
Jika di ibaratkan perahu saat ini Senja sedang terombang-ambing di lautan luas. Dan, hanya butuh satu gaya dorong besar untuk mengubah arah layar agar perahu kembali ke tujuan.
Dalam hidup, terkadang hanya butuh satu momentum untuk mengubah semua keadaan menjadi berbanding terbalik. Dan, arah perubahan dalam hidup Senja itu bermula malam ini.
Satria menunggu di lobi rumah sakit sementara senja langsung bergegas menuju ruang gawat darurat tempat Ibunya di rawat.Terlihat Mang Didin dan Bi Ratna sedang menunggu di sana.
"Ibu baik-baik saja, kan, Mang? Bagaimana kondisinya?" tanya Senja ketika melihat Mang Didin. wajah nya penuh kehawatir.
"Belum tau, Senja. dari tadi kita belum boleh masuk dokter masih melakukan observasi," kata Mang Didin.
Senja langsung duduk di samping mang Didin dan Bi Ratna dengan wajah sedih dan lelah.
"Insyaallah Ibu baik-baik saja, kita berdoa saja," kata Mang Didin lagi.
Berdoa? Senja merasa sudah lam tak berdoa. apakah dalam kondisi seperti ini dia pantas untuk berdoa? Senja merasa tak pantas, tetapi dia sangat ingin meminta kepada Tuhan agar Ibunya di sembuhkan.
Air mata senja menetes. Bi Ratna langsung mendekat dan memeluknya.
"Senja takut kehilangan Ibu."
"Insyaallah Ibumu akan sembuh. kamu harus yakin Senja," kata bi Ratna.
Beberapa saat kemudian, dokter yang memeriksa terlihat keluar dari ruang tempat Ibu di rawat.
"Bagaiman keadaan Ibu, Dok?" kata Senja yang langsung bergegas mendekati dokter. Mang Didin mengikuti dari belakang.
"Anda siapa?"
"Saya putrinya, Dok.?
Dokter langsung menjelaskan ya," Alhamdulillah kondisinya sudah membaik. kami sudah melakukan penanganan. ada pendarahan di lambung penyakit maagnya sudah parah. munkin karena stres dan banyak pikiran. keduanya bisa memicu penyakit maag kronis menjadi semakin buruk."
"Terima kasih penjelasannya, Dok. tolong sembuhkan Ibu saya, Dok." pinta Senja.
"insyaallah, Dik. Kita usahakan yang terbaik. saya akan berusaha mengobati, tuhan yang menyembuhkan," jawab Pak Dokter.
Penjelasan dokter membuat Senja merasa lega, sekaligus bersalah.
__ADS_1
Sters? Banyak pikiran? Ah, Senja menjadi teringat obrolan dengan Ibu berapa hari lalu. munkinkah itu penyebabnya?
Itukah yang menyebabkan Ibu stres dan penyakit maagnya semakin parah? Senja benar-benar merasa bersalah. setelah Dokter pergi, Senja duduk di samping Mang Didin dan Bi Ratna.
Waktu menunjukan pukul 11.00 malam. beberapa perawat berlalu lalang di depan mereka bertiga. setelah terdiam beberapa saat, Senja menanyakan sesuatu kepada Mang Didin.
"Mang Didin gobrol apa sama ibu akhir-akhir ini?"
"Ada banyak yang mamang obrolin Sam Teh Sinta, tapi........"
Teh Sinta adalah nama itbunya Senja, nama lengkapnya Sinta Permatasari.
"Tapi apa, Mang?"
"Tapi, memang ada yang Teh Sinta pikirkan akhir-akhir ini."
"Apa Mang? Ceritakan sama Senja."
"Kata Teh Sinta, kamu enggak mau di ceritain ."
"Senja menyesal, seandainya waktu itu Senja mau dengerin cerita Ibu, mungkin Ibu tak akan masuk rumah sakit sekarang."
"Senja sekarang mau, Mang.Tentang Ayah, kan. Mang? kemaren Ibu mau cerita itu Sama Senja. memang Ayah Senja ada di mana? Mamang tau ayah ada di mana?"
