudah sangat keterlaluan. Membiarkan seorang asisten rumah tangga kelaparan.


"Aku tahu apa yang dilakukan oleh Jenica memang sudah sangat keterlaluan Jon. Tapi aku yakin jika Jenica memiliki alasan sampai menurunkan Dinda di pinggir jalan," ucap Erlan sembari menyenderkan punggungnya di kursi ergonomis miliknya.


"Ckkkckkk..," decak Joni. "Bukan perkara Dinda di turunkan di pinggir jalan Lan, tapi Dinda yang tidak dibelikan makanan atau minuman oleh calon istrimu," sambung Joni memperjelas.


Erlan terdiam. Tidak tahu harus merespon seperti apa ucapan asistennya ini. Hembusan napas sedikit kasar keluar dari bibir Erlan. Seakan melepaskan sesuatu yang terasa menyesakkan dada.


"Tidak mungkin kan kalau Jenica sampai kekurangan uang sampai tidak mampu untuk membelikan Dinda makanan dan minuman?" cerca Joni meminta jawaban.


"Jelas tidak mungkin Jon, aku bahkan memberikan uang lebih untuk Jenica selain uang lima puluh juta yang akan digunakan untuk membeli keperluan seserahan. Aku tambah sepuluh juta lagi untuknya."


"Cckkcckkkk ... kalau seperti itu, calon istrimu itu benar-benar kebangetan Lan. Atau mungkin dia ...."


Erlan yang sebelumnya menatap langit-langit ruangan kini ia geser untuk menatap wajah Joni.


"Mungkin apa Jon?"


"Jangan-jangan Jenica memiliki dendam pribadi sama Dinda Lan?"


"Apa?"


.


.

__ADS_1


. bersambung


__ADS_2