
"Dinda? Dinda siapa, Sayang?" tanya Jenica penasaran. Karena nama Dinda terdengar begitu asing di telinganya.
"Ah iya, aku sampai lupa belum mengenalkanmu ke Dinda, Jen." Erlan menggeser bokong Jenica agar wanita ini berpindah dari pangkuannya. Erlan sedikit berbalik punggung. "Din, kemarilah! Aku kenalkan kamu dengan calon istriku!" panggil Erlan kepada sosok sang asisten rumah tangga yang masih berdiri anteng di dekat tempat cuci piring.
Dinda yang mendengar perintah sang majikan gegas mengayunkan tungkai kakinya untuk menghampiri sang majikan berada. Ia pun berdiri tepat di hadapan majikannya ini.
"Iya Tuan."
"Kenalkan Din, ini adalah Jenica, calon istriku. Yang nantinya akan menjadi nyonya di rumah ini. Nah Jen, kenalkan, ini adalah Dinda yang tak lain adalah asisten rumah tangga baru yang nantinya akan menggantikan mbok Surti."
Erlan berujar memperkenalkan nama masing-masing. Dinda hanya bisa tersenyum simpul seraya mengulurkan tangan untuk menyalami calon nyonya di apartemen ini.
"Saya Dinda, Nona. Pengganti mbok Surti."
Jenica menatap lekat sosok Dinda dari ujung kepala hingga ujung kaki. Hingga pandangannya pun terhenti pada wajah wanita ini.
Kalau dilihat-lihat, wanita ini cantik juga. Hmmmm ... bahaya ini jika Erlan sampai tergoda pada pesona wanita ini. Tapi aku rasa Erlan tidak akan tergoda. Penampilan wanita ini sangat kampungan. Dan jelas berseberangan dengan selera Erlan.
"Jen! Kok malah bengong? Itu Dinda ingin menyalamimu!" ujar Erlan dengan nada sedikit tinggi sambil menyenggol lengan tangan calon istrinya ini.
"Eh iya!" Jenica membetulkan posisi duduknya. Bahu, sedikit ia tegakkan. Dan ia pun membalas uluran tangan Dinda. "Aku Jenica. Tepatnya calon nyonya Erlan Aditya Anggara. Kapan kamu tiba di sini Din?"
"Salam kenal, Nona." Dinda menundukkan kepala sebagai tanda hormat. "Baru kemarin saya tiba di sini, Nona."
"Oh seperti itu? Semoga kamu betah ya bekerja di sini."
"Semoga, Nona."
Erlan hanya tersenyum tipis melihat calon istrinya bersikap baik di depan Dinda. Karena biasanya, Jenica selalu memasang tampang tidak suka kepada orang-orang yang baru ia kenal.
__ADS_1
"Din, kamu temani Jenica untuk belanja ya. Agar calon istriku ini tidak bosan mengelilingi mall."
Dinda hanya bisa patuh kepada perintah sang majikan. Selama hal itu merupakan hal yang baik, dia tidak akan menolaknya. Dinda mengangguk. "Baik Tuan."
Erlan menautkan pandangannya ke arah Jenica yang duduk di sampingnya ini. "Tidak apa-apa kan Jen kalau kamu ditemani oleh Dinda? Karena untuk hari ini aku benar-benar tidak bisa menemanimu."
Jenica mendengus. Meskipun rasanya akan sangat berbeda jika berbelanja bersama sang asisten rumah tangga dibandingkan dengan kekasihnya, ia pun terpaksa harus menyetujuinya.
"Ya mau bagaimana lagi Sayang? Daripada aku belanja sendiri seperti orang hilang lebih baik pembantu ini saja yang ikut bersamaku."
"Bagus, itu jauh lebih baik." Erlan kembali menatap Dinda yang masih berdiri di hadapannya. "Nah, sekarang kamu bersiap-siap Din. Setelah itu temani calon istriku untuk berbelanja."
"Baik Tuan, saya ganti baju terlebih dahulu."
Dinda melangkahkan kaki untuk kembali ke kamar. Berganti pakaian yang ia rasa pantas untuk menemani sang nona untuk pergi ke mall.
"Mau kemana Din?" tanya mbok Surti yang penasaran melihat Dinda sibuk memilih dan memilah pakaian yang ia punya.
Dinda melihat satu persatu pakaian yang ia punya. Seperti kebingungan memilih pakaian mana yang akan ia kenakan. Sedang mbok Surti hanya tersenyum tipis melihat tingkah laku wanita muda ini.
