Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 29. Permintaan Dinda


__ADS_3


"Jadi begitu Mas, aku mendapat tawaran dari Affa untuk bekerja di Jakarta. Apakah kamu mengizinkan aku untuk menerima tawaran itu?"


Aroma nikmat ubi cilembu rebus menguar memenuhi indera penciuman. Membuat siapapun yang berada di tempat ini ingin cepat-cepat mencicipi. Menjadi teman bercengkerama di waktu malam hari.


Tak jauh berbeda dengan Dinda dan keluarga. Selepas Bayu pulang dari ngojek, kudapan yang dipersiapkan oleh Dinda sudah matang. Dan kini waktunya untuk menikmati semua yang sudah tersaji.


Bayu memilih untuk menyeruput kopi hitam yang teronggok di samping ubi rebus. Bunyi sesapan di mulut pria itu seakan menggambarkan begitu nikmatnya kopi buatan sang istri. Ia kembali meletakkan cangkir itu di atas tatakan setelah minuman yang berasal dari biji kopi itu mulai membasahi kerongkongan.


"Aku rasa tidak ada salahnya jika kamu menerima tawaran dari Affa itu, Din. Kapan lagi kamu akan ditawari pekerjaan yang cukup menjanjikan. Karena kesempatan belum tentu datang dua kali bukan?"


Dinda menganggukkan kepala, sependapat dengan apa yang diucapkan oleh sang suami. "Iya Mas, aku juga berpikir demikian. Mumpung ada pekerjaan yang ditawarkan kepadaku. Jadi, kamu mengizinkanku untuk bekerja di Jakarta kan Mas?"


Dinda mengulang sekali lagi pertanyaannya. Untuk memastikan bahwa sang suami ridho dan ikhlas melepasnya untuk bekerja di ibu kota. Karena bagaimana pun juga ridho dan izin dari suami lah yang harus ia kantongi terlebih dahulu untuk melangkah ke depan.


Bayu mengangguk mantap seraya tersenyum lebar. "Iya Din, aku mengizinkanmu."


"Nah, betul itu Din. Tepat sekali jika kamu mengambil tawaran Affa. Kalau kamu ikut bekerja kan uang tabungan kita bisa semakin banyak dan kita bisa cepat kaya. Ibu sangat mendukung jika kamu bekerja di Jakarta."


Wajah Sonya nampak bersinar terang layaknya seseorang yang mendapatkan lotre. Entah mengapa saat ini ia merasa bahwa jalan untuk kembali menjadi orang kaya semakin terbuka lebar. Apalagi ditambah sang menantu yang akan bekerja di Jakarta. Dalam benak, ia berpikir bahwa gaji bekerja di Jakarta itu sangatlah besar.


"Terima kasih Bu, jika Ibu juga turut mendukungku. Semoga ini benar-benar bisa menjadi jalan bagi kita untuk memperbaiki kualitas kehidupan kita."


"Ya itu benar sekali. Maka dari itu, semua gaji yang kamu peroleh kamu kirimkan ke sini. Akan Ibu simpan dengan baik dan nanti ketika kamu sudah tidak lagi bekerja bisa menjadi uang tabunganmu," ucap Sonya memberikan sebuah usulan yang pasti dengan niat buruk terselubung.


Dahi Dinda berkerut. "Kenapa aku harus menitipkannya ke Ibu? Aku bisa menyimpan gajiku sendiri Bu. Tidak perlu Ibu yang menyimpannya."

__ADS_1


Sonya terhenyak. Tidak menyangka jika sang menantu akan membuat perlawanan seperti itu. "Eh, kamu ini dikasih tahu orang tua kenapa ngeyel sih Din? Kamu bekerja juga buat keluarga kan? Jadi tidak ada salahnya bukan jika Ibu yang menyimpan gajimu?"


"Ya tidak ada yang salah Bu. Tapi aku juga bisa menyimpannya sendiri."


"Kamu ini keras kepala sekali sih Din!" Nada bicara Sonya naik sepuluh oktaf bahkan napasnya terlihat ngos-ngosan. "Kenapa? Apa kamu tidak percaya pada Ibu untuk menyimpan gajimu? Kamu berpikir kalau Ibu akan membawa kabur uangmu?" sambung Sonya pula dengan penuh intimidasi.


"Sudahlah Din, kamu turuti saja permintaan Ibu. Ibuku kan ibumu juga. Aku yakin kalau Ibu bisa dipercaya untuk menyimpan gajimu," timpal Bayu mencoba untuk membujuk sang istri.


"Nah betul apa kata Bayu. Ibu tidak akan melakukan apapun terhadap gajimu Din. Ibu hanya ingin menyimpannya saja. Agar nanti kamu tinggal menikmatinya," pungkas Sonya meyakinkan.


