Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 26. Di Belahan Kota Jakarta


__ADS_3


Mentari pagi mulai naik ke singgasana. Menggantikan dewi malam yang lelah setelah semalam berjaga. Anak-anak sinar kuning keemasan yang terpancar, seakan menjadi semangat baru bagi penduduk bumi untuk memulai aktivitas mereka. Induk-induk burung pipit juga mulai keluar dari sarang. Terbang bebas mencari makanan untuk anak-anak mereka.


Seorang pria berbadan tinggi tegap nampak berdiri di perbatasan antara dapur dengan ruang tengah. Dari tempatnya ia berdiri, ia bisa melihat sosok wanita berusia kurang lebih enam puluh tahun yang sedang sibuk dengan aktivitasnya di dapur. Meskipun usia wanita itu sudah terbilang lanjut, namun masih terlihat begitu bugar.


Wanita berusia enam puluh tahun itu berbalik badan setelah masakan yang ia buat telah matang. Ia sedikit terkejut saat melihat sosok pria yang berdiri terpaku tak jauh dari tempatnya. Dahi wanita itu sedikit berkerut, keheranan akan apa yang sejatinya dilakukan oleh pria ini.


"Den Erlan?" sapa si wanita berusia lanjut itu yang seketika membuat si lelaki yang bernama Erlan terkesiap.


Erlan mengerjabkan mata. "Eh, mbok Surti?"


"Den Erlan sedang apa di sana? Mengapa termangu seperti itu? Awas, nanti kesambet setan kompor loh!"


Erlan hanya terkekeh pelan. Dengan langkah kaki tegap, ia berjalan ke arah kursi mini bar untuk kemudian ia daratkan bokongnya di sana.


"Mbok Surti serius untuk berhenti bekerja?"


Wanita berusia lanjut bernama Surti itu, sekilas hanya tersenyum simpul. Sebelum pada akhirnya, ia juga ikut duduk di samping Erlan.


"Simbok ini sudah tua Den. Sudah waktunya pulang ke kampung untuk menikmati hari tua Simbok bersama keluarga. Lagipula den Erlan sudah dewasa, sudah berumur dua puluh tujuh tahun, jadi Simbok rasa tidak perlu untuk Simbok asuh lagi."


Ada sedikit rasa sesak yang memenuhi rongga-rongga dada milik Surti kala mengatakan hal ini. Sejak Erlan masih berwujud bayi merah, Surti sudah mengasuhnya. Dan kini, setelah dua puluh tujuh tahun berlalu, rasa-rasanya begitu berat jika harus meninggalkan Erlan. Bagi Surti, Erlan sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri.


"Tapi, setelah ini aku harus bagaimana Mbok? Siapa yang akan menemaniku untuk tinggal di apartement ini? Simbok tahu sendiri bukan kalau selama ini aku hanya tinggal bersama mbok Surti?"


Tatapan sendu tergambar jelas pada sorot mata Erlan. Memori tentang masa kecilnya dimana ia selalu berada di bawah asuhan Surti tiba-tiba kembali berputar yang membuat lelaki itu merasa berat jika harus berpisah dengan Surti. Rasanya ia tidak sanggup untuk merelakan pengasuhnya ini pergi dari kehidupannya.

__ADS_1


Melihat tatapan Erlan yang begitu sendu, turut membuat hati Surti juga berdenyut nyeri. Namun bagaimana lagi, setiap ada awal pasti ada akhir. Setiap pertemuan pasti juga akan ada perpisahan. Dan saat ini tiba waktunya untuk melepaskan semua.


"Den Erlan ini sudah besar bahkan sebentar lagi juga akan segera menikah. Setelah menikah, Den Erlan tidak akan hidup sendiri lagi. Akan ada yang menemani. Jadi Simbok rasa, sudah waktunya untuk Simbok pulang ke kampung."


"Tapi Mbok, mbok Surti ini sudah aku anggap seperti mamaku sendiri. Kalau mbok Surti tidak lagi bersamaku, aku pasti akan kesepian. Mbok Surti tetap di sini saja ya? Atau begini saja, aku akan tetap mencari pengganti mbok Surti untuk mengurus semua pekerjaan rumah, namun Simbok tetap di sini. Mau ya Mbok?"


Begitu sayangnya dengan sosok Surti, Erlan sampai menawarkan berbagai macam cara agar wanita berusia lanjut ini tetap berada di dekatnya. Ia seakan tidak rela jika harus berpisah dari wanita yang begitu ia cinta yang bisa menggantikan posisi sang mama yang telah tiada.


Surti mengulas sedikit senyum di bibirnya. Ia meraih telapak tangan Erlan dan ia genggam dengan erat. "Sekali lagi Simbok minta maaf ya Den. Kali ini Simbok harus benar-benar pulang kampung. Karena Simbok ingin menghabiskan hari tua Simbok bersama keluarga besar yang ada di kampung. Simbok benar-benar minta maaf."


