
Dua Tahun kemudian....
Kelopak-kelopak bunga Tabebuya mulai bermekaran. Menghias tiap sisi ruas jalan yang nampak memanjakan indera penglihatan. Semerbak harum bunganya, terbawa oleh hembusan angin yang tercium di indera penciuman.
Erlan menatap lekat tubuh wanita yang saat ini terlelap di atas ranjang. Dengan perlahan, lelaki itu membelai wajah ayu seorang wanita yang baru saja resmi menjadi istrinya. Senyum itu tiada henti merekah di bibir, seakan menunjukkan pada dunia jika hari ini ia teramat bahagia. Akhirnya, setelah dua tahun ia jatuh bangun mengejar sang wanita, Erlan berhasil mempersunting sosok wanita itu. Siapa lagi jika bukan Dinda.
Memulihkan hati yang terluka dan kembali membuat Dinda percaya akan ketulusan cinta, merupakan hal paling sulit dihadapi oleh Erlan. Dua tahun ia berjuang mati-matian untuk membuat Dinda percaya akan cinta yang ia punya. Hingga pada akhirnya, hasil memang tidak pernah berhianat atas usaha yang telah ia lakukan. Dengan lembut, Erlan mengecup bibir tipis istrinya ini.
"Mas .... Jam berapa ini?"
Kedua bola mata Dinda mengerjap kala merasakan ada sesuatu yang menyentuh bibirnya. Terlihat wajah Erlan hanya berjarak beberapa inchi saja dari wajahnya.
"Jam dua Sayang. Bagaimana? Apakah kamu masih ingat beristirahat? Selepas maghrib nanti kita harus bersiap-siap untuk acara resepsi Sayang."
Dinda menggeser sedikit tubuhnya. Ia mencoba meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa begitu kaku. Ia pun bersandar di headboard ranjang.
"Sudah cukup Mas. Aku ingin mandi saja. Badanku terasa gerah sekali Mas. Lihatlah, bahkan kebaya ini masih menempel di tubuhku."
Dinda masih ingat akan akad nikah yang baru beberapa jam yang lalu diselenggarakan. Selepas acara akad nikah, tubuhnya serasa lelah tiada terkira. Hingga ia pun memilih untuk langsung tidur setelah acara selesai.
"Ya sudah, lekas mandi Sayang. Biar tubuhmu terasa jauh lebih segar."
Dinda beranjak dari posisinya. Ia mengayunkan tungkai kakinya untuk masuk ke dalam kamar mandi. Namun sesampainya di kamar mandi, ia sedikit kebingungan dengan resleting kebaya yang ia kenakan.
"Mas, boleh minta tolong?" teriak Dinda dari dalam kamar mandi.
"Apa Sayang?"
__ADS_1
"Bukakan resleting kebayaku Mas. Aku tidak bisa melepasnya!"
Erlan berjalan ke arah kamar mandi. Ia pun berdiri di belakang punggung Dinda. "Tentu saja Sayang. Apa sih yang tidak buat kamu?"
Dengan hati-hati, Erlan membuka resleting kebaya yang dikenakan oleh Dinda. Kedua bola mata lelaki itu terbelalak dan membulat sempurna. Ia seperti kesusahan menelan cairan salivanya. Punggung putih nan mulus milik istrinya ini sungguh membuat dirinya berhasrat. Tiba-tiba saja burung pipit yang sudah berubah menjadi burung rajawali itu berdiri seketika.
Heh burung, sabar dong. Jangan berdiri dulu. Ini istriku masih belum siap untuk dimasukin kamu. Lihatlah, dia masih kelelahan. Ayo tidur lagi!
Erlan malah justru sibuk bermonolog di dalam hati. Melalui bahasa kalbu, ia berbicara kepada burung rajawali miliknya ini. Namun semakin ia tahan, rasa-rasanya hasrat itu semakin bergelora. Tanpa membuang banyak waktu, Erlan memeluk tubuh Dinda dari belakang dan ia letakkan dagunya di ceruk leher milik Dinda.
"Mas?" lirih Dinda yang sedikit terkejut karena mendapatkan serangan mendadak dari Erlan.
"Sebentar Sayang. Izinkan aku untuk memelukmu seperti ini. Aku sungguh menginginkanmu Sayang."
Seakan sudah dikuasai oleh gelora hasrat yang membara, Erlan benar-benar sudah dibuat mabuk kepayang oleh punggung menggoda istrinya ini. Kesabarannya mendapatkan balasan cinta dari Dinda selama dua tahun, kini seakan ingin ia hempaskan dengan bercinta dan bermesraan dengan sang istri. Ia sungguh sangat tidak sabar mempersilahkan burung rajawalinya memasuki sarang.
Suara Dinda tercekat di dalam tenggorokan. Matanya terpejam sembari menikmati sensai rasa nikmat yang sudah lama tidak ia rasakan. Tubuhnya seperti dialiri oleh arus listrik yang membuat bergetar. Tubuhnya meliuk-liuk seperti cacing kepanasan.
Tak berbeda jauh dari Erlan, Dinda pun merasakan hasrat yang bergelora. Jemari Erlan yang mulai nakal bermain-main di gundukan sintal yang ia punyai seakan menjadi pemantik na*fsu yang selama dua tahun ini padam. Kini hasrat ingin bercinta itu kembali berkobar, memenuhi seluruh aliran darahnya. Sebagai seorang wanita biasa, Dinda pun juga merasakan haus akan belaian kasih sayang dari sosok seorang suami. Dan kini ia temukan kembali setelah resmi menjadi istri dari Erlan.
Erlan membalikkan tubuh Dinda. Kini sepasang suami-istri itu saling berhadapan. Erlan tersenyum manis dan mendekatkan bibirnya di telinga Dinda.
"Boleh, aku melakukan sekarang Sayang?"
Dinda membalas dengan rekahan senyum di bibir. Wanita itupun menganggukkan kepala. "Saat ini aku adalah milikmu Mas. Akan aku berikan semua yang aku punya untukmu."
"Uhhhuuuyyyyy!!!" Yesssss .... Waktunya masuk kandang, kamu!" teriak Erlan kegirangan sembari mengusap-usap burung rajawalinya.
__ADS_1
Tanpa basa-basi, Erlan melucuti semua pakaian yang dikenakan oleh Dinda dan yang ia kenakan. Dan tanpa terduga pula Erlan membopong tubuh Dinda untuk ia bawa ke ranjang. Kemudian ia hempaskan tubuh Dinda di atas ranjang itu.
"Mari kita ke surga Sayang! Pastinya surganya sepasang suami-istri!"
Dinda hanya tersipu malu. Erlan mulai memposisikan tubuhnya. Ia mengungkung tubuh Dinda di bawah tubuhnya dan ..... Terjadilah apa yang semestinya sudah terjadi.... Hihi hihihihi 🤪
Matahari yang mulai tergelincir ke arah barat dengan membiaskan semburat warna jingga, seakan menjadi saksi akan sepasang manusia yang tengah menyatukan raga dan larut dalam gelora hasrat yang membara.
.
.
.
Hallo kakak-kakak semua. numpang promosi novel milik teman saya ya😄 Barangkali ada yang berkenan singgah di sana. Masih fresh, karena baru 3 episode. Terima kasih.
Langsung cuss ke lapaknya saja ya Kak.
Judul : Wanita Idaman Lain
Penulis : Fumiko Sora
Genre : Romansa
Tema : Rumah Tangga, perselingkuhan, pelakor, penyesalan suami
__ADS_1