
Ghibran tidak menggubris perkataan mamanya Annisa. Dia mengajak anak dan istrinya duduk. Seperti biasa, dengan manjanya Syifa duduk sambil memeluk Aisha. Boneka yang dia bawa di pegang maminya itu.
Ibu Nur menatap ketiganya tanpa kedip. Sepertinya tidak suka atas sikap Ghibran yang tidak mengacuhkan pertanyaan dari adiknya yang merupakan mamanya Annisa.
"Apa kamu tidak mendengar pertanyaan dari Tantemu, Ghibran?" tanya Ibu Nur dengan penuh penekanan.
"Tentu saja aku mendengar. Aku berpikir Tante tidak bertanya, tapi hanya sekedar pernyataan."
Ghibran menjawab ucapan ibunya dengan kepala menunduk. Tidak ingin memperpanjang masalah.
"Ini anakku. Anak kandungku. Apa ada yang ingin ditanyakan lagi?" tanya Ghibran.
Semua keluarga terdiam. Annisa dan Ikhbar berserta anaknya, baru saja datang. Mamanya langsung mengambil alih Aqila yang berada dalam gendongan Ikhbar. Wanita itu memberikan senyum pada semua keluarga. Sebenarnya dia malu ikut perkumpulan keluarga karena berita kepergian Ikhbar kemarin sudah banyak diketahui mereka.
"Maaf aku telat datang," ucap Annisa sebelum duduk. Dia dan Ikhbar duduk berdampingan.
Tiba-tiba terdengar suara Aqila menangis sambil menunjuk boneka yang di pegang Aisha. Mungkin gadis kecil itu ingin memilikinya.
"Mau boneka itu, Oma," ucap Aqila cadel. Bocah berusia hampir dua tahun itu menangis .(Anggap saja Aqila bicara cadel. Mama kurang paham menulis bahasa anak-anak. 🙊)
"Itu bukan boneka Aqila. Oma ambil boneka milikmu dulu," ucap mamanya Annisa. Wanita itu memberikan Aqila pada Annisa. Dia masuk ke kamar tamu dan membawa boneka milik cucunya.
Saat mamanya Annisa memberikan boneka itu pada Aqila sang bocah menolak dan menangis. Dia masih menunjuk boneka yang ada di tangan Aisha. Menyadari bonekanya di tunjuk, Syifa langsung memeluknya.
Aqila makin menangis, dia masih menginginkan boneka Syifa. Melihat itu, ibunya Ghibran berdiri. Dia mendekati Syifa. Dengan tanpa bertanya, Ibu meraih boneka dalam pelukan bocah itu dan menyerahkan pada Aqila. Anak Annisa itu langsung diam dan memeluk bonekanya.
"Bonekanya buat adik Aqila saja, dari pada dia menangis," ucap ibunya Ghibran.
__ADS_1
Syifa langsung memeluk Aisha. Tanpa suara air mata jatuh membasahi pipinya. Wanita itu tampaknya tidak terima anaknya menangis.
"Kenapa, Sayang?" tanya Aisha dengan lembut.
"Bonekaku, Mi. Aku mau boneka itu," ucap Syifa dengan terbata karena menangis.
"Maaf dik Aqila, Kak Syifa minta bonekanya ya. Aqila ada boneka juga'kan?" tanya Aisha dengan lembut.
"Maaf, Mbak Aisha. Ini bonekanya," ucap Annisa menyerahkan boneka yang di peluk Aqila. Bocah cilik itu langsung berteriak melihat boneka itu dikembalikan.
"Mau boneka itu," teriak Aqila.
Mamanya Annisa membujuk dengan memberikan semua boneka cucunya yang ada di rumahnya. Namun, gadis cilik itu masih saja menangis dan menolak semua boneka pemberian oma-nya.
Keluarga yang lain sepertinya asyik dengan kegiatan masing-masing. Pertemuan keluarga untuk menjalin silaturahmi itu, memang sengaja diadakan hanya untuk berkumpul dan makan saja.
"Syifa, berikan saja boneka itu. Nanti nenek belikan boneka lagi. Kamu mau yang seperti apa, bisa nenek belikan. Kasihan adik Qila menangis. Jadi kakak itu harus mengalah," ucap Ibu Nur.
