Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 72. Hanyut


__ADS_3

Sisa-sisa air langit masih berjatuhan di atas bumi. Hawa dingin juga serasa kian menusuk tulang, yang membuat wanita cantik itu bersusah payah untuk bisa meredam rasa dinginnya.


"Masih dingin Sayang?"


Bayu berujar seraya menyelimuti tubuh Maya dengan dua selimut tebal yang disediakan oleh pihak losmen. Wanita itu hanya mengangguk pelan seraya duduk meringkuk di atas pembaringan.


"Iya Mas, ini dingin sekali!"


"Aku pesankan teh hangat ya, biar tubuhmu sedikit hangat?"


Maya menggelengkan kepala. "Tidak usah Mas. Ini tubuhku juga gemetaran saking dinginnya. Perutku rasanya juga tidak sanggup untuk menerima makanan ataupun minuman."


Bayu menatap lekat tubuh Maya. Benar saja, tubuh wanita ini gemeteran. Hingga akhirnya ia memilih untuk ikut naik ke atas ranjang.


"Sini aku peluk!"


Tanpa banyak kata dan tanpa banyak bicara, Bayu menarik tubuh Maya untuk ia bawa ke pelukannya. Keduanya berada di dalam selimut yang sama untuk saling menghangatkan. Benar saja, setelah dipeluk oleh Bayu, tubuh Maya berhenti dari gemetarannya.


"Bagaimana? Apakah masih terasa dingin?" tanya Bayu memastikan seraya mengeratkan pelukannya.


Maya menggeleng pelan. "Tidak Mas. Ini terasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Tubuhku seketika mulai terasa hangat."


Bayu tergelak lirih sambil ia labuhkan sebuah kecupan di pucuk kepala Maya. D "Itu artinya akulah yang ditakdirkan oleh Tuhan untuk menghangatkanmu, Sayang."


Maya ikut tergelak. Ia sedikit mendongakkan wajah hingga bisa menatap wajah Bayu di bawah cahaya lilin yang menerangi. Akibat hujan deras yang mengguyur kawasan ini, membuat aliran listrik juga terputus. Sehingga, hanya lilin yang menjadi sumber penerangan kamar ini.


"Aku beruntung sekali bisa bertemu denganmu Mas. Kamu benar-benar sosok lelaki yang penuh kasih dan penuh perhatian. Selama ini, aku tidak pernah merasakan sebahagia ini."


"Benarkah seperti itu?"


"Ya, memang seperti itu." Tatapan Maya tiba-tiba numpak menerawang jauh. Ia seperti mencoba mengingat-ingat sesuatu yang telah berlalu. "Mantan suamiku tidak pernah melakukan hal semacam itu. Dia merupakan sosok yang begitu dingin. Secara materi, aku memang terpenuhi. Namun aku merasa hampa karena dia hampir tidak pernah memiliki waktu untukku."


"Jadi, bisa dikatakan jika kamu kesepian Sayang?"


Bayu juga sedikit merasa terkejut dengan apa yang diceritakan oleh Maya. Karena baru kali ini Maya menceritakan perihal rumah tangganya. Namun hal ini disambut baik oleh Bayu. Ia merasa bisa semakin membuat Maya jatuh cinta kepadanya jika ia tahu akan kelemahan yang dimiliki oleh mantan suami Maya.

__ADS_1


Senyum penuh kegetiran tercetak jelas di bibir Maya. Mengingat semua yang pernah terjadi. "Miris sekali ya Mas? Seorang istri yang terpenuhi secara materi namun haus akan perhatian dan kasih sayang dari suaminya."


"Sssssttttt..." Bayu mengangkat dagu Maya. Dan sebuah kecupan hangat mendarat di bibir wanita itu. "Jangan diingat-ingat lagi, Sayang. Aku berada di sini untuk membahagiakanmu. Menyirami ragamu yang gersang akan perhatian dan kasih sayang."


Kecupan lembut yang diberikan oleh Bayu, seakan menjadi pemantik api hasrat yang ada dalam raga Maya. Ia yang sudah lama tidak merasakan nikmatnya bercinta, hasrat itu seakan kian berkobar hebat. Bukan hanya ciuman yang ia inginkan. Namun lebih daripada itu.


Maya mengusap bibir Bayu dengan jemarinya seraya tersenyum manis. "Terima kasih banyak Mas."


Suasana temaram yang hanya bermandikan cahaya lilin membuat suasana intim semakin terasa. Bayu yang juga selama satu bulan tidak merasakan nikmatnya bercinta karena ditinggal oleh Dinda, seakan larut dalam hasrat yang bergelora. Ia pun kembali mencium bibir merah wanitanya ini.


"Aaaaahhhhh ...."


Kecupan yang sebelumnya terasa begitu lembut, perlahan mulai berubah menjadi liar. Kecupan bibir kini berpindah ke area leher yang seketika membuat otot-otot tubuh keduanya semakin menegang.


