
Sonya merebahkan tubuhnya di atas kursi gilli yang berada di pinggir kolam renang. Ia menatap genangan air yang membiru yang terlihat menyejukkan mata. Wanita paruh baya itu melewati pagi harinya sembari mensembari menikmati jus jeruk dan juga sandwich yang telah tersedia.
"Haaaaahhhhh .... Nikmat sekali hidup seperti ini. Setiap pagi bersantai di pinggir kolam renang dengan hidangan yang sudah disajikan oleh pembantu rumah tangga. Ternyata keluarga Maya benar-benar kaya raya sampai bisa memiliki rumah beserta fasilitas semewah ini."
Senyum lebar tiada henti terbit di bibir Sonya. Ia teramat menikmati hidupnya saat ini. Sebuah kehidupan yang sangat berbeda dan berbanding seratus delapan puluh derajat dari kehidupan sebelumnya. Ia yang sebelumnya hidup dalam kebelangsakan kini berubah menjadi hidup dengan penuh kemewahan.
"Ternyata Bayu memang pandai mencari istri. Ya meskipun saat ini Maya adalah istri kedua tapi aku harus cepat-cepat membujuk Bayu untuk segera menceraikan Dinda. Daripada mempertahankan wanita miskin itu lebih baik Bayu menjadikan Maya satu-satunya pendamping hidup. Aku rasa tidak ada ruginya jika Bayu segera menceraikan Dinda."
Sonya mencomot sepotong sandwich untuk kemudian ia masukkan ke dalam mulut. Baru kali ini ia merasakan camilan orang kaya karena biasanya yang ia nikmati adalah singkong goreng yang menurutnya merupakan camilan kaum dhuafa. Dengan penuh penghayatan, ia menikmati potongan sandwich itu.
"Bu!"
Sonya yang tengah bersantai ria seketika terkejut kala mendengar suara seseorang yang memanggilnya. Ia menoleh ke arah sumber suara, terlihat sang menantu yang masih mengenakan pakaian tidur yang dibalut dengan cardigan panjang itu menghampirinya.
"Eh iya May, ada apa?" ucap Sonya seraya menggeser tubuhnya dan kemudian ia mengambil posisi duduk.
"Aku boleh minta tolong Bu?"
"Apa itu May? Kalau bisa pasti akan Ibu lakukan."
"Tolong temani Cantika ke sekolah ya Bu. Badanku benar-benar lelah sekali. Nanti biar diantar oleh pak sopir."
Sonya menatap intens wajah menantunya ini. Wajah Maya memang terlihat sayu dan lelah sekali. Sejenak kemudian pandangannya pun tertuju pada area leher dan dada Maya yang sedikit terekspos. Sonya begitu terkejut kala melihat ada banyak bekas-bekas merah di sana. Meskipun terkejut namun Sonya berupaya untuk tetap tenang.
Waoooowwww ... Putraku benar-benar ganas di atas ranjang sampai meninggalkan kissmark sebanyak itu ditubuh Maya. Kalau seperti ini tak lama lagi Maya pasti hamil dan jika sampai mereka punya anak, maka akan mendapatkan warisan juga dari Kartina. Ulalaaa hidupku benar-benar penuh keberuntungan.
"Bu, kok melamun? Ibu bisa kan mengantar Cantika?"
Sonya sedikit terhenyak kala sang menantu menepuk pundaknya. Sonya mencoba untuk meraih kesadarannya.
"Eh, tidak kok May, Ibu tidak melamun. Baiklah kalau begitu, biarkan Ibu yang menemani Cantika ke sekolah. Kamu lanjut istirahat saja."
"Syukurlah kalau begitu Bu. Terima kasih banyak. Ini mas Bayu juga masih tidur pulas, aku tidak tega jika harus membangunkannya."
"Sudah, sudah, kamu tidak perlu khawatir May, biar Ibu yang mengantar Cantika. Pengantin baru memang seharusnya lebih sering berada di dalam kamar."
Maya tertipu malu. "Ah Ibu ini bisa saja. Kalau begitu aku kembali ke kamar ya Bu."
"Oke Nak, yang rajin bikin adonan ya. Biar Cantika bisa cepat punya adik."
Pipi Maya semakin merona. Perkataan sang ibu mertua hanya membuatnya semakin malu saja. "Iya Bu, semoga Cantika bisa segera punya adik."
__ADS_1
Sonya mengayunkan kakinya untuk masuk ke area ruang tengah. Terlihat di sana Cantika sudah siap dengan seragam sekolahnya.
"Ayo cucu Nenek yang cantik, kita berangkat. Sudah siap kan?"
"Ayo Nek, Cantika sudah siap!"
***
Mobil yang dikemudikan oleh sopir pribadi Kartina memasuki halaman rumah mewah dua lantai bergaya Klasik Eropa. Dinda yang tengah berada di dalam mobil, begitu terkesima menatap bangunan mewah di hadapannya ini. Ia semakin sadar bahwa ternyata suami dan mertuanya memang tidak bisa hidup serba kekurangan. Karena pada kenyataannya, yang mereka cari adalah orang-orang kaya yang bisa memberi mereka kemewahan.
