

"Mau ke mana kamu?"
Dinda sedikit terperanjat kala sang majikan melontarkan sebuah tanya. Langkah kaki wanita itu terhenti dan sedikit berbalik punggung.
"Saya ingin kembali melanjutkan pekerjaan Tuan. Masih ada cucian yang menunggu saya."
Erlan meletakkan sendok dan garpu yang ada di atas piring. Ia menyilangkan lengan tangan dan melirik ke arah Dinda dengan lirikan yang sukar untuk diartikan.
"Bukankah aku sudah mengatakan kalau hari ini kamu cukup memasak saja, sedangkan pekerjaan lainnya tidak perlu kamu kerjakan."
"Tapi Tuan ...."
"Sudahlah, sekarang kamu duduk. Temani aku sarapan."
"Eh, tapi Tuan?"
"Astaga, pagi ini sudah berapa kali kamu memakai kata tapi? Sudah, duduklah dan lekas sarapan!"
Dinda tersenyum kikuk. Ia langkahkan kaki meskipun sedikit merasa tak enak hati. Hati wanita itu sungguh dipenuhi oleh perasaan canggung harus duduk berdua di meja makan bersama majikannya ini. Ia khawatir jika dianggap sebagai pembantu yang tidak tahu diri.
Dinda mendaratkan bokongnya di atas kursi dan mulai melahap menu sarapannya. Suasana terasa begitu hening. Hanya terdengar dentingan suara sendok yang beradu dengan piring. Sekilas, Dinda mencuri pandang ke wajah majikannya ini. Entah mengapa, ia merasa jika sang majikan tengah berada dalam kekalutan. Rona sendu terpancar jelas melalui sorot mata tajam lelaki ini. Ia berpikir jika ini semua ada hubungannya dengan perdebatan yang baru saja terjadi diantara sang majikan dengan istrinya.
"Tuan ingin nambah lagi? Jika iya, biar saya siapkan lagi bihun dan kawan-kawannya," tawar Dinda untuk memecahkan keheningan yang ada. Rasanya sungguh aneh jika dua orang yang berada dalam satu meja, hanya saling terdiam dan membisu.
Erlan nampak berpikir sejenak. Hingga pada akhirnya ia menganggukkan kepala. "Boleh, soto buatanmu lumayan enak. Sepertinya cocok di lidahku."
Dinda tersenyum tipis. Setelah tempo hari hasil masakannya dicaci maki oleh sang Nyonya, hari ini tuannya memuji masakannya. Ada rasa bahagia yang terselip mendapatkan sebuah apresiasi seperti itu.
Dinda bangkit dan mulai menyiapkan isi dari hidangan soto ini. "Alhamdulillah kalau memang cocok di lidah Tuan. Saya bersyukur sekali."
"Apakah kamu dulunya sekolah di jurusan tata boga? Masakan kamu ini enak. Bumbu rempahnya benar-benar terasa," tanya Erlan mencoba untuk mengenal lebih jauh tentang asisten rumah tangganya ini.
"Tidak Tuan, saya sama sekali tidak sekolah di jurusan tata boga. Saya mengambil jurusan Ilmu Sosial. Saya juga tidak tahu kenapa bisa pas di lidah Tuan. " Dinda menyodorkan satu mangkuk soto ke arah Erlan dan kembali ke tempatnya semula. "Silakan Tuan, mumpung masih hangat."
"Terima kasih." Erlan kembali menikmati hidangan soto yang terasa begitu lezat ini. "Ah iya, sudah hampir satu bulan kamu bekerja di sini. Aku minta nomor rekening mu biar nanti aku transfer gaji pertamamu."
__ADS_1
"Baik Tuan, nanti akan saya kirim nomor rekeningnya. Sekali lagi terima kasih banyak Tuan."
"Sama-sama." Erlan meneguk air putih yang ada di hadapannya setelah hidangan yang ia nikmati tandas tanpa bekas. "Oh iya kalau boleh tahu, gaji yang kamu dapatkan akan kamu pergunakan untuk apa?"
"Nanti akan saya kirimkan ke suami saya Tuan." Dinda tersenyum getir, teringat akan ujian pernikahan yang silih berganti datang kepadanya. Keadaan yang mengharuskannya ikut banting tulang seperti ini. "Untuk ditabung. Untuk bisa mengembalikan keadaan seperti semula."
Erlan sedikit terkejut mendengar penuturan Dinda. Rasanya sangat tidak wajar jika asisten rumah tangganya ini mengirimkan semua gajinya kepada sang suami. Ia merasa ada sesuatu yang tidak baik yang akan terjadi.
"Boleh kalau aku memberikan pendapat kepadamu?"
"Apa itu Tuan?"
"Kalau menurutku, jangan kamu kirim semua gajimu kepada suamimu. Kirim sepuluh persennya saja. Sedangkan sisanya bisa kamu simpan sendiri. Aku tidak bermaksud untuk berpikiran buruk kepada suamimu. Ini hanya sebagai upaya preventif saja dari hal-hal yang tidak baik."
"Maksud Tuan, suami saya memiliki niatan buruk terhadap saya?" tanya Dinda dengan kernyitan di dahi.