"Sashhhhh .... Mas...."


Lantunan des*ahan juga mulai terdengar merdu memenuhi atmosfer kamar ini. Suara itulah yang membuat Bayu semakin bergairah. Ia kecup kuat-kuat leher Maya hingga menyisakan beberapa jejak kemerahan di sana.


Tangan yang sebelumnya tak melakukan apa-apa, kini mulai bergerilya membuka kancing kemeja yang dikenakan oleh Maya. Tanpa basa-basi, ia mulai memegang dua buah melon yang berada di balik bra hitam.


Bayu mulai mere*mas dan memainkan dua buah melon itu dengan penuh naf*su. Membuat Maya semakin larut dalam lautan hasrat yang bergelora. Tak sampai di sana saja, Bayu mulai menyusuri bagian dada Maya dengan bibirnya. Lidahnya pun nampak begitu asyik memainkan dua benda itu.


"Sayang ... bolehkah aku melakukannya? Tubuhmu ini benar-benar menggoda. Aku ingin bercinta denganmu."


Dua benda sintal milik Maya membuat tongkat ajaib milik Bayu semakin menegang. Tidak ada yang ia inginkan saat ini selain menuntaskan hasratnya.


Maya yang juga sudah dipenuhi oleh na*fsu hanya menganggukkan kepala. Sebagai isyarat mempersilakan Bayu untuk melakukan hal yang lebih jauh daripada ini.


Bayu mulai mendorong tubuh Maya hingga saat ini wanita itu dalam posisi terlentang. Satu persatu, ia melucuti pakaian Maya hingga saat ini tidak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya.


Bayu juga turut menanggalkan seluruh pakaian yang ia kenakan. Dan keduanya kini sama-sama dalam posisi polos tak berpakaian. Ia kembali mencium seluruh tubuh Maya sambil mengarahkan tingkat ajaibnya ke dalam lubang kenikmatan yang tertutup oleh rambut-rambut tipis yang justru terlihat semakin menggoda.


"Aaahhhhh .. . . Mas.... " Maya melenguh saat merasakan tongkat ajaib milik Bayu berhasil masuk ke dalam miliknya.


"Aaahhhhhh .... ini pasti akan terasa nikmat Sayang."

__ADS_1


****


"Mas Bayu!!!!"


Tubuh Dinda terperanjat saat mimpi buruk datang menyapa. Ia yang sebelumnya larut dalam buaian mimpi seketika terbangun. Kini, ia pun berada dalam posisi terduduk di atas ranjang.


"Astaghfirullah .... mimpi apa aku? Aku seperti melihat mas Bayu sedang bersama wanita lain."


Napas Dinda terputus-putus dengan degup jantung yang tiada beraturan. Mimpi yang menyapa seakan begitu nyata. Gegas, ia pun meraih ponsel yang berada di atas nakas untuk segera menghubungi Bayu.


Dinda semakin frustrasi saat nomor Bayu tidak aktif.


"Ya Tuhan, sebenarnya ini ada apa? Mengapa tiba-tiba aku mimpi buruk dan nomor mas Bayu tidak dapat dihubungi? Apakah ini merupakan satu firasat? Apakah ini satu pertanda bahwa mas Bayu bermain wanita di sana?"


Dinda sibuk bermonolog lirih dan hanyut dalam pikirannya sendiri. Hingga suara ketukan pintu kamar sedikit mengusiknya. Tanpa basa-basi, Dinda berjalan ke arah pintu dan membukanya.


"Loh Tuan, ada apa? Apa ada sesuatu yang Tuan butuhkan?"


"Seharusnya, aku yang bertanya kepadamu. Kamu kenapa berteriak di jam dua dini hari seperti ini? Apakah ada sesuatu yang membahayakanmu?"


"Eh ..." Dinda sedikit terkejut. "Kok Tuan bisa tahu kalau saya berteriak?"


"Ckkckkckk ... Bagaimana aku tidak tahu, suara kamu terdengar sampai ke ruang kerjaku!"


Dinda hanya bisa tersenyum kikuk. Tidak ia sangka jika teriakannya karena mimpi buruk sampai terdengar di telinga sang majikan.


"Maaf Tuan, saya hanya sedikit mimpi buruk. Maaf kalau teriakan saya mengganggu Tuan."


.


.


. bersambung


Assalamu'alaikum kakak-kakak tersayang ... semoga senantiasa sehat ya🥰 seperti biasa, author ingin mengucapkan terimakasih banyak untuk dukungan kakak-kakak semua yang masih setia mengikuti cerita ini. Mohon maaf belum bisa membalas satu persatu komentar-komentar kakak-kakak semua ya. Tapi percayalah, kalau komentar kakak-kakak semua yang bikin semangat 😘

__ADS_1


__ADS_2