
"Kalau begitu, Om pulang dulu ya Lan. Terima kasih banyak karena untuk kesekian kalinya, kamu bersedia mengucurkan dana sebagai suntikan modal di perusahaan Om."
Wirabuana bangkit dari posisi duduknya. Wajah pria paruh baya itu memancarkan binar-binar bahagia. Karena pada akhirnya ia tidak harus dipusingkan oleh keadaan untuk mencari modal guna membeli armada. Sang calon menantulah yang menjadi tumpuannya.
Erlan menganggukkan kepala seraya tersenyum tipis. Ia juga ikut bangkit dari kursi ergonomisnya sebagai bentuk rasa hormat kepada sang calon mertua.
"Sama-sama Om, semoga apa yang saya lakukan benar-benar bermanfaat untuk perusahaan Om."
"Oh, itu sudah sangat jelas Lan. Kamu memang selalu menjadi malaikat penolong. Melihatmu yang royal seperti ini semakin membuatku percaya bahwa aku tidak salah memberimu restu untuk menikahi putriku, Jenica. Aku semakin percaya bahwa hidup Jenica akan selalu bahagia bersamamu."
Wirabuana tiada henti memuja dan memuji calon menantunya ini. Ia berpikir, semakin sering ia melontarkan pujian maka Erlan akan semakin berbahagia hati. Dengan seperti itu, tidak menutup kemungkinan jika calon menantunya ini akan semakin royal lagi.
Erlan hanya bisa tersenyum simpul. "Aamiin ... semoga saja memang seperti itu Om."
"Baiklah, malam sudah terlalu larut. Aku pamit pulang dulu!"
"Hati-hati Om, titip salam untuk keluarga."
Wirabuana mengayunkan tungkai kakinya. Keluar dari ruang pimpinan di mana pimpinan perusahaan besar ini adalah calon menantunya. Sekilas, ia mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling. Senyum manis pun terbit di bibir pria berusia paruh baya itu.
Takdir begitu indah menuliskan skenario hidup untukku. Tidak aku sangka jika calon menantuku adalah salah satu pengusaha muda yang sukses di bidangnya.
Perlahan, tubuh Wirabuana menghilang di balik pintu. Tak selang lama masuklah seorang lelaki yang berusia sebaya dengan Erlan. Lelaki itu hanya bisa menggeleng-gelangkan kepala melihat Erlan yang nampak duduk di kursi kebesarannya dengan ekspresi wajah tak terbaca.
"Minta uang lagi calon mertuamu itu?" tanya si lelaki dengan nada retoris. Tanpa bertanya pun sejatinya ia sudah tahu. Ia ikut mendaratkan bokongnya di kursi ergonomis yang sebelumnya diduduki oleh Wirabuana.
"Untuk membeli armada distribusi, Jon."
Joni, yang dipercaya Erlan untuk menjadi asisten pribadinya hanya bisa berdecak lirih. Sebagai seorang asisten, ia tahu betul apa-apa saja yang dilakukan oleh sang bos selama berada di kantor. Dan, kedatangan Wirabuana sudah cukup membuat Joni mengerti bahwa calon mertua Erlan ini meminta uang.
__ADS_1
"Beberapa bulan yang lalu dengan dalih biaya operasional. Sekarang untuk membeli armada distribusi. Aku benar-benar heran sama kamu Lan. Belum resmi menjadi mertuamu saja om Wirabuana sudah berkali-kali menjadikanmu sebagai ATM berjalan. Apa kamu tidak merasa aneh ataupun curiga?"
"Curiga perihal apa sih Jon?" tanya Erlan dengan kernyitan di dahi. Ia nampak jauh lebih keras dalam menelaah perkataan asistennya ini.
"Cckkckkkk ... Erlan, Erlan. Kamu ini terlalu polos atau terlalu baik sih? Apa kamu tidak curiga jika calon mertuamu itu justru sedang memanfaatkanmu? Maksudku memanfaatkan semua kekayaan yang kamu miliki?"
Erlan hanya bisa membuang napas kasar. Sejatinya ia sempat memikirkan hal itu, namun sebisa mungkin ia memupusnya. Ia berpikir tidak mungkin jika keluarga calon istrinya ini memanfaatkannya.
"Aku rasa tidak Jon. Hmmmm ... biarkan saja. Bagaimanapun juga sebentar lagi om Wirabuana akan menjadi orang tuaku, jadi tidak ada salahnya bukan jika aku membantu?"
Joni pasrah. Jika sudah seperti ini, ia tidak lagi memiliki kapasitas untuk memaksa Erlan. "Ya sudah terserah kamu saja Lan. Yang penting stop memberikan suntikan modal kepada calon mertuamu itu, jika kamu memang menghargai kerja kerasmu selama ini."
Dirasa sudah cukup untuk memberikan sebuah wejangan, Joni memilih untuk keluar dari ruangan sang bos. Saat sampai di depan pintu, ia sedikit berbalik badan.
