
Maya berjalan pelan mengekor di belakang punggung seorang laki-laki yang ada di hadapannya. Senyum penuh kebahagiaan terukir jelas di bibir wajah wanita itu hingga memancarkan binar kebahagiaan yang begitu kentara di wajahnya yang ayu. Raganya menghangat kala ia lihat sebuah pemandangan yang begitu menyentuh kalbu.
"Sini Mas, biar aku yang gantian menggendong Cantika. Sepertinya kamu kelelahan karena sudah terlalu lama menggendong Cantika."
Maya memberikan sebuah penawaran kepada Bayu yang masih terlihat begitu bersemangat menggendong Cantika yang tengah terlelap. Puas berjalan-jalan di taman kota, putrinya itu kelelahan dan mengantuk. Hingga pada akhirnya, gadis kecil itu meminta untuk digendong Bayu dan akhirnya tertidur pulas.
Bayu menghentikan langkah kakinya. Ia sedikit berbalik punggung untuk bisa menatap wajah Maya. Ia menyunggingkan senyum di bibirnya.
"Aku sama sekali tidak merasa lelah Mbak, aku justru merasa sangat senang bisa menggendong Cantika. Aku merasa bisa menjadi seorang ayah yang sempurna."
Raut wajah Maya nampak semakin berbinar. Tidak menyangka jika Bayu akan mengatakan hal semacam itu. Yang justru semakin membuat hatinya menghangat. Ia langkahkan kakinya menuju bangku taman, ia daratkan bokongnya di sana. Disusul dengan Bayu, yang juga ikut duduk di samping Maya.
"Memang mas Bayu belum pernah menggendong anak?"
Maya melontarkan sebuah tanya kepada lelaki dewasa yang baru beberapa hari ia kenal sambil memandang hamparan bunga amarilis yang bermekaran. Pandangannya nampak menerawang, namun ia masih bisa fokus untuk berbincang dengan Bayu.
Bayu menggelengkan kepala. "Bagaimana bisa menggendong anak Mbak? Aku saja belum memiliki anak."
"Memang sejak menikah, mas Bayu dan istri tidak langsung program hamil? Kok sampai belum punya anak?"
"Aku dan istriku langsung program hamil kok Mbak, tapi entah kenapa tidak diberi juga sama Yang Maha Kuasa. Tapi sekarang jika aku pikir ulang, mungkin memang ada baiknya tidak ada anak terlebih dahulu di kehidupanku dengan istriku."
__ADS_1
Perkataan Bayu sukses membuat rasa penasaran Maya perihal rumah tangga Bayu semakin besar. Ia menggeser pandangannya dan kini ia tatap lelaki yang duduk di sampingnya ini.
"Mengapa bisa begitu Mas? Mengapa kamu merasa bersyukur tidak diberikan anak terlebih dahulu?"
Bayu tersenyum kecut seraya membuang napas sedikit kasar. Ia seperti membuang segala rasa yang menghimpit di dalam dada.
"Aku merasa telah salah memilih seorang istri. Aku baru tahu watak istriku yang sebenarnya setelah ia ngotot untuk bekerja di luar negeri. Ia ternyata tidak bisa untuk diajak hidup susah. Ia selalu merasa kurang, kurang, dan kurang akan semua yang sudah aku berikan."
"Aku turut prihatin atas apa yang kamu rasakan ya Mas. Aku tidak tahu harus melakukan apa untuk bisa sedikit menghiburmu."
Bayu mengedarkan pandangannya ke arah Maya, hingga kini keduanya saling bertatap netra. Tak lupa, seutas senyum manis ia berikan untuk Maya.
"Tidak perlu melakukan apapun Mbak, karena bagiku pertemuanku dengan Cantika bisa menjadi penawar dari mimpi yang begitu aku inginkan. Mimpi untuk bisa menggendong seorang anak, kini aku dapatkan melalui Cantika. Tapi sebelumnya aku minta maaf ya Mbak, jika sikapku ini kurang sopan."
Maya tergelak pelan dan menggelengkan kepala. "Tidak Mas, sama sekali tidak. Aku justru merasa sangat bahagia karena Cantika bisa kembali merasakan bagaimana rasanya didekap oleh sosok seorang ayah. Putriku ini sepertinya nyaman sekali di dekatmu Mas."
