
Riuh suara pisau yang beradu dengan papan telenan memecah keheningan di apartement milik Erlan. Dinda terlihat sedang mencincang cabe rawit, sawi, dan daun bawang. Sedangkan di atas kompor sudah nangkring sebuah panci yang berisikan air.
"Jangan pedas-pedas ya Din. Cukup kamu beri satu cabai rawit saja!" teriak Erlan dari arah sofa yang berada di ruang tengah.
"Iya Tuan, siap!"
Dinda hanya bisa tersenyum simpul saat mengingat ucapan sang majikan. Dengan dalih teriakannya akibat mimpi buruk telah mengganggu Erlan, kini sang majikan memberikan sebuah hukuman. Hukuman itu berupa membuatkan mie instan. Alhasil di jam setengah tiga seperti ini dapur apartement Erlan sudah terdengar riuh dengan suara khas seseorang yang sedang memasak.
"Silakan Tuan!"
Setelah sibuk berjibaku dengan mie instan dan semua pelengkapnya, akhirnya mie instan buatan Dinda telah siap dihidangkan. Ia bawa hidangan semua umat ini di hadapan Erlan.
Aroma nikmat khas bumbu mie instan mulai menguar, melalui kepulan uap panas dari hidangan ini. Cairan saliva milik Erlan seakan sudah berkumpul menjadi satu di ujung lidah seakan sudah tidak sabar untuk segera mencicipi. Ia ambil sendok dan...
"Ahhhh ... panas!"
Erlan memekik kala sensasi rasa panas seakan membakar rongga mulutnya. Ingin cepat-cepat menikmati kenikmatan mie instan rasa ayam bawang yang dibuat oleh Dinda sampai mengabaikan rasa panas yang masih ada di dalam hidangan mie instan ini. Ia pun bergegas untuk meraih satu gelas air putih yang sudah tersedia.
"Pelan-pelan saja Tuan, saya tidak akan meminta kok."
Dinda mau tertawa tapi takut dosa kala melihat bibir Erlan yang kepanasan ini. Sekuat apapun ia menahan tawa namun ekspresi wajah Erlan sungguh terlihat sangat lucu.
"Rasanya sudah lama sekali aku tidak makan mie instan. Sejak terkena tipes dua tahun yang lalu, aku sama sekali tidak pernah makan mie instan. Akhirnya sekarang kembali mencicipinya lagi." Erlan kembali menyeruput kuah panas sajian nya. "Loh kamu tidak ikut buat?"
Dinda menggeleng. "Tidak Tuan, melihat Tuan makan saja sudah tersaa begitu mengenyangkan."
"Hahahaha kamu ini ada-ada saja. Mana ada hanya dengan melihat orang yang sedang makan ikut membuat kenyang. Kalau seperti itu, bisa ngirit."
Dinda juga hanya bisa tergelak pelan saat melihat sang majikan yang tertawa begitu lepas. . Baru kali ini ia melihat Erlan tertawa seperti ini.
"Loh Sayang, apa yang kamu lakukan dengan pembantu ini di pagi buta seperti ini?"
__ADS_1
Gelak tawa Erlan terhenti saat tiba-tiba Jenica menghampiri. Ia pun hanya menanggapi santai kehadiran istrinya ini.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya meminta Dinda untuk memasak mie instan. Kok kamu terbangun, memang ada apa Jen?"
"Jelas aku terbangun saat melihat kamu tidak ada di sampingku Sayang. Maka dari itu aku mencarimu. Lagipula jika kamu ingin makan mie instan, mengapa kamu tidak membangunkan aku Sayang? Aku kan bisa memasak untukmu!"
"Ah, itu bukan merupakan hal yang patut untuk diperdebatkan. Karena Dinda sudah membuatkannya untukku. Kalau mau kembali tidur silakan Jen."
Melihat kedekatan sang suami dengan Dinda, membuat Jenica merasa sedikit cemburu. Ia teramat tidak suka jika sampai suaminya berduaan dengan pembantunya ini.
"Din, lebih baik kamu kembali ke kamarmu. Lain kali, kamu harus bisa menjaga sikap terlebih kepada majikanmu," ucap Jenica memberikan sebuah ultimatum.
"Menjaga sikap? Maaf Non, maksud non Jenica sikap yang mana? Rasa-rasanya saya tidak berbuat hal yang macam-macaam."