Setetes kristal bening meluncur bebas dari bingkai hati milik wanita berusia lanjut itu. Ia teringat betul saat Erlan ditinggal pergi selamanya oleh sang mama sejak pemuda ini berusia empat tahun. Hari-hari penuh kepahitan itu dilalui oleh anak kecil yang bahkan belum mengerti tentang kehidupan. Bahkan setelah sang mama meninggal, sosok lelaki yang bergelar sebagai seorang ayah juga turut pergi meninggalkan Erlan. Ayah Erlan memilih pergi keluar kota untuk menjalankan bisnisnya. Mulai hari itu pulalah ia hanya hidup berdua dengan Erlan.


"Aku tanya sekali lagi, Mbok. Simbok benar ingin pulang kampung?" tanya Erlan memastikan sembari dalam hati ia merapalkan doa agar Surti mengurungkan niatnya.


Surti mengangguk mantap. "Benar Den, Simbok akan pulang kampung. Tapi den Erlan jangan risau karena Simbok sudah berusaha ikut mencarikan pengganti Simbok bekerja di sini. Simbok carikan tetangga-tetangga Simbok di kampung yang butuh pekerjaan. Simbok yakin siapapun orang itu pasti bisa bekerja dengan baik di sini."


Surti nampak berpikir sejenak. Ia menimbang-nimbang apa yang dikatakan oleh Erlan. Ia merasa tidak ada salahnya jika mengabulkan permintaan Erlan karena dua minggu lagi pernikahan majikannya ini akan diadakan.


"Baik Den, Simbok akan pulang kampung setelah acara pernikahan den Erlan selesai diselenggarakan."


Tak ada yang lebih membahagiakan untuk Erlan selain bisa mengajak Surti untuk turut menjadi saksi akan hari bahagianya dalam melepas masa lajang. Bagi Erlan, Surti sudah seperti ibu kedua yang mana ia harus ada di saat-saat hari bahagianya itu.


"Terima kasih Mbok, terima kasih."


"Sama-sama Den."


"Sayang...!!!"

__ADS_1


Obrolan Erlan dan Surti terpangkas kala mendengar suara seorang wanita yang sudah tidak asing lagi di dalam indera pendengaran mereka. Keduanya menoleh ke arah sumber suara dan terlihat sosok Jenica berjalan menghampiri Erlan dan juga Surti yang tengah duduk di mini bar ini.


"Hai Jen. Tumben pagi-pagi seperti ini kamu sudah datang kemari? Biasanya siang, kamu baru sampai di apartemen?"


Erlan menyambut kedatangan Jenica dengan penuh kebahagiaan. Sosok wanita cantik dengan postur tubuh yang begitu sempurna dan yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya. Masih seperti mimpi, akhirnya hubungan yang telah ia rajut bersama sang kekasih selama lima tahun, sebentar lagi akan berujung ke jenjang pernikahan. Terkadang Erlan masih sulit untuk mempercayai.


Jenica yang mengenakan mini dress itu berjalan mendekat ke arah Erlan. Ia bergelayut manja di pangkuan Erlan dengan mengalungkan lengan tangannya di leher sang kekasih.


"Sebentar lagi aku akan menjadi istrimu Lan, jadi aku harus membiasakan diri untuk bangun pagi. Masa iya, seorang istri bangunnya siang? Apa kata dunia?"


Erlan hanya tergelak pelan mendengar perkataan Jeni. Wanitanya ini benar-benar nampak menggemaskan. "Hmmmm .... akhirnya kamu bisa bangun pagi juga Jen. Aku pasti akan sangat bahagia jika memiliki istri yang selalu bangun pagi."


"Itu sudah pasti, maka dari itu aku harus selalu bangun pagi," ucap wanita dengan rambut sedikit pirang itu. "Oh iya, hari ini kamu temani aku spa ya Sayang. Dua minggu lagi kita akan menikah, jadi aku harus setiap hari melakukan perawatan tubuh. Aku tidak ingin jika sampai kulitku kusam saat hari H nanti."


Erlan menganggukkan kepala. "Baiklah Jen, tapi setelah itu kita mendatangi rumah papa ya. Aku malah sama sekali belum memberitahu papa tentang pernikahan kita. Dan mumpung ini hari Minggu jadi papa pasti ada di rumah."


"Oke Sayang."


Surti menatap intens pemandangan penuh kemesraan yang ada di hadapannya ini. Hatinya turut menghangat saat melihat Erlan telah berbahagia dengan pilihannya.


Simbok ikut merasa bahagia Den. Semoga kehadiran neng Jenica bisa menjadi jalan kebahagiaan untuk den Erlan. Mulai hari ini, esok dan seterusnya. Aamiin.


.


.


. bersambung...

__ADS_1


__ADS_2