
"Mbak Maya!"
Selepas mengobrol banyak perihal sertifikat rumah milik Dinda, Bayu menyambangi kediaman Maya. Bermaksiat untuk mengajak wanita incarannya itu untuk mengunjungi pabrik kerupuk milik Sidiq yang akan ia akui sebagai miliknya. Dan ada yang berbeda kali ini. Hal itu karena kali ini Sonya ikut ke mana Bayu pergi.
"Mas, aku rasa saat ini jangan lagi panggil aku mbak. Panggil aku Maya saja. Aku rasa terdengar jauh lebih enak di telinga."
"Oh baiklah kalau begitu May, aku ikut katamu saja."
Maya tersipu malu. Dipanggil tanpa memakai embel-embel Mbak, serasa jauh lebih enak didengar dan terdengar lebih akrab juga dekat.
"Mas, ini siapa?" tanya Maya sembari menatap lekat wajah Sonya.
"Oh iya, kenalkan ini adalah ibuku May. Namanya Sonya," ucap Bayu memperkenalkan sang ibu.
"Ya Tuhan, ini ibumu Mas? Masih terlihat awet muda ya." Maya mengulurkan tangannya ke arah Sonya. "Saya Maya, Bu. Temannya mas Bayu."
Sonya tersenyum lebar. Bak mendapatkan durian runtuh, wanita paruh baya itu terlihat begitu bahagia karena awal berjumpa dengan Maya, ia mendapatkan sinyal yang bagus.
"Saya Sonya, Nak. Ibu Bayu." Sonya menyambut uluran tangan Maya dan menjabatnya dengan erat. "Pantas saja, putraku akhir-akhir ini terlihat begitu bahagia. Ternyata mengenal wanita secantik nak Maya ini. Dan benar ya kata orang, kalau kita berteman dengan orang cantik pasti akan mendapatkan aura yang bagus. Itu semua juga terjadi pada putraku. Akhir-akhir ini aura yang keluar terlihat begitu bersinar," ujar Sonya panjang lebar dan dirasa sungguh sangat berlebihan.
"Ah Ibu ini bisa saja. Saya jadi malu," timpal Maya dengan menunduk malu.
__ADS_1
"Tapi memang benar Nak, kamu berbeda jauh dari istri Bayu. Bagaikan langit dan bumi. Jika istri Bayu perangainya lebih sering mengeluarkan aura negatif, sedangkan aura kamu terasa begitu positif. Pantas saja, Bayu selalu berbahagia!"
"Ah Ibu, sudah dong Bu. Kalau seperti itu bisa-bisa saya menjadi besar kepala karena dipuji." Maya menarik lengan tangan Sonya dan ia ajak untuk masuk ke dalam rumah. "Mari silakan masuk Bu, Ibu saya juga sudah menunggu di dalam. Akan saya kenalkan Bu Sonya dengan ibu saya."
Bayu dan Sonya saling melempar pandangan. Keduanya sama-sama tersenyum simpul. Mungkin dalam hati dan juga benak mereka, keduanya sama-sama berbahagia karena mendapatkan sambutan yang baik dari keluarga Maya.
Tunas-tunas rasa bahagia juga ketakjuban memenuhi ruang-ruang di hati Sonya. Wanita yang sedang bernasib blangsak itu teramat takjub kala melihat rumah besar, mewah dan megah milik keluarga Maya ini. Seketika jiwa-jiwa sosialitanya meronta agar bisa segera terwujud semua impiannya untuk kembali menjadi orang kaya.
Maya benar-benar kaya. Kalau seperti ini jelas hartanya tidak akan habis tujuh turunan. Ini baru rumah yang ia tinggali, bagaimana dengan aset-aset pribadi lainnya. Seperti tanah, mobil-mobil mewah dan juga tabungan, deposito, emas, berlian. Ah ... Bayu benar-benar beruntung bisa kenal dengan keluarga konglomerat seperti ini.
"Nah Bu Sonya perkenalkan, ini adalah Ibu saya. Namanya bu Kartina."
"Saya Sonya, Bu. Ibu Bayu. Maaf jika kedatangan saya ke sini mengganggu waktu bu Kartina."
Kartina hanya menggeleng pelan. "Ah, tidak Bu. Saya malah justru merasa senang karena Anda datang kemari. Oh iya, mari silakan duduk!"
Sonya menurut. Ia daratkan bokongnya di salah satu sofa empuk milik Kartina.
"Jadi begini Bu, saya sudah mendengar cerita Maya tentang nak Bayu namun dalam benak saya masih ada beberapa pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Sebenarnya hubungan nak Bayu dengan istrinya itu bagaimana?"
Kartina langsung berbicara to the point. Melihat Maya yang sudah dekat dengan Bayu dan sang cucu yang juga sudah begitu ketergantungan dengan Bayu, membuat Kartina tidak mau berlama-lama lagi.
__ADS_1
Sejenak Sonya melirik ke arah Bayu dan sang anak pun hanya mengangguk pelan. Sonya bersyukur karena sebelumnya Bayu sudah banyak bercerita tentang apa-apa saja skenarionya.
Mendadak Sonya menundukkan wajahnya. Entah datang dari mana namun tiba-tiba saja air mata wanita itu berkumpul di pelupuk mata dan menetes pelan.
"Saya benar-benar kasihan dengan anak saya ini Bu. Selama menjadi suami, ia sama sekali tidak pernah dihargai oleh menantu saya. Hasil keringat yang didapatkan oleh anak saya selalu saja diremehkan. Bahkan, karena merasa kurang, menantu saya memilih untuk bekerja di luar negeri menjadi TKW. Dan itu dilakukannya hanya untuk menuruti ambisinya sebagai orang berada."
"Lalu, untuk pernikahan nak Bayu dengan istrinya bagaimana Bu?"
Sonya mengusap air matanya menggunakan tisu yang ia bawa. Ia menghela napas panjang dan ia hembuskan perlahan. Isak tangis itu lirih terdengar.
"Beberapa waktu yang lalu putra saya sudah menalak istrinya Bu. Itu semua karena menantu saya memaksakan Bayu untuk menceraikannya. Oleh karena itu, beberapa hari yang lalu, melalui sambungan telepon, putra saya menceraikan istrinya."
"Jadi, saat ini status nak Bayu sudah menjadi duda Bu?" tanya Kartina meminta ketegasan.
Sonya mengangguk mantap untuk bisa memupus keraguan yang ada di hati calon besannya. "Iya Bu, putra saya sudah menduda!"
.
.
. bersambung...
__ADS_1