
Pagi berselimut kabut setelah semalam bumi diguyur oleh hujan lebat. Bayu masih nampak terlelap, menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut tebal. Mencari kehangatan di sana. Suasana masih nampak temaram, meskipun jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.
"Bbbbrrrrrrr .... dingin Bu. Jangan dibuka jendelanya. Aku kedinginan!"
Bayu melenguh kala udara dingin terasa begitu menusuk tulang setelah sang ibu membuka jendela kamar. Biasanya, anak-anak sinar matahari lah yang memberikannya kehangatan. Namun tidak untuk hari ini. Karena, jangankan untuk memancarkan sinar, menampakkan wajahnya saja raja siang itu seakan enggan. Memilih untuk bersembunyi di balik awan hitam yang berkoloni di hamparan langit.
"Ckckckck ... dingin, dingin. Ini sudah jam setengah tujuh pagi Bay. Biasanya kamu menerima orderan offline kan? Apa kamu mau terlambat untuk menjemput pelangganmu itu?"
Sonya berdecak kesal melihat sang anak yang masih bergelung dengan selimut tebal. Jika sampai anaknya ini telat menjemput pelanggan offline, bisa-bisa kesempatan untuk mendapatkan tarif tiga kali lipat tidak akan pernah ia dapatkan lagi. Padahal tarif tiga kali lipat itu teramat bermanfaat untuknya.
Mendengar kata orderan offline membuat tubuh Bayu seakan bersemangat seketika. Ia yang sebelumnya masih didera oleh rasa kantuk, dan rasa dingin tiba-tiba saja musnah. Tergantikan oleh semangat yang begitu membara. Bayu bangkit dari posisi berbaringnya dan menyambar handuk yang menggantung di pintu untuk segera masuk ke kamar mandi.
"Aku mandi dulu Bu. Tolong bikinkan aku kopi ya," ucapnya sebelum tubuhnya hilang di balik pintu kamar. Sedangkan Sonya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat polah tingkah putranya.
"Untung kamu ini anakku Bay. Kalau bukan, mana mau aku kamu suruh bikin kopi."
****
Secangkir kopi dengan kudapan ubi goreng terhidang di atas meja. Sedikit kepulan asap yang keluar dari dua hidangan itu menguar dan menyisakan aroma khas. Seakan menggoda orang-orang yang berada di sekitar untuk segera mencicipi.
"Huhhh ... kapan aku bisa makan sandwich atau roti panggang untuk kudapan pagi hari seperti ini? Setiap hari hanya ubi, kalau tidak ubi singkong, kalau tidak singkong tape goreng. Lama-lama aku bisa lupa rasanya menjadi orang kaya yang hidangannya tidak kampungan seperti ini."
Hidangan kudapan yang seharusnya disyukuri oleh Sonya karena Tuhan masih memberikan rezeki berupa makanan untuk mengisi perutnya, justru dikeluhkan oleh wanita paruh baya itu. Nampaknya ia terlanjur jenuh dengan hidangan ini yang menurutnya seperti hidangan orang kampung. Padahal tidak ada yang salah dengan ubi, singkong ataupun tape goreng itu. Karena sejatinya tiga bahan itu bisa menjadi hidangan yang cukup nikmat jika dinikmati dengan penuh rasa syukur. (Ini makanan kesukaan penulisnya 😆😆)
__ADS_1
Bayu menyulut batang rokok yang ia pegang sembari menyeruput kopi hitamnya. "Sabar Bu, sebentar lagi pasti keadaan kita bisa kembali seperti semula. Ibu harus yakin itu."
"Sabar, sabar, Ibu sudah tidak sabar untuk segera menjadi orang kaya Bay. Lagipula, kapan Dinda gajian dan mengirimkannya untuk kita?" ucap Sonya dengan nada penuh emosi.
Bayu sedikit terhenyak mendengar penuturan sang Ibu. "Bu, Dinda itu baru tiba di Jakarta kemarin sore. Masa iya Ibu sudah menanyakan kapan Dinda gajian?"
"Astaga, Ibu sampai lupa. Ibu kira sudah satu bulan Dinda bekerja di Jakarta," ucap Sonya sembari menepuk jidat. "Eh, tapi kamu sudah menghubungi Dinda kan?" tanya Sonya pula. Tangannya pun terulur jua untuk mencomot ubi goreng di depan matanya. Meskipun sebelumnya, ia mencibir makanan itu. (Huh, gengsi gak akan bikin kamu kenyang Bu😌)
"Kemarin sudah Bu. Nanti coba aku hubungi lagi."