Kening Dinda sampai berkerut dalam saat mencoba mengartikan apa yang diucapkan oleh Jenica. Karena ia merasa tidak melakukan sesuatu yang melanggar aturan atau norma dengan majikannya.
"Tidak seharusnya kamu ada di sini berduaan dengan suamiku. Setelah kamu selesai membuat mie, seharusnya kamu segera kembali ke kamar. Bukan malah kegenitan menemani suamiku ini. Apa seperti itu yang diajarkan oleh orang tuamu? Genit di hadapan suami orang?"
Dinda terhenyak mendengar perkataan Jenica. Bibirnya sampai melongo dibuatnya. "Jaga bicara non Jenica. Jangan bawa-bawa orang tua saya dalam pembicaraan ini. Mereka sama sekali tidak pernah mengajarkan keburukan kepada saya."
"Jenica, jaga mulutmu!"
"Loh, apa yang aku ucapkan benar kan Sayang? Kalau tidak genit, kenapa dia masih ada di sini berduaan denganmu?"
"Dinda baru saja selesai membuat mie jadi wajar jika dia masih berada di sini!"
"Cih, alasan yang sungguh sangat tidak masuk akal." Jenica kembali menautkan pandangannya ke arah Dinda yang terlihat masih berdiri terpaku. "Sudah sana kembali ke kamarmu. Tidak perlu lagi kamu ada di sini karena sudah ada aku yang menemani suamiku."
"Baik Nona!"
Tanpa membantah ataupun melakukan perlawanan sedikitpun Dinda mengayunkan tungkai kakinya untuk kembali ke kamar dan hanya menyisakan Erlan dan Jenica di ruang tengah.
__ADS_1
"Sayang, sebelum berangkat ke Labuan Bajo aku ingin bercinta terlebih dahulu bersamamu. Sudah lama loh Sayang kita tidak bercinta, tepatnya sejak kamu tiba-tiba tak mau menjamahku waktu itu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika lebih lama lagi aku tidak bercinta denganmu."
Jenica bergelayut manja di lengan Erlan. Mencurahkan semua kegelisahan yang ia rasakan.
"Sudahlah Jen, daripada kamu sibuk memikirkan untuk bercinta, lebih baik kamu fokus untuk liburanmu. Perihal bercinta, bisa kita lakukan setelah kamu liburan."
Bibir Jenica mengerucut. Merasa kesal dengan jawaban yang diberikan oleh sang suami.
"Tapi Sayang, aku benar-benar sedang ingin bercinta. Sekarang saja ya. Mumpung matahari juga masih belum nampak."
Erlan menggelengkan kepala. "Besok sepulang kamu dari Labuan Bajo saja Jen. Saat ini aku benar-benar sedang tidak berhasrat. Mungkin aku terlalu capek karena tenagaku terkuras di pekerjaan. Maka dari itu aku tidak berhasrat."
"Iiihhhhh, kamu ini benar-benar tega ya Sayang. Masa aku harus menunggu lama untuk bisa bercinta denganmu?"
Erlan tersenyum tipis. Ia menggeser tubuhnya untuk beranjak dari posisinya. "Sabar, hanya satu minggu kan? Setelah pulang dari Labuan Bajo, aku janji akan bercinta tiga hari tiga malam penuh denganmu."
Erlan melangkahkan kaki menuju dapur untuk meletakkan mangkuk kotor bekas mie yang ia makan. Sedangkan Jenica tersenyum lebar mendengar janji yang diucapkan oleh sang suami.
"Oke, sepulang dari Labuan Bajo akan aku tagih janjimu Sayang. Tiga hari tiga malam kita bercinta!"
"Siapa takut!" ujar Erlan saat tiba di hadapan Jenica.
"Loh, loh, loh Sayang, kenapa kamu malah masuk ke ruang kerjamu?"
"Aku ingin kembali ke ruang kerjaku, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kamu masuklah kamar dan kembali tidur!"
Jenica hanya mendengus kesal melihat tubuh Erlan yang sudah menghilang di balik pintu. Niat hati ingin bermanja dengan sang suami, tapi yang terjadi justru seperti ini.
Huh, padahal aku sedang ingin bercinta, eh Erlan malah terlihat tidak berhasrat seperti itu. Seandainya di apartemen ini ada unit milik Bara, pasti sudah aku datangi dia.
.
__ADS_1
.
. bersambung