Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 96. Keluar dari Istana


__ADS_3


"Mas, ayo lekas kemasi pakaian-pakaian kita. Kita harus segera meninggalkan rumah ini!"


Maya tengah berkutat dengan pakaian-pakaian yang ada di hadapannya. Pakaian-pakaian yang masih tersusun rapi di dalam lemari untuk kemudian ia keluarkan dari dalam sana. Ia pindah ke dalam sebuah koper yang sudah tersedia.


Berbeda jauh dengan Maya yang terlihat begitu bersemangat, Bayu justru menampakkan raut wajah yang sendu. Lelaki itu seakan belum rela untuk keluar dari rumah ini. Baru saja ia berada di atas angin dengan menjadi orang kaya yang serba kecukupan tapi baru sekejap semua itu sirna. Sudah dipastikan jika saat ini hidupnya akan kembali blangsak seperti sedia kala.


"May, apa kamu tidak bisa membujuk Ibu agar mengubah keputusannya? Barangkali kamu bisa bernegosiasi dengan Ibu tentang rumah ini May!"


Bayu sungguh masih sangat berharap agar ia tidak sampai keluar dari rumah ini dan Maya tetap mempertahankan istana megah ini. Sebagai seseorang yang pernah mengalami betapa menderitanya hidup dalam kemiskinan, Bayu tidak ingin kembali merasakannya lagi. Oleh karena itulah sedari tadi Bayu mencoba untuk membujuk Maya agar berdiskusi lagi dengan sang mertua.


Maya menggelengkan kepala. "Tidak bisa Mas. Ibu memiliki pendirian yang begitu kuat. Sekali dia bilang pergi, ya kita harus pergi. Tidak ada yang bisa mengubah keputusannya."


"Tapi setelah ini kita harus bagaimana May? Semua uangku sudah habis untuk persiapan pernikahan siri kita kemarin. Dan sekarang aku sama sekali sudah tidak memiliki simpanan!"


Wajah Bayu nampak semakin memelas saja. Kali ini ia seperti berada di titik terendah dalam hidupnya. Sama sekali tidak memiliki uang untuk bisa bertahan hidup. Uang hasil menggadaikan sertifikat rumah Dinda sudah habis begitu saja tiada berbekas. Memang benar kata orang, tidak akan ada keberkahan bagi orang yang berbuat dzolim kepada sesama.


Sejenak, Maya menghentikan aktivitasnya. Ia hanya tersenyum tipis ke arah Bayu. "Tidak masalah Mas. Bisa kita gunakan uang mahar itu untuk kita bertahan hidup. Mungkin dengan mencari kontrakan terlebih dahulu?"


"K-kamu serius mau menggunakan uang mahar itu untuk mencari kontrakan?" tanya Bayu sedikit tidak percaya. Biasanya para istri menggunakan mahar yang ia dapatkan untuk membahagiakan diri mereka sendiri.


"Serius Mas. Dengan uang itu kita pasti bisa mendapatkan tempat tinggal. Setelah itu kamu yang berusaha untuk mencari pekerjaan agar bisa menyambung hidup kita," jelas Dinda.


Bayu membuang napas kasar seraya mengusap wajahnya kasar pula. Ingin rasanya ia mencari jalan keluar lain namun semua seakan buntu. Tak ada celah sedikitpun untuk keluar dari permasalahan ini.


"Baiklah, kali ini aku nurut apa katamu saja May, toh aku juga buntu tidak memiliki jalan keluar!"


"Nah begitu dong Mas. Kita harus tunjukkan kepada Ibuku dan juga mantan istrimu bahwa kita bisa selalu bahagia. Cinta yang kita punya inilah yang akan selalu menguatkan kita!"


Bayu hanya bisa tersenyum tipis. Entah apa yang sedang ia rasakan saat ini. Bahkan untuk menggambarkan suasana hatinya saja sungguh sulit ia lakukan.


Apa mungkin kita bisa hidup bahagia tanpa adanya materi yang berlimpah? Padahal salah satu alasanku mengejarmu bahkan sampai meninggalkan istriku karena kamu adalah orang kaya, May. Lantas jika saat ini kita miskin, apa bedanya hidupku hari kemarin dengan hari ini?

__ADS_1


"Kenapa melamun Mas? Ayo bantu aku berkemas. Setelah ini kita kemasi barang-barang Ibumu dan juga Cantika!"


Bayu terhenyak kala Maya menepuk pundaknya. Ia seakan tersadar dari lamunannya dan bergegas membantu Maya untuk melanjutkan aktivitasnya.


***


Di ruang tengah, Kartina duduk di sofa sembari berselancar di dunia maya. Melihat berita yang tengah viral dan sekedar scrolling aneka resep masakan.


Pandangannya yang sebelumnya intens menatap layar gawai, kini beralih ke arah empat orang yang baru saja menuruni anak tangga. Siapa lagi jika bukan Maya, Bayu, Sonya dan juga Cantika. Di tangan tiga orang dewasa itu masing-masing sudah menggeret sebuah koper.