"Baguslah, jangan sampai Dinda merasa diabaikan. Bisa bahaya kalau istri kamu itu sampai merasa bahwa kamu mengabaikannya Bay," ucap Sonya memberikan sebuah peringatan. "Oh iya, memang yang menjadi pelanggan offline kamu itu siapa sih Bay? Apa dia orang kaya karena berani memberimu tarif tiga kali lipat dari tarif biasa?"
Rasa ingin tahu Sonya seakan begitu menggebu akan sosok pelanggan yang selalu memberikan tarif lebih untuk sang anak. Setiap kali sang anak pulang dengan membawa lembaran-lembaran mata uang berwarna merah, mata wanita itu seakan menjadi silau. Ia ingin tahu sekali siapa pelanggan offline Bayu ini.
Bayu mengangguk pelan seolah membenarkan tebakan sang ibu. "Benar Bu, dia orang kaya, sangat-sangat kaya. Bahkan rumahnya seperti istana. Megah dan mewah." Bayu yang sebelumnya fokus ke arah depan, kini ia geser pandangannya ke arah samping. "Ibu tahu rumah megah yang berada di ujung jalan sana itu?"
"Iya Bu, itu rumahnya. Besar kan?"
Wajah Sonya dipenuhi oleh binar ketakjuban. "Wah, wah, kalau itu sih bukan hanya mewah Bay, tapi mewah sekali. Ibu bangga melihatmu bisa memiliki pelanggan orang kaya seperti itu."
"Ya maka dari itu dia tidak perhitungan memberikan tarif tiga kali lipat untukku, Bu." Bayu mematikan batang rokok yang hanya tinggal beberapa centimeter saja. Ia bangkit dari duduknya, menyeruput kopi dan memakai jaket berwarna hijau khas driver ojek online. "Aku berangkat dulu ya Bu. Sudah jam tujuh lebih lima belas menit, aku takut kalau terlambat sampai sana."
Sonya ikut bangkit dari posisi duduknya. "Iya, hati-hati kamu Yu. Semoga hari-hari mendatang tidak hanya tiga kali lipat yang kamu dapatkan, tapi lima kali lipat."
Bayu hanya tersenyum tipis. Ia ayunkan tungkai kakinya untuk menuju ke motor yang tengah ia panaskan di halaman rumah. Motor yang dikemudikan oleh Bayu bergerak dan perlahan mulai hilang di telan pagi yang masih sedikit berselimut kabut ini.
__ADS_1
***
"Mas Bayu!"
Bayu yang tengah duduk di atas jok motor di depan pintu gerbang rumah mewah ini sedikit terperanjat kala suara bariton mulai merembet ke dalam indera pendengaran yang berasal dari balik punggungnya.
Bayu berbalik punggung. "Iya Pak, ada apa?"
"Mas Bayu diminta oleh Ndoro putri untuk masuk ke dalam. Ada hal penting yang ingin disampaikan oleh Ndoro putri kepada mas Bayu."
"Apa? Ingin menyampaikan sesuatu kepada saya?" tanya Bayu yang sedikit tidak percaya. "Kira-kira apa ya Pak?"
Lelaki dengan pakaian khas seorang satpam itu hanya tersenyum tipis dan menggelengkan kepala. "Saya tidak begitu tahu apa yang ingin Ndoro putri sampaikan, Mas. Namun sepertinya hal yang sangat penting. Maka dari itu, mas Bayu segera masuk saja ke dalam agar lebih jelas."
"Aduh, saya kok tiba-tiba menjadi deg-degan seperti ini ya Pak? Jangan-jangan saya berbuat kesalahan tanpa saya sadari?" ucap Bayu menerka-nerka.
"Saya juga kurang paham Mas. Monggo saya antar, Ndoro putri sudah menunggu mas Bayu di dalam."
Satpam itu melangkahkan kaki memandu Bayu yang mengekor di belakang punggungnya. Sedangkan Bayu sendiri masih hanyut dalam pikirannya sendiri. Kesalahan apa yang ia lakukan sampai-sampai membuat pemilik rumah ini memanggilnya secara pribadi.
Apakah tarif pengantaranku akan bertambah menjadi sepuluh kali lipat? Jika iya, doa ibu benar-benar mustajab. Langsung dikabulkan oleh Tuhan.
.
.
__ADS_1
. bersambung...
Hayooo .... kira-kira Bayu disuruh ngapain ya? Mungkin disuruh beli cilok atau es Oyen di jalan depan atau yang lainnya? Silakan tulis di kolom komentar ya Kak... 🤣🤣🤣🤣