
Mendengar Erlan mengucapkan kata cerai sukses membuat tubuh Jenica semakin terkejut setengah mati. Ia semakin kalut karena belum sempat mendapatkan apapun dari sang suami. Bisa dipastikan jika ia bercerai, ia akan keluar dari hidup Erlan tanpa membawa apapun.
Sekilas, ia melirik ke arah Bara yang masih berdiri terdiam terpaku membeku dan dalam keadaan telanjang itu. Bara memberikan sebuah isyarat agar Jenica tetap berusaha untuk membujuk Erlan agar tidak bercerai.
"Sayang, kumohon maafkan aku. Aku berjanji akan memperbaiki semua ini. Aku berjanji Sayang."
Dalam keadaan telanjang dan bersimpuh, tangan Jenica terulur untuk bisa memegangi kaki sang suami. Persis seorang tawanan yang meminta pembebasan dari tuannya. Namun, alih-alih merasa iba lalu mengubah keputusannya, Erlan semakin dibuat jijik dengan apa yang dilakukan oleh Jenica.
"Cukup Jen, sebanyak apapun kamu memintaku untuk menarik ucapanku, tetap tidak akan pernah aku lakukan. Aku sudah menceraikanmu. Dan saat ini kita bukan suami istri lagi. Lagipula, aku tidak mau memiliki seorang istri yang tubuhnya sudah diobral kesana kemari. Aku jijik!"
Pandangan Erlan kini tertuju pada Bara yang masih terlihat hening tak bersuara. Ia pun tersenyum sinis ke arah selingkuhan istrinya ini.
"Sekarang, kamu tidak perlu diam-diam lagi untuk bertemu dengan Jenica. Kalian bisa melakukan apapun yang kalian inginkan. Bahkan beribu-ribu kali melakukan hal-hal menjijikkan seperti ini. Terserah!"
Bara tak kalah sinis menatap wajah Erlan. Bahkan saat ini ia merasa jauh lebih memiliki banyak kelebihan daripada Erlan. Satu kelebihan yang dapat menandingi seberapa kaya suami Jenica ini.
"Hahahaha ... Erlan, Erlan ... Seharusnya Anda bercermin sembari mencari tahu mengapa istri Anda sampai berselingkuh. Karena setiap perselingkuhan itu pasti ada sesuatu yang menjadi sebabnya. Apa Anda tidak ingin mencari tahu?"
"Cih, tidak ada satu alasan pun yang membenarkan adanya sebuah perselingkuhan. Di mana-mana perselingkuhan itu merupakan satu dosa dan kesalahan dan tidak dapat dibenarkan," ucap Erlan dengan lantang. Baginya, tidak ada satu alasan pun yang membenarkan perselingkuhan.
"Lantas, apakah Anda sudah merasa sempurna sebagai seorang suami? Apakah Anda tidak sadar akan kekurangan yang Anda miliki sampai-sampai istri Anda berselingkuh?"
Bara semakin pongah. Kali ini ia merasa bangga karena burung yang ia miliki jauh lebih besar dari milik Erlan. Ia merasa aset yang ia miliki ini bisa mengalahkan harta yang dimiliki oleh Erlan.
"Aku sudah memberikan semua untuk Jenica. Bahkan tidak sedikitpun aku biarkan Jenica merasa kekurangan. Ia meminta apapun semua aku turuti. Lalu apa lagi yang menjadi alasan dia berselingkuh jika bukan karena dia tidak merasa bersyukur?"
__ADS_1
"Hahahaha ... Ternyata Anda terlalu percaya diri Tuan!" Bara melabuhkan pandangannya ke arah Jenica. "Jen, mungkin sudah saatnya kamu mengatakan kepada suamimu ini akan kekurangan yang ia miliki. Jangan sampai dia merasa paling hebat karena bisa memberikan materi kepada pasangannya tapi tidak bisa memberikan kepuasan batin."
Erlan sedikit terkejut kala mendengar tiap kata yang diucapkan oleh Bara. Terlebih tentang kepuasan batin yang siapapun mendengar kata itu pastinya sudah dapat ditebak kemana arah tujuannya.
"Kepuasan batin? Apa maksudmu? Kamu pikir aku tidak bisa memuaskan Jenica? Atau kamu pikir aku tidak pernah menjamah tubun Jenica?"
Bara mengedikkan bahu. Ia semakin bangga karena saat ini derajatnya jauh lebih tinggi dari seorang laki-laki yang terkenal sukses di dunia bisnis.
"Silakan tanyakan sendiri pada istrimu itu Tuan. Dari sana, Anda pasti akan segera mendapatkan jawaban."
