Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 80. Mengintai


__ADS_3

Tok... Tok... Tok...


Suara pintu yang diketuk dari luar membuat tubuh Jenica sedikit terperanjat. Sampai-sampai membuat ia yang tengah mengaplikasikan lipstik di bibir, sedikit belepotan. Meskipun sempat membuatnya kesal, namun tiba-tiba senyum manis terbit di bibirnya. Ia ingat jika sang kekasih gelap akan mendatanginya. Setelah membersihkan lipstik yang belepotan, ia pun bergegas membukakan pintu.


"Hai Honey!"


Mengenakan pakaian khas seseorang yang akan berlibur di pantai, Bara menyambut bahagia Jenica yang juga sudah siap dengan pakaian serba mini dan menggairahkan. Potongan tank-top warna putih dan hot pant warna biru dongker seakan membuat lelaki manapun yang ada di dekatnya ingin sekali mencicipi tubuh wanita itu. Tak terkecuali dengan Bara yang sudah begitu kecanduan dengan tubuh Jenica.


"Hai Sayang. Kita berangkat sekarang?"


Bara menggelengkan kepala seraya menatap wajah Jenica dengan tatapan genit. "Tidak Honey. Aku ingin menikmati makan siangku terlebih dahulu sebelum ke pantai."


"Makan siang?" tanya Jenica dengan kernyitan di dahi. "Oh, kalau begitu ayo kita restoran terlebih dahulu," ajak Jenica setelah paham bahwa kekasihnya ini sedang kelaparan.


Senyum seringai terbit di bibir Bara. Ia tergelak sembari merapatkan tubuhnya ke tubuh Jenica. "Bukan makan siang itu Honey. Tapi makan siang yang lain. Dua porsi daging sintal dan juga serabi lempit yang akan menjepit milikku.


Tanpa malu-malu tangan kiri Bara mer*emas dua buah melon yang menggantung di dada Jenica. Sedangkan tangan kanannya bergerilya ke bagian bawah. Hal itulah yang membuat Jenica merem melek dibuatnya. Merasakan sensasi rasa nikmat.


"Aaahhhhh ... Sayang...."

__ADS_1


Perbuatan Bara sukses membuat Jenica mende*sah. Bahkan mereka tidak merasa canggung meskipun keduanya masih berada di ambang pintu hotel. Tak ingin membuang banyak waktu, Bara merengkuh tubuh Jenica dan ia bopong untuk menuju ranjang.


Brakkk!!!!


Menggunakan kaki, Bara menghempaskan pintu hotel dengan kasar. Pintu yang sebelumnya terbuka lebar, kini tertutup rapat. Seakan menjadi penutup bagi sepasang kekasih gelap yang akan melakukan ritual terlarang meraka. Sehingga tidak ada seorang pun yang tahu ataupun mengendus perbuatan mereka.


Seorang laki-laki yang berdiri tak jauh dari kamar Jenica hanya bisa menatap apa yang lihat dengan tatapan nanar. Erlan, sudah sejak tadi ia mencari tempat yang ia rasa aman untuk melihat apa yang dilakukan oleh sang istri. Ternyata takdir berpihak kepadanya. Tanpa bersusah-payah mencari tahu, ia telah diberikan jawaban atas apa yang sebenarnya terjadi.


"Ternyata benar, bahwa Jenica telah bermain api di belakangku. Bahkan dia melakukan perselingkuhan itu di saat usia pernikahan kami baru berumur beberapa hari?"


Erlan mengepalkan tangan. Tidak ia sangka jika pernikahannya dengan sang istri dinodai oleh api perselingkuhan seperti ini. Emosinya seakan memuncak di atas ubun-ubun, namun ia berupaya keras untuk menahannya.


Erlan yang tengah fokus dengan pintu kamar yang ditempati oleh sang istri, dibuat terkejut oleh suara seseorang yang begitu familiar di telinganya.


"Dinda!"


"Saya membawakan softdrink pesanan Tuan," ucap Dinda sembari menunjukkan dua softdrink di tangannya. "Tuan mengapa berdiri dan bengong sendiri di tempat ini? Tuan baik-baik saja kan?"


"Aku sedang mengintai penghianat!" Erlan menjawab dengan singkat dan lugas.

__ADS_1


"Penghianat? Siapa Tuan? Apakah itu salah satu karyawan di kantor milik Tuan?"


"Bukan, dia bukan karyawanku di kantor. Tapi dia adalah istriku sendiri!"


Jawaban Erlan sungguh membuat Dinda terkejut setengah mati. Dia hanya bisa membelalakkan mata seraya bibirnya menganga lebar.


"M-maksud Tuan, non Jenica?"


Belum sempat dijawab oleh Erlan, sayup-sayup terdengar suara kenop pintu dari arah kamar Jenica. Tak ingin keberadaannya diketahui oleh sang istri, buru-buru ia menarik lengan tangan Dinda untuk bersembunyi. Benar saja, Jenica dan sang kekasih keluar dari dalam kamar dengan raut wajah yang berbinar. Dengan penuh kebahagiaan, mereka berjalan ke arah luar hotel untuk menuju pantai.


"Ikut aku Din!"


"K-kemana Tuan?"


"Menyaksikan perselingkuhan istriku!"


.


.

__ADS_1


. bersambung


__ADS_2