HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
Bab 66. Pasca Operasi


__ADS_3

Dua jam sudah berlalu dari awal operasi. Semua keluarga menunggu dengan cemas dan kuatir. Di sudut ruang tunggu tampak Syifa yang telah tertidur di pangkuan Ghibran. Sedangkan Aisha tertidur dengan kepala bersandar di bahu pria itu.


Sepertinya Aisha menjadi posesif setelah melihat Annisa yang ingin memeluk suaminya. Dari tadi dia menempel terus dengan Ghibran. Beruntung pria itu menanggapi dengan baik. Dia menerima pelukan Aisha dengan membalas memeluknya. Hanya Ibu Nur yang kelihatan kurang suka dengan sikap Aisha.


Ibu Nur yang menggendong Aqila mendekati Ghibran. Dia menatap ke arah dua wanita yang berada dalam pelukan pria itu.


"Jika kamu capek, bangunkan saja Aisha. Minta supir mengantar pulang ke rumah ibu, biar dia dan Syifa tidur di rumah saja. Kasihan kamu, pasti capek memeluk dua orang sekaligus," ucap Ibu Nur.


"Nggak apa, Bu. Aku senang aja melakukannya," balas Ghibran.


"Istri kamu manja banget. Lihat Annisa, suaminya sedang bertaruh nyawa saja masih tetap tegar dan tidak manja," ucap Ibu Nur kemudian.


"Manja dengan suami apa lagi dalam keadaan hamil, bagiku itu biasa, Bu. Aku justru senang dia manja. Itu berarti dia sangat membutuhkan aku sebagai suaminya. Aku justru tidak suka wanita yang terlalu mandiri," jawab Ghibran.


Ibu Nur hanya diam, tidak lagi menjawab ucapan putranya itu. Dia berjalan kembali ke arah Annisa duduk. Entah apa kini yang sedang wanita itu obrolkan. Dia tampak bicara serius dengan ponakannya itu.


Tiga jam telah operasi berjalan. Dokter keluar dari ruangan. Ghibran membangunkan istrinya dengan lembut.


"Sayang, bangun! Aku mau bertanya dengan dokter keadaan Ikhbar," ucap Ghibran. Ibu Nur memandangi itu dengan wajah masam. Dengan sorot matanya, meminta Ghibran segera bertanya dengan dokter.


Aisha membuka matanya dan tersenyum melihat wajah suaminya yang begitu dekat dengan wajahnya. Ghibran mengecup pipi istrinya itu dengan lembut.

__ADS_1


"Mas, letakan aja di kursi Syifa nya," ucap Aisha melihat Ghibran yang ingin menghampiri dokter.


Setelah meletakkan Syifa di kursi, dia berjalan mendekati dokter. Di mana Annisa sedang bicara.


"Bagaimana keadaan Ikhbar nya, Dok?" tanya Ghibran.


"Seperti yang sudah saya katakan pada Ibu Annisa, jika operasinya berjalan dengan lancar. Setengah jam lagi bisa dipindahkan ke ruang rawat. Saat ini pasien masih dalam masa observasi," jawab dokter itu dengan ramah.


Setalah cukup banyak bertanya dan dokter telah menjelaskan semuanya, dia pamit pada semuanya karena masih ada pasien.


Saat ini Ikhbar telah dipindahkan ke ruang rawat. Keadaan masih belum sadarkan diri. Annisa duduk di samping ranjang sang suami sambil menggenggam tangannya.


Ibu Nur lalu mendekati Aisha dan Ghibran yang duduk di sofa. Dia ikutan duduk di samping sang putra. Suaminya, Pak Abdul berada di luar kota.


"Sayang, bagaimana menurut kamu, nginap di sini atau kita menginap di hotel saja?" tanya Ghibran dengan sang istri.


"Terserah Mas saja," jawab Aisha.


"Menurut ibu, kamu pulang saja ke rumah ibu. Buat apa menginap," balas ibu.


Aisha menarik napas dalam. Bukannya dia tidak suka ke rumah mertuanya itu. Tapi semenjak hubungan mereka kurang harmonis, ada rasa tidak nyaman jika menginap di sana.

__ADS_1


"Terserah Mas saja. Apa kita pulang ke rumah ibu, Mas?" tanya Aisha dengan suaminya.


Belum sempat Ghibran menjawab, Ibu Nur yang menjawabnya. Dia berkata hal yang kurang bisa diterima Aisha. Sehingga wanita itu sedikit marah.


"Kamu saja yang pulang. Di antar sama supir. Ghibran biar menginap di rumah sakit ini. Takut ada apa-apa yang Annisa butuhkan," ucap Ibu Nur.


"Kenapa harus Mas Ghibran?" tanya Aisha dengan nada sumbang.


"Aisha, apa kamu tidak punya perasaan? Annisa itu sedang berduka. Apa salahnya Ghibran menemani. Jika dia masih ada ayah, tidak juga mengharapkan bantuan suaminya. Dari sebelum kamu menikah, sudah biasa Ghibran membantu Annisa. Bukan kali ini saja," jawab Ibu Nur.


"Sayang, terserah kamu saja. Kalau mau menginap di hotel, mari kita pergi. Ibu, maaf aku harus menemani Aisha ke hotel," jawab Ghibran.


"Boleh saja. Kalau begitu kamu antar ke hotel kalau memang tidak mau menginap di rumah jelek ibu. Tapi setelah itu kamu kembali ke sini," balas Ibu Nur.


Aisha menarik napas dalam mendengar jawaban dari ibu mertuanya. Dia langsung berdiri. Syifa juga ikutan berdiri dan memeluk tangan maminya itu.


'Aku tidak mengizinkan Mas Ghibran menemani Annisa," ucap Aisha.


"Kamu jangan egois Aisha. Ghibran juga tidak berdua saja dengan Annisa. Ada ibu dan mamanya Annisa. Apa yang harus kamu takutkan?" tanya Ibu Nur.


"Aku hanya menjaga Marwah suamiku. Dia bukan mahramnya Annisa. Masih ada sepupu pria lainnya. Bukan hanya Mas Ghibran. Lagi pula antara Mas Ghibran dan Annisa tidak ada hubungan darah," jawab Aisha.

__ADS_1


Tampak raut wajah terkejut dari Ibu Nur. Wanita itu pikir Aisha tidak tahu tentang dirinya yang hanya ibu sambung.


...----------------...


__ADS_2