HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
Bab 79. Pengkhianat Ayah


__ADS_3

"Ghibran, ayah kamu telah mengkhianati diriku, Nak," gumamnya sambil mengusap air mata. "Dia menikah lagi tanpa izin dari Ibu."


Aisha merasakan jantungnya berdesir mendengar kabar itu. Ayahnya Ghibran adalah sosok yang dia kagumi, dan aku tak pernah mengira bahwa dia akan melakukan hal seperti itu. Namun, sebagai menantu dia tidak ingin ikut campur.


"Mengkhianati? Bagaimana itu bisa terjadi, Bu?" tanyaku dengan terkejut. "Apa ada buktinya?" tanya Ghibran.


Ibu menarik nafas dalam-dalam sebelum menjelaskan semuanya. "Beberapa hari yang lalu, ibu melihat ada foto ayah dengan wanita muda sedang hamil. Ibu masih berpikir positif jika itu mungkin saudara ayah yang belum ibu kenal. Ibu tidak percaya saat ayah mengatakan sebelum ibu bertanya. Mengejutkan, dia justru membenarkan semuanya. Tanpa berkonsultasi atau memberi tahu ibu sebelumnya."


Ghibran merasakan kekecewaan yang tak terucapkan melanda dirinya. Seakan-akan semua harapan tentang kebahagiaan keluarga, luluh begitu saja. Tapi, pria itu berusaha tetap tegar dan menyemangati sang ibu.Dia juga tidak bisa terlalu menghakimi karena pernah melakukan kesalahan juga di masa lalu.


"Bu, mungkin ada alasan di balik semua ini," ucap Ghibran perlahan. "Mungkin ada hal yang tidak kita tahu. Kita harus bicara langsung dengan ayah dan mencari tahu semua ini dengan jelas."


"Entahlah, Ghibran. Ayahmu mungkin merasa sudah tidak bahagia dengan rumah tangga kami dan mencari kebahagiaan yang lain. Tapi itu tidak berarti dia bisa melakukannya tanpa berbicara dengan ibu terlebih dahulu," ucap Ibu Nur dengan menarik nafas dalam-dalam.


"Aku hampir tidak bisa percaya bahwa ayah bisa melukai hati ibu seperti ini. Tapi ibu, apa yang kita bisa aku lakukan sekarang?" tanya Ghibran mencoba menghibur.


"Kita harus mencoba berbicara dengan ayahmu. Kita harus menyampaikan perasaan kita dan mencari solusi yang baik untuk kita semua," jawab Ibu Nur.

__ADS_1


"Jika ibu memang ingin aku bicara dengan ayah, aku akan meminta dia datang ke sini besok sekalian menjemput Ibu," balas Ghibran.


"Jangan kamu yang meminta dia datang. Jika ayahmu masih menginginkan ibu, pasti dia akan datang menjemput tanpa di minta. Bukankah dia telah mengetahui keberadaan ibu darimu. Namun, jika dia tidak menginginkan ibu lagi, pasti tidak akan menjemput," jawab Ibu dengan suara terbata menahan tangis.


Aisha sebenarnya iba melihat Ibu Nur, tapi sebagai menantu dia tidak bisa memberikan pendapat. Dia merasa hanya pendatang dalam keluarga Ghibran.


"Bu, bukankah ibu pernah berkata jika seorang istri yang keluar dari rumah tanpa izin sang suami adalah dosa besar. Jadi apa tidak sebaiknya ibu bicara dulu dengan ayah. Jika ingin tetap di sini sementara waktu hingga ibu bisa tenang dan menerima ayah, aku dan Aisha tidak akan keberatan," ujar Ghibran.


Ibu Nur terdiam mendengar ucapan Ghibran. Semua itu memang pernah dia utarakan saat Aisha pergi tanpa izin. Namun, dalam hatinya Ibu Nur berkata, jika masalah dia dan Aisha berbeda.


Madunya ibu Nur masih hidup, sedangkan Aisha telah tiada. Seharusnya wanita itu lebih bisa menerima.


"Itu akan jauh lebih baik, ibu kabari Ayah dan katakan dimana ibu saat ini," ucap Ghibran.


Setelah cukup lama mengobrol dan menghibur ibu, Ghibran pamit untuk solat isya. Tadi Aisha istrinya telah terlebih dahulu solat. Saat ini tinggal Aisha dan Ibu Nur. Syifa telah masuk ke kamar dan terlelap.


"Aisha, apa kamu keberatan jika ibu menginap di sini beberapa hari?" tanya Ibu Nur.

__ADS_1


"Mengapa aku keberatan, Bu? Kamar tamu juga kosong," jawab Aisha.


"Ibu tak tahu harus kemana lagi. Mau ketempat Annisa, dia juga sedang banyak masalah dan pikiran. Jika ditambah dengan masalah yang sedang Ibu hadapi saat ini, kasihan dia. Semua orang saat ini menghujatnya. Mengatakan dia istri yang tak setia, meminta cerai di saat suami sakit," ucap Bu Nur.


Aisha hanya mengangguk mendengarkan semua. Walau sikap ibu tadi baik, tapi Aisha masih menjaga jarak dan juga ucapannya. Dia tidak ingin berdebat lagi.


"Padahal jika dipikir-pikir, setia juga tidak ada gunanya. Seperti ibu ini, telah hampir tiga puluh tahun hidup bersama, mendampingi ayah dalam susah senang, akhirnya dia mengkhianati ibu juga. Apakah sah menikah tanpa izin istri pertama? Jika ibu menuntut bisa saja," lanjut Ibu Nur.


"Bu, aku bukannya ingin menggurui. Pernikahan diam-diam bagi seorang pria itu sah saja menurut agama, tapi tak menurut negara. Jika aku pernah marah dan pergi dari rumah waktu itu, bukan karena aku tidak terima Mas Ghibran ada wanita lain. Yang tidak aku terima itu, kebohongannya."


"Ibu juga begitu sebenarnya. Ibu tidak terima dibohongi," balas Ibu Nur.


"Betul yang Aisha katakan itu, Bu. Dalam hukum Islam, menikah tanpa adanya izin dari istri pertama itu sah asal semua rukun nikah terpenuhi. Namun, Undang-undang menegaskan, perkawinan poligami tanpa izin pengadilan tidak memiliki kekuatan hukum. Perkawinan tersebut hanya dianggap sah secara agama, namun tidak diakui negara dan tidak berkekuatan hukum. Bahkan, UU Perkawinan menyebutkan, perkawinan poligami tanpa izin pengadilan dapat dibatalkan oleh pengadilan," ucap Ghibran yang baru datang kembali setelah melaksanakan shalat isya.


"Aku bukan ingin membela karena aku pria, tapi aku juga tidak bisa terima ayah karena tidak berkata jujur. Aku telah pernah mengalami masalah karena kebohongan dan hampir kehilangan istriku, sejak itu aku berjanji akan saling terbuka dengan Aisha mengenai apa pun itu. Jika nanti hati ibu telah tenang, bicarakan dengan ayah mengenai ini. Semua keputusan ada di tangan ibu, mau lanjut atau tidak pernikahan ini. Tapi aku harap ibu ikhlas dan bertahan. Sayang pernikahan yang telah berjalan puluhan tahun harus kandas," ujar Ghibran.


Ibu Nur hanya mengangguk sebagai jawaban atas ucapan Ghibran. Jika ditanya apa maunya saat ini, tentu saja dia ingin tetap menjadi istri Pak Abdul dan menjadi satu-satunya, tapi itu mustahil karena pasti suaminya tidak akan mau menceraikan istri mudanya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2