Hati Erlan dipenuhi oleh tanda tanya besar. Ia semakin dibuat bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Sedangkan Dinda, sedari tadi wanita itu hanya berdiri di sudut ruangan menatap ke arah tembok sambil mendengarkan apa yang menjadi perbincangan majikannya ini. Ia sampai tidak berani membalikkan punggung. Merasa malu karena ada sosok lelaki yang bertelanjang bulat.
"Apa maksud ucapan selingkuhanmu ini Jen? Apa maksudnya?"
Jenica menyerah. Ia sudah kehabisan cara untuk membujuk Erlan. Ia juga merasa jika memang ini semua tidak dapat dipertahankan lagi. Ia bahkan sampai berpikir bahwa ia jauh lebih bisa hidup kekurangan secara materi daripada kekurangan rasa puas akan sebuah hubungan badan.
Dahi Erlan mengernyit dengan kelopak mata yang menyipit. "Burung yang sebesar jari kelingking? Maksudmu apa Jen?"
Jenica kini tersenyum sinis. Dengan mengatakan hal ini ia yakin bisa merobek-robek harga diri Erlan sebagai seorang laki-laki. Dan ia yakin jika setelah ini, Erlan akan depresi karena burung yang terlalu kecil.
"Burung milikmu itu terlampau kecil Lan. Aku sama sekali tidak merasa nikmat saat bercinta denganmu. Berbeda dengan burung milik Bara yang super besar hingga bisa membuatku mende*sah, menjerit, mengerang dan merasakan kenikmatan!"
Kedua bola mata Erlan terbelalak dan membulat sempurna. Perkara burung, benar-benar bisa melukai harga dirinya sebagai seorang laki-laki. Terlebih di tempat ini ada Dinda. Yang secara tidak langsung orang luar juga mengetahui kekurangannya ini.
Erlan terdiam dan membisu. Tidak ada sepatah katapun yang dapat ia katakan. Ia sungguh kalut dan malu karena perkara burung yang membuat sang istri berselingkuh.
__ADS_1
"Sekarang Anda sudah paham bukan apa yang membuat istri Anda mencari kenikmatan di luar? Jika memang hanya sebesar jari kelingking aku yakin siapapun yang menjadi istri Anda akan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Jenica!" seloroh Bara yang semakin membuat harga diri Erlan tercabik-cabik.
****
"Aaaaaarrgggghhh ..... Mengapa ini semua terjadi kepadaku Tuhan? Mengapa perkara burung yang membuat Jenica berselingkuh?"
Pukul tiga dini hari, selepas menggerebek sang istri berselingkuh, Erlan keluar dari dalam kamar hotel menuju ke atas tebing. Ia berdiri dan berteriak kencang seakan menumpahkan seluruh rasa sakit yang ia rasakan.
Dinda yang merasa khawatir dengan keadaan sang majikan sampai rela mengikuti kemana majikannya ini pergi. Ia takut jika sampai sang majikan berbuat nekat dengan mengakhiri hidupnya dengan cara lompat dari atas tebing. Dan benar saja, posisi Erlan saat ini sungguh hanya membuat Dinda semakin bergidik ngeri. Ia semakin yakin jika Erlan akan melakukan upaya bunuh diri.
"Tuan hentikan. Jangan lakukan hal itu Tuan, dosa!"
Mendengar teriakan Dinda tidak lantas membuat Erlan pergi dari tempat itu. Ia justru malah mengacak rambutnya frustrasi. Tak sedikitpun menanggapi teriakan Dinda.
"Tuan, jangan lakukan itu. Apakah Tuan tahu akan berakhir dimana orang-orang yang mati bunuh diri karena berputus dari rahmat Allah? Mereka akan berakhir di dalam kerak neraka, Tuan. Jadi tolong jangan lakukan ini Tuan!"
Lagi, Dinda kembali berteriak lantang di belakang punggung Erlan. Mencoba untuk menghalangi sang majikan untuk melakukan upaya bunuh diri. Namun lagi-lagi Erlan hanya acuh tak acuh.
Dinda tak kehabisan akal. Ia harus mencari cara agar sang majikan tidak sampai bunuh diri.
"Tuan, tolong jangan lakukan ini. Apakah Tuan tidak kasihan kepada saya? Kalau Tuan sampai mati karena bunuh diri lalu bagaimana saya harus menggotong Tuan sampai Jakarta? Siapa yang akan membantu saya mengurus jenazah Tuan? Saya tidak ada kenalan di tempat ini Tuan. Jadi tolong, Tuan jangan menyusahkan saya!"
.
.
__ADS_1
. bersambung