"Iya, Senja. Mamang bukan hanya tau. Mamang lah yang mengabari tteh Sinta kondisi ayahmu?"
"Ayah Senja emang kenapa?" tanya Senja penasaran.
"Ayahmu sudah meninggal tiga bulan yang lalu, Senja "
Senja termenung kaget mendengar penjelasan mamang Didin. Entah harus merasa sedih atau bahagia? Benarkah lelaki yang seharusnya di panggil Ayah itu sudah meninggal? siapa dia? Bertemu saja senja belum pernah.
Perasaannya campur aduk. ada banyak pertanyaan muncul dalam benaknya yang ingin dia tanya kepada Mang Didin. kaget dan penasaran lebih tepat untuk menjelaskan kondisi hati nya saat ini. sementara rasa sedih belum muncul sedikit pun.
"Mang Didin tolong jawab jujur. selama ini Senja belum pernah bertemu Ayah. Senja enggak tau apapun soal Ayah."
"sok tanyain sekarang. biar jelas. Mamang sebenarnya sudah lama ingin cerita Sama kamu, tapi di larang terus sama Teh Sinta."
__ADS_1
"Apa benar Ayah Senja itu lelaki berengsek dan pengejut?"
"Kang Umar itu memang lelaki yang berengsek dan tidak bertanggung jawab awalnya. Dulu begitu. Tapi, dia sudah bertobat dan hijrah sebelum meninggal. dia tak seperti yang kamu kira."
"Kang Umar? Bukanya nama ayah Senja Riki Hidayat?"
"Umar itu nama panggilannya setelah hijrah, Senja."
"maksudnya hijrah bagai mana?"
"Kang Umar, Ayahmu, sudah berubah total menjadi pribadi yang jauh lebih baik dan saleh dalam beberapa tahun ini. pokoknya berubah 180derajat. jauh banget dengan dulu. Bahkan, sebenarnya dari dua tahun yang lalu, almarhum berusaha menghubung Teh Sinta melalui Mamang. Tapi, Teh sinta-nya kekeh gak mau. bahkan, melarang untuk bertemu kamu. kata Teh Sinta, lebih baik mati dari pada memberikan bertemu Kang Umar. dia juga tak mau menerima uang pemberian dari kang umar. katanya sudah sangat terlambat."
"Memang kenapa Ibu sampai sebenci itu Sam Ayah?"
"Untuk pertanyaan itu, memang belum bisa dijelaskan sekarang. Biar kamu sendiri aja yang membaca surat dari Kang Umar."
"Surat?"
"Iya. Ayahmu menulis surat untukmu sebelum meninggal. surat ini diantarkan oleh Ayah mu sendiri ke Mamang. sekitar satu bulan sebelum dia meninggal."
"Sekarang di mana suratnya?"
"Ini Mamang bawa."
"Kenapa gak di kasi ke Senja dari dulu?"" Teh Sinta yang melarang. Dia itu keras kepala, sama kayak kamu."
"Ibu sudah baca suratnya?"
"Sudah, itu setelah Mamang pujuk. itu lah kenapa Teh Sinta pengen gobrol Sama kamu soal ayahmu,"
"Itu juga yang membuat Ibu berubah akhir-akhir ini?"
"Iya,i Ibumu mendapatkan hidayah, Senja."
Senja menutup mata Dan menarik napas dalam-dalam. Betapa seharian ini perasaannya naik turun seperti roller coaster menegangkan. Ayah meninggal?Surat? apalagi setelah ini?
" Boleh Senja baca suratnya sekarang?"
__ADS_1
Mang Didin mengganguk, lalu mengeluarkan amplop putih dari dalam tas. di ulurkannya alplop itu kepada Senja. Senja membuka amplop tersebut dan bersiap membaca.
Tanggan Senja bergetar memegang surat tersebut jantungnya berdetak kencang menyadari bahwa pertanyaan. pertanyaan yang selama ini meneror hidupnya akan segera terjawab.