Kelopak mata Dinda semakin menyipit dan dahinya semakin mengernyit. Apa yang menjadi permintaan sang Ibu mertua justru hanya membuatnya dihinggapi oleh ribuan tanda tanya.


Sebenarnya, apa niatan Ibu ingin sekali menyimpan hasil kerjaku di Jakarta? Apakah dia akan menyelewengkannya? Astaghfirullahalazim, aku tidak boleh berburuk sangka seperti ini. Namun aku harus tetap berhati-hati. Aku akan tetap mengirimkan gajiku untuk Ibu dan mas Bayu, tapi tidak semuanya. Maafkan aku ya Mas. Bukan maksudku untuk tidak percaya padamu atau ibu. Namun perkara uang pesangon itu sudah cukup membuatku berhati-hati dalam mengambil keputusan.


Dinda membuang napas sedikit berat. "Baiklah Bu, itu nanti bisa aku atur. Yang jelas berapapun nanti yang akan aku kirim, aku harap bisa Ibu dan Mas Bayu pergunakan dengan bijak."


Yess, dengan menyimpan gaji Dinda, sesekali bisa aku gunakan untuk membeli perhiasan. Hmmmm ... akhirnya hidupku akan kembali bergelimang harta.


****


Tetes-tetes peluh membasahi sekujur tubuh sepasang suami-istri yang baru saja selesai melakukan ritual ibadah rohani. Keduanya sama-sama tersenyum lebar, kala puncak kenikmatan itu berhasil mereka raih. Mencurahkan segala cinta kasih yang mereka miliki yang berada di bawah ikatan suci.


Bayu menyenderkan punggungnya di head board ranjang. Sedangkan tubuh Dinda, berada di dalam rengkuhan tangan kokoh sang suami. Bayu memberikan kecupan-kecupan intens di pucuk kepala istrinya ini sembari memainkan rambut hitam legam sang istri.


"Nanti saat kamu bekerja di Jakarta, kalau aku rindu akan sentuhanmu bagaimana ya Din?" tanya Bayu membuka obrolan.


Dinda yang mendengar pertanyaan sang suami hanya terkekeh geli. Terkekeh karena ia sama sekali belum menyiapkan jawaban untuk pertanyaan ini.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu harus bagaimana Mas. Karena ini baru akan menjadi pengalaman pertamaku berada jauh darimu."


"HhhhhHhhhhh... iya ya, aku baru ingat. Tapi sudahlah, aku bisa menahan itu semua Din, karena di sana kamu juga bekerja. Rasanya tidak pantas jika aku membahas perihal kebutuhan batin. Mungkin setiap tiga bulan sekali kamu bisa mengambil cuti?"


Dinda hanya tersenyum tipis. "Itu semua bisa diatur Mas. Yang terpenting saat ini aku harus bekerja sebaik mungkin agar tidak terlalu banyak mendapatkan komplain."


"Iya Din, kamu harus giat dalam bekerja. Siapa tahu majikan kamu akan banyak memberikan bonus untukmu," ucap Bayu penuh harap.


"Aamiin Mas. Yang terpenting, di sini kamu harus jaga diri dan jaga kesehatan ya Mas. Untuk sementara, aku tidak bisa mengurus semua kebutuhanmu. Kamu baik-baik ya. Jaga kepercayaanku."


Mendadak hati Dinda diselimuti oleh rasa takut. Seringkali ia mendengar berita kasus para suami yang berselingkuh saat istrinya bekerja di luar daerah. Ia yang sebelumnya begitu yakin bisa meninggalkan sang suami, mendadak ia meragu.


Bayu hanya tergelak pelan sembari mengusap rambut Dinda. "Kamu jangan berpikir yang macam-macam Din. Aku berjanji akan setia dan menjaga kepercayaanmu. Lagipula aku tidak sampai hati jika menghianatimu Din."


Dinda mendongakkan sedikit kepalanya. Menatap manik mata Bayu untuk mencari kebohongan yang mungkin terpancar dari sorot matanya. Namun Dinda melihat sorot mata itu benar-benar jujur.


Dinda tersenyum tipis. Tidak ada alasan untuk tidak mempercayai suaminya ini. Mungkin Bayu bisa berbohong perihal uang pesangon tapi untuk hati, ia rasa kesetiaan Bayu benar-benar bisa diuji.


Selama tiga tahun menjalani hubungan, Dinda tidak pernah melihat Bayu bermain api di belakangnya. Lelaki ini sangat bisa menjaga sikap dalam berhubungan dengan lawan jenis. Hal itulah yang membuat Dinda percaya bahwa lelakinya ini setia.


"Aku pegang ucapanmu Mas. Aku tidak minta apapun. Yang aku minta hanya kesetiaanmu."


"Aku janji Din. Aku janji."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2