"Nak, apakah kamu benar-benar sudah siap?" tanya Kartina memastikan sebelum keluar dari dalam mobil.
"Iya Bu, saya sudah siap. Ibu tenang saja, saya bisa menghadapi ini semua."
Kartina tersenyum getir melihat sosok Dinda yang ada di hadapannya ini. Seorang istri yang seharusnya dicintai, dijaga dan dilindungi oleh sang suami namun yang ada justru sebaliknya. Wanita ini justru disakiti dan disia-siakan oleh suaminya sendiri.
Tidak pernah ia sangka jika sosok lelaki yang ia kenal dengan sikap juga perangainya yang begitu baik ternyata adalah seorang pembohong.
"Baiklah kalau begitu. Ibu akan masuk ke dalam dan kamu tunggu dulu di depan teras. Nanti setelah Ibu panggil, baru kamu masuk."
"Baik Bu."
"Mas, ayo bangun. Ini sudah siang Mas!"
Maya yang sebelumnya membiarkan sang suami larut dalam lautan mimpi, ternyata ia sudah tidak tahan lagi. Wanita yang resmi menjadi istri kedua dari Bayu itu memutuskan untuk membangunkan sang suami.
Tubuh Bayu bergeliat. Perlahan kedua kelopak matanya terbuka. Dan ia sedikit memicingkan mata karena anak-anak sinar matahari yang masuk ke dalam kamar terasa begitu menusuk kornea.
"Ini jam berapa Sayang, kok sepertinya sudah siang sekali?"
Maya menghela napas dalam seraya ia lipat selimut yang terjatuh di atas lantai. "Jam setengah delapan. Mas. Sekarang kamu mandi terus siap-siap ya Mas. Aku ingin mengajakmu ke perusahaan milikku."
Mendengar kata perusahaan sontak membuat tubuh Bayu sedikit terperanjat. Ia yang sebelumnya masih berada dalam posisi terlentang, kini seketika terduduk.
"Mengajakku ke perusahaan? Di sana aku harus melakukan apa Sayang?"
Maya hanya bisa berdecak pelan seraya menggeleng-gelengkan kepala. Tidak ia sangka jika Bayu belum paham akan apa yang menjadi maksudnya.
"Mas, saat ini kamu adalah suamiku dan sudah menjadi tugas dan kewajibanmu untuk mencari nafkah."
Dahi Bayu mengernyit karena masih belum paham kemana arah pembicaraan Maya. "Lalu maksud kamu apa Sayang?"
__ADS_1
"Aku akan memintamu untuk menggantikan posisiku sebagai presedir Mas. Aku akan mengenalkanmu tentang bisnis yang aku jalani. Dan setelah itu aku akan memintamu untuk memimpin perusahaanku."
Wajah Bayu nampak begitu berbinar. Seakan mendapatkan durian runtuh, ia teramat bahagia mendapatkan kabar ini. Lelaki itu beranjak dari ranjang dan menghamburkan tubuhnya di dalam dekapan Maya.
"Terima kasih banyak Sayang, karena kamu mempercayakan perusahaanmu untuk aku pegang. Aku sungguh bahagia Sayang."
"Itu sudah seharusnya Mas, aku ingin kamu yang meng-handle semua."
Baru saja Bayu akan mengecup bibir seksi Maya namun tiba-tiba terdengar suara pintu kamar di ketuk.
"Tuan, Nyonya, mohon maaf di depan ada tamu."
Maya dan Bayu sama-sama bertatap netra. "Siapa Bi?"
"Ndoro putri Nyonya."
"Astaga kalau ibu yang datang, bisa Bibi langsung antar ke kamar sekalian, biar istirahat," teriak Maya masih dari dalam kamar."
"Tapi bukan hanya Ndoro Putri saja, Nyonya."
Tak kuasa menahan tanda tanya akan siapa yang datang, Bayu dan Maya sama-sama keluar kamar untuk menemui siapa gerangan yang datang.
"Loh, kata bibik, Ibu datang kemari tidak sendirian? Memang sama siapa Bu?"
Maya sedikit keheranan ketika melihat keberadaan sang ibu
Kartina hanya mengulas sedikit senyumnya. Ia menoleh ke arah pintu yang terbuka.
"Din, masuklah!"
Bayu dan Maya semakin dibuat kebingungan akan sikap yang ditampakkan oleh Kartina. Keduanya pun ikut menoleh ke arah pintu dan tak selang lama, terlihat sosok seorang wanita yang sukses membuat tubuh Bayu bergetar hebat.
"D-Dinda?"
Dinda tersenyum simpul. "Apa kabar mas Bayu?"
.
.
. bersambung...
__ADS_1