Bayu tersenyum kikuk seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia merasa sudah salah bicara di depan Maya. Ia berpikir Maya akan marah dan kesal atas ucapan yang ia lontarkan. Namun ternyata yang terjadi sebaliknya, wajah Maya menunduk seakan malu-malu.
"Tidak, tidak apa-apa Mas, santai saja." Maya menghirup udara dalam dan berupaya untuk menguasai degup jantungnya. Kepalanya kembali mendongak untuk menatap lekat wajah Bayu. "Lalu, untuk sekarang ini rencana mas Bayu itu apa? Apakah istri mas Bayu tidak pernah mengatakan apapun?"
"Rata-rasanya aku ingin bercerai saja Mbak. Selama ini aku mencoba untuk menguatkan hati. Aku dihina, dicaci maki karena jatah yang aku berikan dianggap kurang, aku tetap diam saja. Namun sekarang rasanya aku sudah berada di batas kesabaran. Aku merasa hatiku akan semakin remuk redam jika mempertahankan seorang istri dengan watak begitu keras seperti itu. Rasanya aku ...."
Bayu mejeda kalimatnya. Suaranya seakan tercekat di dalam tenggorokan dan tak mampu untuk berkata-kata lagi. Tiba-tiba saja matanya memanas dan membentuk koloni kristal bening di pelupuk matanya. Hingga, titik-titik air itu menetes perlahan.
__ADS_1
Maya terhenyak melihat Bayu yang mulai meneteskan. Baru sekali ini ia melihat seorang laki-laki yang menangis. Ia bisa merasakan bahwa Bayu memang sedang terluka. Maya membuka resleting tas yang ia bawa. Ia keluarkan selembar tisu dari dalam sana.
"Aku minta maaf ya Mas, jika pertanyaanku itu membuat hatimu terasa sakit dan pada akhirnya membuatmu menangis seperti ini," ucap Maya seraya mengusap air mata Bayu menggunakan tisu yang ia keluarkan dari dalam tas.
Bayu mencoba tersenyum disela air mata yang masih menetes. Senyum getir seakan nampak jelas di raut wajah lelaki itu.
"Tidak Mbak, aku justru berterima kasih pada mbak Maya, karena pertanyaan dari mbak Maya ini seakan membuatku sadar untuk segera membuat keputusan. Aku tidak ingin batinku terus tersiksa seperti ini. Memiliki istri pembangkang dan keras hati."
Bayu menjeda sejenak ucapannya untuk mengambil napas. Sedangkan Maya, masih mencoba untuk mengusap air mata Bayu yang semakin lama semakin deras mengalir.
Bayu meraih telapak tangan Maya yang masih berhias tisu itu. Hal inilah yang membuat Maya sedikit terkejut dan ikut menautkan pandangannya ke arah Bayu.
"Andai saja istriku itu seperti kamu, Mbak. Lemah lembut, penyayang dan penuh kasih, aku pasti akan berbahagia sekali. Dan entah mengapa, sejak pertama kali aku bertemu dengan mbak Maya, aku merasakan sesuatu yang berbeda dalam hatiku. Aku merasa seperti menemukan kembali apa itu arti kebahagiaan."
Seonggok daging bernyawa yang tersimpan di dalam rongga dada milik Maya berdegup kencang. Setelah sekian lama ia mati rasa karena bercerai dengan sang suami, kini ia kembali merasakan sensasi rasa asing yang membuat jantungnya bertalu-talu dan hatinya berbunga-bunga. Terlebih saat ini posisinya dengan Bayu teramat dekat, yang membuatnya semakin bahagia tiada terkira. Ia memang belum terlalu paham dengan apa maksud dari ucapan Bayu, namun perlakuan Bayu yang seperti ini sudah cukup membuatnya bahagia setengah mati.
"M-maksud mas Bayu bagaimana? Bisakah lebih diperjelas lagi?"
Bayu tersenyum simpul. Kini ia genggam jemari tangan Maya lebih erat lagi. "Jika nanti aku bercerai dengan istriku, bersediakah mbak Maya menggantikan posisinya? Aku merasa mbak Maya lah wanita paling pantas untuk mendampingi hidupku."
.
.
__ADS_1
. bersambung....
Hayoloohhhh udah main lamar ajja tuh si Bayu, hihihihi hihihihi... Kira-kira Maya jawab apa ya??? 🤣🤣🤣