"Aku tak mau, Nek. Ini boneka pemberian Bunda Yeyet," ucap Syifa pelan.
"Berikan saja buat adik Qila. Apa kamu tidak kasihan, lihatlah dia menangis begitu. Nanti dibelikan yang jauh lebih bagus dari itu," ucap Ibu Nur.
Wanita itu lalu berdiri dan kembali mengambil boneka Syifa dan menyerahkan pada Aqila. Bocah itu langsung diam dan tertawa mendapatkan keinginannya. Justru sekarang Syifa yang menangis.
Ghibran ikut membujuk sang putri. Dia tidak ingin jadi masalah.
"Nanti Papi belikan boneka yang lebih besar. Syifa bisa pilih mana yang suka," ucap Ghibran membujuk. Namun, gadis cilik itu tetap menangis.
__ADS_1
Dia memeluk Aisha dan berucap, "Mami, itu boneka pemberian Bunda Yeyet, aku maunya itu saja." Sambil menangis dia berucap.
Aisha tampak menarik napas dalam. Sudah cukup drama yang dia lihat. Diamnya bukan berarti bisa diinjak.
"Annisa, apa kamu tidak bisa membujuk Aqila. Jangan dibiasakan begitu. Jika anak menginginkan milik orang lain, kamu coba beri pengertian. Jika tidak semua yang dia inginkan itu harus dimiliki," ucap Aisha dengan lembut.
"Maaf, Mbak. Ini bonekanya," ucap Annisa dan memberikan boneka itu ke tangan Syifa.
Aqila kembali berteriak meminta boneka itu. Annisa lalu membawanya pergi dari ruangan itu.Mamanya juga ikut, ingin membujuk sang cucu.
"Apaan kamu, Aisha? Yang memberikan boneka itu pada Aqila, ibu. Kenapa Annisa yang disalahkan. Lagian boneka itu juga sudah jelek. Apa salahnya di beri pada Aqila. Ibu nanti bisa belikan lagi buat Syifa," ucap Ibu Nur.
Aisha kembali menarik napas dalam. Mencoba meredam emosi yang sudah hampir memuncak. Ghibran melihat situasi yang kurang menyenangkan itu langsung bersuara.
"Bu, ini bukan soal bagus atau jeleknya boneka itu. Mungkin Syifa memiliki kenangan tersendiri pada boneka ini. Sehingga dia tidak ingin digantikan dengan yang lain," ucap Ghibran.
"Seharusnya kamu juga memberikan pengertian pada anak kamu, agar suka memberi. Jangan pelit. Mengalah pada yang kecil. Lagi pula itu bukan salah Annisa. Namanya juga anak kecil, kalau ingin sesuatu pasti menangis," ucap ibu ketus.
Aisha tampaknya sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Dia berdiri dan menarik tangan putrinya pelan.
"Ini bukan soal jelek atau bagus. Bukan juga soal pelit atau tidak. Mengalah itu juga ada tempatnya. Seharusnya orang tua bisa mengajarkan anaknya untuk tidak memiliki kebiasaan untuk meminta atau menginginkan punya orang lain. Nanti anak bisa berpikir, dengan menangis, semua keinginannya akan terkabul walau pun itu bukan hak dia," ucap Aisha dengan penuh penekanan.
Aisha lalu mengajak putrinya Syifa, melangkah untuk meninggalkan tempat itu. Ibu Nur tampaknya tidak terima dengan ucapan menantunya.
"Aku lebih tahu cara mendidik anak. Lagi pula Syifa bukan anak kandungmu. Dia cucuku. Biar aku saja yang mengajarkan bagaimana cara bersikap yang baik pada orang yang lebih tua dan lebih muda. Harus bisa diajarkan sopan santun. Dan tidak bergaul bebas nantinya setelah besar!" ucap Ibu Nur.
Aisha memegang dadanya yang terasa nyeri mendengar ucapan terakhir dari mertuanya. Tanpa menjawab dia tetap berjalan meninggalkan ruangan.
__ADS_1
...----------------...