Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 49. Detak Jantung


__ADS_3


Jarum jam terus bergeser ke arah kanan. Menelan waktu yang semakin lama semakin mendekati pukul delapan. Jenica, Wirabuana, Sukma dan Agra nampak masih berada di jalanan. Sekuat tenaga Wirabuana yang memegang kemudi, mencoba untuk bisa segera terbebas dari kemacetan.Namun apalah daya, semua terasa sangat sulit untuk ditaklukkan.


"Aduhh Pa, lebih cepat lagi dong bawa mobilnya. Ini Jenica sudah sangat terlambat!"


Jenica tak ada henti-hentinya menuntut sang papa untuk menambah kecepatan. Padahal percuma saja, berapapun kecepatan mobil yang ditumpangi tidak akan memberikan pengaruh yang signifikan. Karena barisan-barisan mobil di depan sana juga seperti seekor siput yang berjalan.


"Kamu ini banyak bicara Jen! Lihatlah, jalanan macet, bagaimana bisa kita memakai kecepatan tinggi?" teriak Wirabuana yang sedikit kesal karena sejak dari rumah, putrinya ini mengomel saja.


"Aaaarrggghhhh ... kalau begini acara pernikahan Jenica akan gagal Pa. Kita semua akan gagal menjadi orang yang jauh lebih kaya!"


"Stop Jen, lebih baik kamu diam. Ini semua juga karena kamu yang bangun kesiangan. Seandainya saja semalam kamu tidak mengadakan pesta lajang pasti ini semua tidak akan terjadi!" timpal Sukma yang juga tak kalah gemas kepada sang anak.


"Loh Mama kenapa menyalahkan Jenica? Ini juga karena Mama. Kenapa Mama tidak memasang alarm atau mungkin Mama tidak usah tidur sekalian. Ini juga malah ikut kesiangan," protes Jenica yang tidak terima karena semua kesalahan dibebankan kepadanya.


Agra, yang sedari tadi hanya sebagai pendengar keributan antara Jenica dan orang tuanya ini berkali-kali mengurut pelipisnya. Perdebatan anggota keluarganya ini sungguh hanya membuat kepalanya terasa pusing sekali.


"Sudah, sudah, sudah. Ini kenapa malah pada ribut sendiri-sendiri sih?" teriak Agra untuk menghentikan perdebatan orang tuanya dengan sang adik. "Lebih baik kalian turun saja. Cari tukang ojek. Biar mobil ini Agra yang bawa. Asalkan semua tidak terlambat."


Agra memberikan sebuah usulan yang cukup masuk akal. Ia rasa, dengan menggunakan jasa tukang ojek bisa menekan peluang untuk terlambat. Usulan ini di sambut baik oleh Wirabuana dan yang lainnya.


"Ah, betul sekali katamu Gra. Oke, ayo Jen, Mah, kita turun. Kita cari tukang ojek!" titah Wirabuana.


Tanpa banyak berpikir, Jenica dan kedua orang tuanya mulai turun dari mobil. Dengan hati-hati mereka menuju ke tepian untuk mencari tukang ojek. Hingga, setelah sepuluh menit kemudian, mereka menemukan pangkalan tukang ojek. Tak ingin lagi membuang banyak waktu, mereka beriring-iringan menuju hotel di mana acara akan diadakan.


***


"Sempurna!"


Madam Rosebrand tiada henti menyunggingkan senyum lebar kala melihat sosok wanita yang ada di hadapannya ini. Setelah dua jam lebih ia memoles wajah wanita ini dengan amunisi yang ia bawa dan juga memberikan tatanan rambut yang begitu sempurna, akhirnya wanita yang ia anggap sebagai calon pengantin ini terlihat cantik luar biasa. Persis seperti ratu Cleopatra.


"Sekarang lihatlah ke depan Cin! Kamu benar-benar cantik, sangat-sangat cantik!" sambung Madam Rosebrand pula.


Dinda yang menjadi 'korban' keganasan amunisi Madam Rosebrand karena sebuah kesalahpahaman hanya bisa menunduk pasrah. Sebanyak apapun ia memcoba untuk memberikan penjelasan, tapi Madam Rosebrand tidak pernah mau tahu. Yang ia tahu, wanita pertama yang ia temui di ruang make up inilah calon pengantinnya.


"Ayo lihat ke depan Cin! Jangan menunduk seperti ini dong!"

__ADS_1


Pada akhirnya, Dinda menegakkan pandangannya. Ia menatap lekat ke arah cermin yang ada di hadapannya. Kedua bola matanya terbelalak sempurna kala melihat bayangan sosok seseorang wanita yang terpantul di sana.


"I-ini saya, Madam?"


Madam Rosebrand tergelak pelan sembari menepuk pundak Dinda. "Jelas, ini you. Bagaimana sempurna kan? Tinggal memakai kebaya, Eike yakin penampilanmu akan semakin sempurna. Ayo sekarang siap-siap memakai kebaya yang sudah dipersiapkan."


Dinda seakan terhipnotis oleh kecantikannya sendiri. Ia seakan melihat orang asing kala melihat pantulan bayangan yang ada di depannya. Sungguh, Madam Rosebrand ini benar-benar piawai dalam merias pengantin. Namun, ia terhenyak kala Madam Rosebrand mengatakan perihal kebaya.


"Madam, saya sudah membawa kebaya sendiri, jadi tidak perlu memakai kebaya yang sudah dipersiapkan."