"Lekaslah pulang. Sebentar lagi kamu akan menjadi pengantin. Jangan sampai tubuhmu drop karena pekerjaan," ujar Joni memberikan sebuah peringatan. Tak selang lama, tubuh pria itu menghilang dari pandangan Erlan.
Erlan melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan. Pukul sebelas malam, dan ia rasa memang sudah terlalu malam berada di kantor miliknya. Ia beranjak dan mulai meninggalkan ruangan ini.
***
"Haduuuhhhh .... mengapa aku tidak bisa tidur? Apa karena berada di tempat asing? Sekarang aku harus bagaimana?"
Dinda duduk di tepian ranjang. Ia mengusap wajahnya kasar. Mencoba mencari cara untuk bisa segera memejamkan mata. Namun sayang, matanya seakan semakin terbuka lebar. Ia pun beranjak dan mulai mengayunkan tungkai kaki untuk mencari angin.
Perlahan, telapak kaki Dinda menyusuri lantai yang berlapiskan marmer ini. Ia menuju bagian belakang yang diberi sekat oleh pintu kaca lebar. Di sana lah yang kata mbok Surti sebagai tempat yang paling indah di apartement milik tuan mudanya ini. Ya, sebuah balkon yang sudah disulap sedemikian rupa hingga menjadi tempat yang begitu nyaman.
Kepala Dinda mendongak. Melihat hamparan langit luas bak sebuah permadani alam yang terbentang. Rembulan nampak malu-malu, dan memilih untuk bersembunyi di balik mega. Sedangkan ribuan bintang berkedip-kedip seakan menggoda para penduduk bumi.
"MashaAllah ... tempat ini benar-benar indah dan nyaman. Apalagi di malam hari seperti ini. Seandainya saja, aku memiliki tempat seperti ini di rumah, pasti akan selalu aku gunakan untuk menghabiskan waktu bersama mas Bayu."
Dinda mengerjapkan mata kala teringat akan satu hal. Ia ambil sebuah ponsel yang ada di saku piyama yang ia kenakan. Mengecek apa ada notifikasi chat dari sang suami atau tidak. Wanita itupun hanya bisa membuang napas kasar saat tidak ia temui satupun chat dari sang suami.
__ADS_1
"Terakhir, mas Bayu chat aku ketika aku sampai di Tegal dan setelah itu dia sama sekali tidak menghubungiku. Jangankan menanyakan keberadaanku, chat terakhir yang aku kirim saja belum berubah menjadi biru. Apakah sesibuk itu mas Bayu? Sampai-sampai mengabaikan pesan dariku?"
Dinda menggulirkan jemarinya. Mencoba melihat status last seen milik sang suami. Pukul 00.15, yang artinya baru lima belas menit yang lalu sang suami mengaktifkan fitur WA. Dinda sampai keheranan, akan sikap sang suami yang terlihat berbeda ini.
"Apa aku hubungi mas Bayu saja ya? Barangkali dia belum tidur."
Dinda sibuk bermonolog lirih sembari mencoba untuk menghubungi sang suami. Sedangkan di depan pintu apartement, nampak Erlan membuka pintu apartement menggunakan accsess card yang ia bawa. Dengan gerak perlahan, ia melangkahkan kaki menyusuri area depan apartement miliknya ini. Kala ia akan berbelok ke arah kamar, betapa terkejutnya ia saat melihat pintu kaca yang menjadi sekat antara ruang dalam dengan balkon terbuka. Dan dahinya sedikit mengernyit kala melihat sosok wanita yang berdiri di sana.
"Siapa wanita itu? Jelas dia bukan mbok Surti karena bentuk tubuh mbok Surti tidak seperti itu. Atau Jenica? Bukan, bukan. Postur tubuh Jenica sedikit lebih tinggi dari wanita ini dan rambutnya juga jauh berbeda."
Erlan terperangkap dalam rasa penasaran. Namun sesaat kemudian kedua bola mata lelaki itu terbelalak sempurna kala menyadari akan satu hal.
"Ahhhh ... ini pasti pencuri atau kalau tidak dia penyusup. Benar-benar ya tidak ada takutnya pencuri itu. Padahal aku sudah menggunakan pengamanan yang paling canggih tapi mengapa pencuri masih bisa masuk kemari?"
Setelah puas bermonolog lirih, tanpa basa-basi Erlan melangkahkan kaki menuju dapur. Ia mengambil spatula yang ia yakini bisa untuk melumpuhkan wanita yang ia anggap pencuri ini.
Erlan berjalan dengan berjinjit agar pergerakannya tidak terdengar. Saat tiba di belakang tubuh si wanita, ia berancang-ancang untuk memukul punggung wanita ini dengan spatula.
Satu....
Dua .....
Tigaaaa.....
Plak... Plak... Plak...
"Dasar pencuri. Rasakan ini!!"
"Aaaahhhhhh .... sakittt!!!!"
.
__ADS_1
.
. bersambung...