Kartina meletakkan gawainya di atas meja. "May, kamu yakin keluar dari rumah ini?"


"Yakin Bu. Maya akan tetap hidup bersama dengan Mas Bayu," jawab Maya dengan mantap.


"May, kamu ingat? Sejak kecil kamu selalu hidup di dalam kemewahan dan dalam keadaan serba kecukupan? Apa kamu yakin akan menjalani kehidupan dengan lelaki yang bahkan tidak memiliki pekerjaan ini?"


Kartina masih berupaya untuk menghentikan langkah sang putri agar tidak melanjutkan pernikahannya dengan Bayu. Wanita paruh baya itu yakin jika kehidupan sang anak akan menderita jika bersama lelaki macam Bayu ini. Lelaki yang tega berhianat di saat sang istri banting tulang menjadi asisten rumah tangga di ibu kota.


"Maya yakin Bu. Dengan cinta yang Maya dan mas Bayu miliki, kami pasti bisa hidup bahagia. Dan akan Maya buktikan kepada Ibu jika hidup kami tidak akan menderita."


Maya tergelak lirih. "Ibu tenang saja. Mas Bayu pasti bisa memenuhi itu semua."


Bayu dan Sonya tidak dapat berbuat apapun. Ibu dan anak itu hanya menjadi pendengar setia dalam pembicaraan Maya dan juga Kartina. Mungkin mereka sudah terlanjur malu karena kebohongan yang mereka simpan telah terbongkar. Sehingga membuat mereka hanya bisa terdiam dan membisu.


Kartina membuang napas kasar. Kali ini, ia tidak dapat lagi membujuk Maya untuk meninggalkan Bayu. Putrinya ini seakan sudah cinta mati dengan Bayu.


Kartina bangkit dari posisi duduknya. Ia mendekati sang cucu yang tengah digandeng oleh Sonya. Wanita paruh baya itu sedikit membungkukkan tubuhnya. Ia pegang pundak kecil Cantika.


"Sayang, kamu baik-baik ya. Kapanpun Cantika mau datang ke rumah Oma, pintu rumah ini akan senantiasa terbuka. Semoga cucu Oma ini selalu bahagia!"


Cantika yang belum paham akan apa yang terjadi hanya bisa menganggukkan kepala seraya tersenyum lebar.


"Iya Oma. Kalau Cantika tidak datang kesini, Oma yang datang mengunjungi Cantika ya," ucap gadis kecil itu dengan polos.

__ADS_1


Kartina hanya bisa tersenyum getir. "Iya Sayang. Oma pasti akan mengunjungi Cantika."


"Baiklah Bu, kalau begitu Maya pamit. Sekali lagi Maya katakan, bahwa Maya tidak pernah salah dalam mencintai dan memilih mas Bayu."


Kartina tersenyum simpul. "Silakan buktikan May!"


Maya, Bayu, Sonya dan Cantika melenggang pergi meninggalkan rumah yang seperti istana ini. Kali ini mereka harus menggunakan jasa taksi online untuk bisa tiba di tempat yang mereka tuju.


Kartina hanya bisa menatap nanar punggung sang putri dan juga cucunya. Tanpa terasa setetes kristal bening jatuh dari pelupuk matanya.


Mungkin saat ini cintalah yang sudah membutakanmu hingga membuat hatimu tidak bisa mendengarkan nasihat-nasihat Ibu. Namun suatu saat nanti pasti kamu akan menyadari bahwa Bayu bukanlah lelaki baik-baik, Nak.


****


Jakarta


"Apalagi yang ketinggalan Lan? Handphone?dompet?baju ganti? ****** *****? Sudah masuk semua?"


Layaknya seorang Ibu, Joni sedari tadi tiada henti mengingatkan Erlan akan keperluan apa saja yang dibutuhkan selama berada di kampung mbok Darmi. Sampai ****** ***** pun ia ingatkan agar tidak kelupaan.


"Kamu ini sudah berapa kali menanyakan hal itu Jon? Semua sudah ada di dalam koper!" ucap Erlan dengan kesal. Apalagi saat mendengar ****** *****. Sungguh geli rasanya.


"Baiklah. Kamu hati-hati di jalan ya Lan. Semoga setelah bertemu dengan mak Erot, burung pipitmu bisa berubah menjadi burung rajawali, hahaha!"


Pletakkk!!!


Satu jitakan mendarat di kening Joni hingga membuat lelaki itu menghentikan tawanya. Bahkan ia mengusap-usap keningnya kala rasa nyeri itu begitu terasa.


"Sudah, aku berangkat dulu. Ingat, handle baik-baik perusahaanku. Jangan sampai kacau balau!"


"Siap Bosss!!!"


Dengan langkah tegas, Erlan keluar dari apartemen miliknya. Kali ini ia akan bertandang ke kota di mana Dinda tinggal dengan dipenuhi oleh kebahagiaan. Entah bahagia karena burungnya akan berubah menjadi burung rajawali ataukah bahagia karena akan bertemu dengan Dinda.

__ADS_1


Entahlah. Hanya Erlan dan Tuhan lah yang mengetahui...


__ADS_2