Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 58. Disiram


__ADS_3


"Aku akan pergi jika kamu menginginkan hal itu, Erlan!"


Tangis Jenica semakin menjadi di mana gelombang suaranya memenuhi tiap sudut kamar ini. Wanita itu larut dalam kepiluan yang membuat Erlan merasa begitu iba. Lelaki itu hanya bisa menatap tubuh istrinya ini dengan tatapan nanar.


Ya Tuhan, ternyata istriku pernah mengalami kejadian sepelik dan semerikan itu. Aku akan menjadi lelaki paling jahat jika sampai berniat untuk meninggalkannya. Dia ini adalah wanita yang sudah aku pilih. Sehingga harus aku terima apapun keadaannya. Terlebih masa lalu Jenica yang pernah menjadi korban pemerkosaan.


Erlan mencoba untuk memadamkan api amarah yang sebelumnya bergejolak dalam dada. Ia mencoba untuk membuka hati dan pikirannya agar bisa berpikir secara jernih dan tidak sampai gegabah dalam mengambil keputusan. Perlahan, ia langkahkan tungkai kakinya dan ia duduk di samping Jenica.


Ia genggam jemari tangan Jenica untuk kemudian ia bawa ke dalam dekapannya. Ia kecup lembut pucuk kepala istrinya ini dan menyisakan kedamaian yang hakiki.


"Aku minta maaf atas ketidaktahuanku perkara masa lalumu itu Jen. Aku bahkan sempat berpikir yang macam-macam kepadamu. Aku minta maaf karena tidak tahu ceritanya."


Erlan mencoba berdamai dengan takdir. Jika memang inilah keadaan sang istri yang sebenarnya, maka akan ia terima dengan hati yang lapang. Kasus pemerkosaan memang satu kejahatan dan sebagai seorang laki-laki tidak bisa menyalahkan pasangannya jika hal semacam itu memang pernah dialaminya.


"Tapi jika kamu kecewa, aku siap untuk pergi dari hidupmu Lan. Kamu boleh menceraikan aku!"


Erlan menggeleng pelan. Ia merasa akan menjadi lelaki paling tega jika meninggalkan Jenica setelah ia tahu perihal pemerkosaan itu. Kali ini, ia memutuskan untuk tetap bersama Jenica, apapun keadaannya.


"Aku memang kecewa Jen, karena aku pikir selama ini kamu bermain api di belakangku hingga pada akhirnya terenggut kehormatanmu. Namun sekarang aku tahu, bahwa kamu juga hanya sebagai korban. Sehingga tidak ada alasan bagiku untuk pergi meninggalkanmu!"


Jenica tersenyum lebar di dalam dekapan Erlan. Meskipun air mata buaya betina itu masih mengalir deras, namun dalam hati, ia bersorak gembira.


Hahahaha ternyata hanya dengan menjual air mata kesedihan di depan Erlan, rencanaku ini sukses besar. Jika seperti ini, dalam benak Erlan pasti sudah terpatri bahwa aku adalah korban pemerkosaan. Padahal, hubunganku dengan Bara atas dasar suka sama suka dan mau sama mau. Erlan, Erlan ... ternyata mudah juga kamu aku bohongi.


Setelah puas bersorak gembira dalam hati, Jenica melepaskan diri dari dekapan Erlan. Ia tatap lekat netra suaminya ini dan tersenyum simpul sembari ia usap sisa-sisa air matanya.


"Terima kasih Sayang, karena kamu sudah percaya kepadaku. Aku sangat beruntung menjadi pendamping hidupmu, Sayang."


Erlan mengangguk perlahan. "Sama-sama Jen. Aku juga minta maaf karena sebelumnya aku sempat memiliki pikiran yang buruk terhadapmu."

__ADS_1


Jenica mendekatkan wajahnya di wajah Erlan. Tanpa basa-basi, Jenica melahap bibir suaminya ini. Kecupan yang sebelumnya terasa begitu lembut, kini berubah menjadi kecupan yang liar dan juga panas. Erlan yang mendapatkan serangan dari Jenica seakan semakin tera*ngsang dengan apa yang dilakukan oleh istrinya ini.


Jenica mendorong tubuh Erlan hingga kini posisinya berbaring sempurna di atas ranjang. Dengan cekatan, wanita itu melucuti pakaiannya sendiri dan juga pakaian sang suami dan ia berikan sentuhan-sentuhan memabukkan di sekujur tubuh Erlan sampai membuat lelaki itu merem-melek karena kelilipan eh maksudnya keenakan😅 Hingga terjadilah perang dunia ke tiga di atas ranjang yang bergoyang.


***


Hari sudah gelap saat Jenica membuka mata. Ia tengok ke arah samping, terlihat Erlan masih terlelap. Ia geser pandangannya ke arah bawah, pakaian-pakaiannya berserakan di atas lantai. Ia kembali menyunggingkan senyum karena pada akhirnya, Erlan percya dengan cerita yang ia karang dan perpisahan itu tidak terjadi.