Erlan hanya mengendikkan bahu, seakan tidak begitu yakin dengan apa yang ia pikirkan. Namun entah mengapa, Tiba-tiba ia memiliki pemikiran buruk terhadap suami Dinda ini.
"Entahlah, aku juga tidak bisa memastikan itu. Namun tidak ada salahnya kan kalau kamu simpan sendiri saja gajimu? Nanti jika sudah terkumpul banyak, baru bisa kamu gunakan untuk membeli semua yang kamu perlukan. Lagipula, aku juga merasa sedikit aneh dengan suamimu."
"Ya aneh saja. Sebagai seorang suami seharusnya dia tidak berhak untuk meminta hasil kerja istri. Aku hanya khawatir jika dia hanya memanfaatkanmu."
Dinda hening sejenak, meresapi dan memikirkan apa yang dikatakan oleh majikannya ini. Kedua kelopak matanya semakin menyipit. Mencoba untuk menghubungkan antara perkataan Erlan dengan sikap Bayu yang sedikit berubah.
"Pikirkan baik-baik apa yang aku ucapkan ini. Menurutku, lebih baik kamu simpan sendiri saja gajimu dan nanti bisa kamu pergunakan untuk membeli semua barang yang kamu mau." Erlan bangkit dari posisi duduknya. Keasyikan mengobrol dengan Dinda, sampai membuatnya tidak sadar bahwa waktu hampir menunjukkan pukul setengah sembilan. "Aku berangkat dulu. Terima kasih banyak untuk hidangan pagi ini."
Dinda sedikit terhenyak dan ikut bangkit dari posisinya. Ia membungkukkan tubuh sebagai rasa hormat kepada sang majikan. "Sama-sama Tuan, hati-hati di jalan. Semoga keberkahan senantiasa mengelilingi Tuan."
Erlan hanya tersenyum tipis. Entah mengapa ada sedikit perasaan getir yang menyelinap di hatinya.
Ya Tuhan, bahkan istriku sendiri tidak mengiringi langkah kakiku dengan doa-doa seperti ini. Justru doa ini diucapkan oleh pembantuku? Ya ampun ... punya istri tapi kenapa rasanya sama seperti ketika masih sendiri?
****
"Oke, mari kita sama-sama bersulang untuk teman kita yang baru saja menjadi pengantin baru. Jenica, selamat untuk pernikahannya. Semoga bahagia selalu!"
"Cheeersss teman-teman!"
__ADS_1
Cheersss..... Yeeaaaaaahhhhh....
Di ruang VIP, gelas berisikan whiskey diangkat dan saling beradu. Hingga berdenting nyaring. Orang-orang yang berkumpul di tempat ini semua tertawa lepas seakan tidak memiliki beban hidup sama sekali.
"Jenica ini benar-benar beruntung kawan, karena dia dipersunting oleh pengusaha muda kaya raya yang bergerak di bidang alat-alat berat dan konstruksi bangunan. Bisa dipastikan jika kehidupan sahabat kita ini bergelimang harta," ucap salah satu teman di circle pertemanan Jenica ini.
"Wah, wah, wah, kamu benar-benar beruntung Jen. Kalau saja, aku berada di posisimu, pasti aku akan sangat bahagia sekali," timpal salah seorang teman Jenica dengan pakaian tank-top warna putih dan celana jeans itu.
Jenica hanya tersipu malu namun hatinya teramat bangga. Ternyata dengan menjadi istri dari Erlan dapat meningkatkan strata sosialnya. Ia berbangga diri, bisa dipuja dan dipuji oleh teman-temannya ini.
"Ah kalian ini terlalu berlebihan. Sebagai bentuk rasa bahagiaku, akan aku traktir kalian semua. Dan kalian bisa makan atau minum apapun di tempat ini. Sampai puas!"
Yeaaahhhh...
"Oh iya Jen, di sini kita juga kedatangan tamu spesial loh."
"Oh ya? Memang siapa?"
"Seseorang yang secara khusus datang untuk memberikan selamat kepadamu. Salah satu teman kita juga yang sudah lama tidak berjumpa dengan kita," ucap Lidia memberikan sebuah kabar.
Dahi Jenica berkerut dalam. Begitu penasaran dengan siapa yang dimaksud oleh Lidia. "Siapa Lid? Jangan buat aku penasaran dong!"
Lidia tersenyum simpul dan... "Bro, masuklah ke dalam. Jenica sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu!"
Jenica melabuhkan pandangannya ke arah pintu. Dengan hati yang diliputi oleh rasa penasaran, wanita itu mencoba menerka-nerka siapa yang datang, namun sama sakali tidak dapat ia temukan. Kedua bola matanya terbelalak sempurna kala pandangannya bersiborok dengan tatapan mata seorang laki-laki yang tidak asing di penglihatannya.
"Apa kabar Jenica?"
"B-Bara?????!!!!"
.
.
. bersambung...
Holla kakak-kakak tersayang, apa kabar? semoga senantiasa sehat ya.. ☺☺ mohon maaf jarang membalas komentar kakak-kakak semua ya karena kesibukan di dunia nyata. yang pasti saya ucapkan terimakasih banyak untuk kakak-kakak sayang yang sudah mendukung tulisan ini sampai detik ini. salam love, love, love🥰🥰🥰
__ADS_1