
"Ya ampun Sur, aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi. Kalau tidak salah kita bertemu untuk terakhir kali saat kelulusan SMP ya?"
Di sebuah warung kupat tahu yang ada di pasar, Kartina mengajak Surti dan Dinda untuk menepi. Setelah menikmati sajian kupat tahu itu, kini mereka mengobrol ke sana kemari dan hanyut dalam nostalgi.
"Iya Tin, selesai SMP, kamu pindah rumah sedangkan aku tidak melanjutkan sekolah dan memilih untuk bekerja."
"Tidak mengapa Sur, masing-masing kita sudah digariskan takdir hidupnya dan kita hanya bisa terus menjalaninya."
"Lalu, mengapa kamu bisa ada di sini Tin? Bukankah saat itu kamu dan keluargamu pindah ke Sumatra?" tanya Surti sedikit penasaran.
Kartina menganggukkan kepala. "Betul Sur, namun setelah aku kehilangan orang tuaku, suami serta anak sulungku, aku memilih untuk kembali ke kota ini."
"Innalillahi .... Maaf ya Tin, aku tidak bermaksud untuk mengingatkanmu akan hal itu."
Tina hanya tersenyum tipis seraya menggeleng pelan. "Tidak apa-apa Sur. Yang jelas saat ini aku sedang bahagia karena baru saja putriku menikah dengan lelaki yang ia cinta. Setelah gagal di pernikahannya yang pertama, akhirnya saat ini dia bertemu dengan lelaki yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya."
"Alhamdulillah ... Aku turut bahagia mendengarnya Tin."
Kartina mengedarkan pandangannya ke arah Dinda yang sedari tadi sibuk dengan ponsel di tangannya. Ia teramat penasaran siapa gerangan wanita ini.
"Oh iya Sur, apakah ini putrimu? Sungguh cantik sekali dia!"
Surti terkekeh pelan. Tak menyangka jika rekan sejawatnya dikira sebagai anaknya.
__ADS_1
"Bukan Tin, dia ini adalah penggantiku saat aku tidak lagi bekerja di rumah majikanku. Sudah hampir dua bulan dia bekerja di Jakarta."
"Oh, aku kira dia putrimu."
"Bukan. Dia ini kasihan sekali. Niat hati pulang kampung untuk bertemu dengan suami dan mertuanya, namun yang ia dapati rumah yang ditinggali kosong tiada berpenghuni. Oleh karena itu aku bermaksud untuk mengajaknya beristirahat di tempatku terlebih dahulu."
"Ya ampun ceritanya seperti itu? Kok bisa rumahnya kosong tak berpenghuni, memang mereka ke mana?"
Dinda yang tak sengaja mendengar pertanyaan Kartina gegas ia tautkan pandangannya ke arah wanita di depannya ini.
"Saya pun juga tidak tahu Bu, karena susah sekali mereka dihubungi. Bahkan saya pikir suami serta ibu mertua saya sudah berganti nomor ponsel."
"Lalu sekarang apa yang akan kamu lakukan Nak?"
Mendengar cerita Dinda, membuat hati Kartina sedikit iba. Namun ia juga tidak tahu harus melakukan apa.
"Ibu turut prihatin ya Nak. Semoga sebentar lagi kamu bisa bertemu dengan suami dan mertuamu."
"Aamiin Bu, terima kasih banyak."
Surti melihat jam digital di ponsel yang ia bawa. Tidak terasa sudah hampir dua jam ia berada di pasar. Ia pun menepuk pundak Dinda.
"Dinda, ayo pulang. Untuk sementara waktu kamu tinggal dulu di rumahku. Nanti siang kamu bisa kembali ke rumahmu barangkali suami dan mertuamu sudah kembali."
__ADS_1
Kartina sedikit terkejut kala mendengar Surti memanggil nama Dinda. Wanita paruh baya itu seakan tidak begitu asing dengan nama yang dipanggil oleh Surti.
"Tunggu, tunggu sebentar Sur!"
"Iya Tin, ada apa?"
"Kamu tadi memanggil wanita ini dengan Dinda?"
"Betul Tin, namanya Dinda. Memang ada apa Tin?"
Tina berusaha keras untuk mengingat-ingat nama Dinda. Baginya nama ini sungguh tidak asing di telinganya. Seketika kedua bola matanya terbelalak saat obrolannya dengan Sonya saat pernikahan anak-anak mereka mulai terngiang di telinganya.
"Nak, kalau boleh tahu, siapa nama suami dan mertuamu?"
"Suami saya bernama Bayu, Bu. Sedangkan mertua saya bernama Sonya!"
"Apaaa?!!!!!!"
.
.
. bersambung
__ADS_1