Ia juga tersenyum saat mengingat Erlan begitu bersemangat dalam bercinta. Lelaki itu seakan lupa bahwa sebelumya ia terlibat dalam pembicaraan yang cukup serius. Dengan bersemangatna bercinta, Jenica percaya perihal keperawanan pasti sudah tidak akan pernah ia bahas lagi.


"Aaaaah ... aku haus sekali. Ke dapur dulu lah!"


Dengan heti-hati, Jenica beranjak dari posisinya. Ia punguti pakaiannya satu persatu ia kenakan. Terasa begitu haus, ia bergegas keluar kamar untuk mengambil air putih.


"Loh, loh, loh, ini mengapa gelap-gelapan seperti ini? Apa yang dilakukan oleh pembantu itu sampai-sampai kelupaan menyalakan saklar lampu"


Jenica menggeerutu, merasa kesal sekali. Bisa-bisanya si pembantu lupa dengan pekerjaannya. Ia pun memutuskan untuk ke kamar Dinda.


"Din, sedang apa kamu di dalam? Mengapa semua ruangan kamu biarkan gelap seperti ini?"


Dug .. dug.... dug...


Tak ada sedikitpun respon sama sekali. Akibat suaranya yang begitu kencang, membuat Erlan terbangun dari tidurnya. Ia begitu penasaran ama apa yang terjadi di luar sana. Sebelum ia keluar kamar, lebih dulu ia kenakan pakaian ya


"Jen, ada apa? Kok mendobrak-dobrak pintu kamar Dinda seperti itu?"


Erlan mendekat ke arah Jenica dan ikut berdiri di samping istrinya. Sesekali, ia melirik ke arah daun pintu yang masih berada dalam mode tertutup rapat.


"Lihatlah Lan, jam segini pembantunmu ini tertidur. Pembantu macam apa itu, yang lebih dulu terlelap daripada majikannya?"


"Sudahlah Jen, jangan seperti itu. Biarkan saja Dinda tidur. Barangkali dia memang kelelahan!"

__ADS_1


"Eitsss ... eittsss ... eitttsssss ... tidak bisa begitu dong Lan. Uang yang kamu keluarkan untuk menggaji pembantu itu cukup besar. Jadi, aku tidak bisa terima jika dia hanya tiduran di kamar!" Jenica kembali menggedor pintu kamar Dinda. "Bangun Dinda! Jangan malas-malasan seperti itu!"


Tubuh Dinda yang terbaring di atas ranjang tiba-tiba terperanjat kala mendengar suara gaduh yang berasal dari luar kamar. Ia mengerjapkan mata, berupaya untuk meraih kesadarannya. Dan semakin bertambah terkejutnya dia kala melihat suasana sekitar sudah gelap.


"Astaghfirullah!"


Dinda bergegas bangun dari ranjang. Ia berjalan ke arah pintu kamar dan perlahan membukanya. Saat pintu terbuka, ia terperangah melihat sepasang majikannya sudah berdiri di depan pintu.


"Apa-apaan kamu Din, jam segini masih molor? Kamu tidak lihat kalau hari sudah gelap?" teriak Jenica tepat di hadapan Dinda. Membuat nyali wanita itu sedikit menciut.


"Maaf Nona, Tuan ... saya ketiduran. Dan bangun-bangun sudah gelap seperti ini. Sekali lagi saya minta maaf Nona, Tuan."


"Sudah Din, tidak apa-apa. Aku mengerti kalau kamu memang sedang kelelahan. Cuci muka dulu gih. Setelah itu masak capcay rebus campur udang ya. Perutku lapar sekali," ucap Erlan seakan mengerti bahwa tidurnya Dinda di petang hari seperti ini bukanlah suatu kesalahan yang berarti.


"Baik Tuan, saya akan segera memasak."


"Eh tidak bisa seperti itu dong. Karena kamu sudah tidur di waktu yang tidak seharusnya kamu tidur, maka dari itu kamu harus aku beri sesuatu!" Jenica menarik lengan tangan Dinda yang membuat Erlan dan Dinda sendiri terkejut. "Aku yakin setelah ini kamu tidak lagi santai-santai."


"Heh Jen, mau kamu bawa ke mana Dinda?" teriak Erlan saat melihat istrinya menarik lengan tangan sang asisten rumah tangga ke arah kamar mandi.


Sampai di kamar mandi, Jenica meraih ember kecil yang berisikan air dan...


Byuuuuuurrrrrrrr!!!!!!


"Ini hukuman untukmu Din, karena kamu sudah tidur di waktu-waktu yang tidak seharusnya kamu tertidur!"


.


.


. bersambung...

__ADS_1


__ADS_2