"Tidak perlu bingung Din, apapun yang kamu kenakan tetap membuatmu cantik. Jadi pilih yang paling pas saja untuk kamu pakai."
Pilihan Dinda jatuh pada sebuah rok plisket dan sebuah kemeja lengan panjang. Setelahnya ia kembali menemui sang majikan yang masih berada di sofa ruang depan.
"Sudah siap Din?" tanya Jenica seraya menatap lekat tubuh Dinda dengan intens. Bibir wanita itu nampak sedikit terangkat seakan menyisakan kesan sinis.
Benar-benar kampungan. Masa ke mall pakai baju seperti ini? Hahahaha tapi tidak mengapa, kalau penampilan Dinda seperti ini aku yakin Erlan tidak akan terpesona. Dan dengan seperti ini bisa membedakan mana majikan mana pembantu ketika berada di mall nanti.
"Iya Nona, saya sudah siap."
Erlan yang tengah sibuk dengan e-mail yang ada di dalam ponselnya seketika ia alihkan perhatiannya kala ekor mata lelaki itu menangkap bayangan Dinda. Ia tatap lekat tubuh asisten rumah tangganya ini. Dan ia hanya bisa terperangah.
__ADS_1
"Pakaian apa yang kamu pakai ini Din?"
Dinda dan Jenica sama-sama terhenyak.
"Rok dan kemeja Tuan!" jawabnya polos
"Astaga. Bukan itu maksudku. Kalau itu aku juga paham bahwa yang kamu pakai adalah rok plisket dan kemeja. Maksudku, mengapa pakaian seperti ini yang kamu pakai? Apa tidak ada yang lain?"
Dinda menggeleng pelan. "Tidak Tuan, ini pakaian paling bagus yang saya punya. Baru lebaran tahun lalu saya membeli pakaian ini."
Jenica mengusap lengan tangan Erlan. "Memang kenapa sih Sayang? Tidak ada yang salah kan dengan pakaian yang dikenakan oleh Dinda? Cocok kok."
Erlan menggeleng-gelengkan kepala. Tidak habis pikir calon istrinya ini mengatakan bahwa pakaian ini cocok untuk Dinda. "Cocok dari mana Jen? Jelas-jelas pakaian ini tidak pas dikenakan oleh Dinda. Dia ini mau ke mall Jen, bukan ke pasar. Terlebih lagi ada apa denganmu? Biasanya kamu memiliki selera tinggi perihal outfit. Tapi ini kenapa kamu malah seperti menggambarkan bahwa kamu memliki selera rendah?"
Jenica tersentak. Niat hati ingin membiarkan Dinda tetap berpakaian seperti ini agar terlihat kampungan namun justru ia yang terkena semprot dari mulut Erlan.
"Eh, bukan begitu maksudku Sayang. Aku rasa pakaian Dinda ini sudah pas kok. Dia kan hanya sebagai pembantu, jadi pakaian seperti ini sudah sangat cocok ia kenakan."
Erlan berdecak pelan. Bisa-bisanya Jenica berpikir enteng seperti itu. "Tidak, tidak, tidak bisa begitu. Meskipun Dinda hanya sebagai asisten rumah tangga, namun ia juga harus tetap menjaga penampilan. Apa kata dunia jika sampai relasiku tahu bahwa orang yang bekerja di apartemenku memakai pakaian seperti ini?"
"Tapi Sayang, kamu tidak perlu berlebihan seperti ini. Ini semua tidak ada hubungannya dengan relasimu. Karena jika bertemu dengan relasi yang disorot adalah aku, bukan pembantumu."
Jenica hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap Erlan yang nampak berlebihan. Terlebih saat kata relasi ia masukkan ke dalam pembicaraan. Ia sama sekali tidak paham apa maksud calon suaminya ini. Padahal tidak ada hubungannya antara si pembantu dengan relasi bisnis Erlan.
"Tidak bisa Jen. Dinda harus berganti pakaian." Erlan menggeser pandangannya ke arah Surti yang sedari tadi hanya berdiri terdiam di samping Dinda. "Mbok, tolong ambilkan pakaian mama yang ada di dalam lemariku. Aku rasa pakaian milik mama jauh lebih pantas dikenakan oleh Dinda untuk pergi ke mall."
.
.
. bersambung...
__ADS_1