Dahi Madam Rosebrand sedikit berkerut. "Loh, kebaya you sudah disiapkan oleh tim, Cinta. Itu kebaya yang sudah kamu pesaan satu bulan yang lalu. Kok malah membawa sendiri?"


"Karena saya bukan calon mempelai wanitanya, Madam. Saya ini hanya pembantu."


"Aduududuuhhh ... you ini sedari tadi merendah melulu, Cin. Baiklah, sekarang you mau memakai kebaya yang mana? Daripda pernikahan you gagal, lebih baik Eike ikut kemauan you saja."


Dinda berjalan ke arah sofa yang sebelumnya ia duduki. Ia raih sebuah paper bag yang di dalamnya terdapat kebaya yang secara khusus diberikan oleh Erlan.


"Ini Madam!"


Madam Rosebrand hanya membuang napas kasar. Sekilas ia melihat kebaya yang dibawa oleh calon pengantinnya ini. "Tidak terlalu buruk. Tapi apapun yang akan kamu pakai, aku yakin akan tetap membuatmu sempurna."


***


Sedangkan di ruangan lain, Erlan nampak terduduk lesu di atas sofa. Sedari tadi ponsel yang ia bawa tidak pernah lepas dari genggamannya. Menunggu kabar dari sang calon istri yang entah saat ini sudah sampai di mana.


Lelaki itu sudah terlihat rapi dengan jas warna putih yang membalut tubuh. Dengan pakaian ini, sungguh membuat aura ketampanan lelaki ini seakan bertambah berkali-kali lipat.


"Bagaimana Lan? Sudah sampai mana Jenica?"


"Kabar terakhir, dia dan keluarga terjebak macet di jalan Jon. Lalu mereka memutuskan untuk naik ojek. Dan sepertinya belum tiba di sini. Kalau sudah tiba pasti dia memberikan kabar."


Joni melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul delapan kurang dua puluh menit. Benar-benar mepet sekali.


"Aku tidak membayangkan jika pernikahanmu gagal karena kesiangan Lan. Lagipula calon istrimu itu mengapa bisa sampai kesiangan sih? Apa semalam dia tidak tidur? Terlebih keluarganya juga ikut kesiangan. Apa mereka tidak sungguh-sungguh dalam menyambut hari bahagia ini?"


Erlan hanya mengindikkan bahu. Sampai saat ini pun, ia juga belum tahu apa penyebab sang calon istri sampai bangun kesiangan.

__ADS_1


"Entahlah Jon, aku juga tidak paham. Jenica belum mengatakan apapun."


"Cckkcckkkk ... benar-benar menyepelekan Lan. Biasanya calon pengantin itu semalaman tidak bisa tidur karena begitu gugup untuk menyambut hari esok. Eh, ini malah kesiangan semua. Aku khawatir jika ini menjadi satu pertanda yang kurang baik tentang pernikahanmu dengan Jenica, Lan. Entah mengapa aku merasa bah....."


Cekleekkk...


"Hai tampan!"


Ucapan Joni terpangkas kala tiba-tiba dari balik pintu muncul sosok Madam Rosebrand yang terlihat begitu bahagia. Erlan dan juga Joni sama-sama menatap lekat wajah MUA ini.


"Adudududu .... ini calon pengantin mengapa wajahnya lesu seperti ini sih? Ayo ikut Eike, calon pengantinmu sudah siap!"


Erlan dan Joni sama-sama terperanjat. Tidak begitu paham dengan apa yang disampaikan oleh Madam Rosebrand. Terlebih Erlan, ada banyak pertanyaan yang bermunculan di kepala. Baru beberapa menit yang lalu, Jenica mengatakan tengah naik ojek. Ini kenapa tiba-tiba Madam Rosebrand mengatakan calon pengantin perempuannya sudah siap?


Ini sebenarnya ada apa? Apakah Jenica sengaja nge-prank aku atau bagaimana? Padahal di jam setengah tujuh tadi aku sama sekali belum melihat batang hidung Jenica.


"Maksud Madam siapa?" tanya Erlan pula.


"Aduduhhh ... ini calon-calon pengantinnya kenapa pada aneh semua sih? Kamu tiba-tiba hilang ingatan tentang nama calon pendampingmu. Sedangkan si cantik tadi mengatakan kalau dia itu bukan pengantinnya tapi pembantu. Sungguh aneh."


Madam Rosebrand berjalan mendekat ke arah Erlan. Tanpa basa-basi, ia menarik lengan tangan Erlan yang membuat lelaki itu terkejut setengah mati.


"Eh, eh, eh, aku mau dibawa ke mana Madam?"


"Sudah, jangan banyak berkata-kata. Akan aku pertemukan kamu dengan ratu Cleopatra!"


Dengan sekuat tenaga, Madam Rosebrand menarik lengan tangan Erlan. Tak selang lama, ia tiba di ruangan di mana menjadi tempat make up Dinda. Perlahan, Madam Rosebrand membuka kenop pintu dan....


"Taraaaaaa ... inilah calon pengantinmu, Tuan Erlan. Cantik bukan?"


Erlan menegakkan kepalanya. Tepat di hadapannya berdiri sosok wanita yang terlihat begitu cantik dengan riasan dan kebaya yang dikenakannya. Ia sedikit pangling dengan sosok wanita ini. Namun, ia tahu persis siapa sosok ini kala ia tersenyum manis di depannya.


Deg... deg.... deg....


Dinda....? Ya Tuhan, mengapa dia terlihat cantik dan anggun sekali? Dan ini kenapa? Kenapa jantungku berdetak tiada beraturan seperti ini?


.

__ADS_1


.


. bersambung..


__ADS_2