Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 78. Apes


__ADS_3

Di dalam pesawat, Jenica sibuk berselfie ria sembari sesekali berbalas chatt dengan Bara. Entah apa yang dirasakan oleh wanita itu, namun sedari tadi ia terlihat begitu bahagia.


Jenica melirik ke arah samping dimana terlihat Dinda yang sedari tadi diam saja. Bahkan wajahnya terlihat begitu pucat.


"Heh pembantu, ada apa denganmu? Mengapa kamu terlihat pucat seperti itu?"


Dinda menggelengkan kepala pelan. "Tidak apa-apa Nona. Saya hanya merasa sedikit pusing."


"Dasar kampungan, naik pesawat saja pakai pusing segala. Seharusnya kamu menolak untuk pergi ke Labuan Bajo kalau pusing naik pesawat."


"Saya sudah mencoba untuk menolak Nona, tapi tuan Erlan tetap meminta saya untuk ikut."


Bibir Jenica mencebik. Seakan memandang remeh pembantunya ini. "Halah, bisa-bisanya kamu saja itu. Bilang saja kamu itu aji mumpung. Mumpung ada kesempatan untuk pergi liburan."


"Bukan Nona, bukan seperti itu. Sungguh, saya sudah menolak tapi Tuan Erlan tetap memaksa."


"Cih, ternyata selain pandai memasang wajah melas kamu itu pandai bermain drama juga ya. Ingat, sampai di sana nanti, jangan sekali-kali kamu dekat denganku."

__ADS_1


Dinda terhenyak. Tidak begitu paham dengan apa yang diucapkan oleh Jenica. "M-maksud Nona bagaimana? Saya tidak mengerti."


"Ingat, sampai di sana silakan cari penginapan sendiri. Jangan sekalipun kamu berada di hotel yang sama denganku. Aku tidak ingin diganggu oleh siapapun. Terlebih kamu."


Ucapan Jenica sukses membuat rasa pening di kepala Dinda kian bertambah. Bahkan saat ini tidak hanya rasa pusing saja, perutnya juga seakan mual-mual. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana caranya berada di tempat asing sendirian tanpa ditemani oleh orang-orang yang ia kenal. Bayangan-bayangan buruk itupun semakin berkeliaran di dalam otak.


Bayang-bayang buruk itu seakan memaksa sesuatu yang berada di dalam perut Dinda ingin keluar. Dan tiba-tiba....


Hoeeekkk.. . . Hoeeekkkk.. . . Hoeeekkk.. .


"Dinda!!! Apa-apaan kamu?!!" bentak Jenica.


"Iuuuhhhh .... jijik sekali. Mengapa kamu bisa muntah seperti ini, hah? Dan ini lagi, mengapa muntah di atas pangkuanku?" geram Jenica saat melihat pakaiannya sudah dipenuhi oleh sesuatu yang dia rasa begitu menjijikkan.


"Saya minta maaf Nona!" ucap Dinda s


Teriakan Jenica yang terdengar begitu lantang memicu perhatian para penumpang lain. Bahkan ada sebagian dari mereka yang menatap sinis ke arah Jenica karena merasa terganggu. Hingga membuat salah satu pramugari menghampirinya.

__ADS_1


"Maaf Nona, bisakah Anda mengecilkan volume suara? Para penumpang lain merasa terganggu dengan teriakan Anda ini," tutur sang pramugari dengan lembut.


"Apa? Kamu melarangku untuk berteriak?" Jenica memperlihatkan pakaiannya yang sudah kotor itu ke arah sang pramugari. "Lihatlah, bajuku ini kotor karena muntahan dari dia. Bisa-bisanya kamu menyuruhku untuk tidak berteriak."


Sang pramugari menanggapi santai sanggahan dari Jenica. Bahkan ia masih bisa tersenyum manis.


"Itu bukanlah hal yang sulit, Nona. Nona tinggal ke toilet dan bersihkan di sana. Saya yakin semua akan kembali aman dan terkendali. Mari saya antarkan ke toilet."


Jenica mendengus kesal dengan bibir mencebik dan mengerucut. Ia bangkit dari posisi duduknya. "Aku bisa sendiri. Tidak perlu kamu antar."


Sebelum mengayunkan tungkai kakinya, Jenica menatap Dinda dengan penuh amarah. "Heh pembantu, ingat ya, urusan kita belum selesai. Awas saja kamu. Akan aku buat perhitungan denganmu."


Jenica melenggang pergi ke toilet sedangkan Dinda hanya menanggapi santai ancaman dari majikannya ini meskipun nyalinya juga sedikit menciut.


Eh, tapi kenapa setelah muntah badanku terasa jauh lebih enteng dan kepalaku juga tidak terasa pusing lagi ya.


.

__ADS_1


.


. bersambung...


__ADS_2