
Malam hari yang dingin itu, Aisha merasa ngidam ingin makan seblak. Tapi masalahnya, sudah larut malam dan hampir semua warung sudah tutup. Aisha pun berpikir, kemana dia bisa mencari seblak di tengah malam seperti ini.
"Aku ingin makan seblak, tapi pasti semua warung sudah tutup ya Mas?" tanya Aisha dengan suara pelan.
Mendengar Aisha mengeluh, Ghibran, sang suami, tertawa kecil. "Kalau begitu, aku akan mencarikan mu seblak. Tunggu sebentar ya, Sayang," kata Ghibran sambil tersenyum.
Aisha pun menunggu dengan sabar, sambil terus mengayun-ayunkan kakinya di sofa ruang keluarga rumah mereka. Dia berharap Ghibran bisa menemukan seblak, meski sudah larut malam.
Setelah satu jam berlalu, Ghibran akhirnya kembali dengan membawa sebungkus seblak. Aisha melompat girang melihatnya.
"Wah, kamu berhasil menemukan seblak di tengah malam! Kamu hebat, Mas," ucap Aisha penuh kebahagiaan.
Ghibran hanya tersenyum, lalu membuka bungkusan seblak. Bau harum seblak yang sedap langsung tercium oleh hidung Aisha. Bibirnya sudah mulai bergoyang-goyang karena ingin segera makan seblak itu.
"Ayo makan, Sayang. Sudah kucari keliling kota ini," kata Ghibran sambil menunjukkan seblak yang dia beli.
__ADS_1
Aisha memandanginya dengan penuh semangat. Tanpa menunggu lama, dia segera mengambil sendok dan mencelupkannya ke dalam mangkuk seblak itu. Dia membuat sajian seblak yang begitu lezat di mata Aisha.
"Sudah, Mas. Untuk kamu saja lagi," ucap Aisha menyodorkan piring seblak kehadapan Ghibran. Hal itu mampu membuat dahi sang suami berkerut. Hanya memakan sesendok setelah satu jam dia mencari penjual seblak di tengah malam,pikir Ghibran dalam hatinya.
"Kamu serius tak mau lagi seblaknya?" tanya Ghibran seperti tak yakin.
"Iya, Mas. Perut aku keburu kenyang karena Mas lama mencarinya. Aku hanya ingin mencoba sedikit. Aku sudah terlalu kenyang malam ini," kata Aisha sambil menatap Ghibran dengan lesu.
Ghibran sontak terkejut. Dia mencari seblak sejauh itu hanya untuk Aisha memakannya sedikit? Tapi dia tetap tersenyum dan berusaha mencari solusi agar Aisha tetap bahagia.
"Apa kamu yakin, sayang? Aku bisa mencarikan makanan lain jika kamu ingin," usul Ghibran penuh perhatian.
"Aku suapin ya. Pelan-pelan saja makannya," balas Ghibran. Aisha menganggukan kepalanya tanda setuju.
Ghibran mengangguk mengerti, lalu menyuapkan sedikit seblak ke mulut Aisha. Aisha memejamkan matanya, menikmati setiap suapan seblak yang meleleh di lidahnya. Meskipun hanya sedikit, tapi rasanya begitu nikmat sehingga Aisha tidak menyesal memintanya.
__ADS_1
"Ah, rasanya enak sekali, Mas. Terima kasih sudah mencarikan seblak ini untukku," puji Aisha dengan senyum lebar di wajahnya.
Ghibran tersenyum bahagia melihat Aisha puas dengan makanan tersebut. Meski hanya sedikit, tapi dia melihat mata Aisha bersinar-sinar. Itu sudah cukup membuat hati Ghibran bahagia.
"Sama-sama, Sayang. Aku senang melihatmu bahagia," balas Ghibran sambil berusaha menahan senyum bahagianya.
Mereka berdua pun makan seblak dengan penuh keceriaan, meskipun hanya beberapa sendok. Meskipun keinginan Aisha untuk makan seblak ini ngidam yang tidak terpuaskan sepenuhnya, tapi dia merasa puas dan bersyukur bisa mencicipi rasa seblak di tengah malam yang dingin.
Setelah makan seblak, mereka berdua duduk di taman belakang rumah sambil menikmati dinginnya malam. Mata mereka terfokus memandang langit yang penuh bintang.
"Terima kasih, Mas, atas usaha yang kamu lakukan untuk mencari seblak ini. Walaupun aku hanya bisa makan sedikit, tapi aku bahagia bisa mencicipi rasa seblak yang kusuka," ujar Aisha sambil memeluk erat Ghibran.
Ghibran mengusap lembut punggung Aisha. "Aku bahagia melihatmu bahagia, Sayang. Ngidam mu menjadi prioritasku. Aku rela mencari seblak pagi, siang, atau malam jika itu membuatmu senang."
Dengan tersenyum bahagia, Aisha merespon, "Kamu sungguh laki-laki yang luar biasa, Mas. Aku sangat bersyukur bertemu denganmu. Menikah denganmu adalah anugerah bagiku."
__ADS_1
Mereka berdua saling tersenyum, tanpa perlu banyak kata-kata. Mereka tahu, bahagia tidak selalu harus mencapai keinginan sepenuhnya. Terkadang, bahagia itu juga bisa ditemukan dalam kesederhanaan, seperti saat Aisha mencicipi seblak sedikit di tengah malam yang dingin.
...----------------...