
Malam semakin larut. aktivitas di rumah sakit terlihat semakin berkurang. Satria duduk di lobi rumah sakit dengan perasaan berkecamuk. kekecewaan yang di rasakan karena rencana malam minggunya gagal total telah berubah menjadi kehawatiran. Dia pun ingin tahu kondisi ibu senja seperti apa. bagai manapun berengseknya dia selama ini pada perempuan, dia masih memiliki hati untuk bersimpati. apalagi, benih perasaan cinta kepada Senja sebenarnya sudah mulai muncul akhir-akhir ini.Tapi, aktualisasi cinta yang dia pahami hanyalah mengikuti dorongan nafsu. kebiasaan mengikuti godaan setan membuat keburukan akhirnya terpola.
Tubunya dari tadi bersandar pada dinding bercat putih. wajahnya gelisah.Tiba-tiba dia memegangi kepalanya, teringat nasehat dari sahabatnya Angga.
Bukan kah dia pernah bilang akan berusaha berubah? mengapa amat sulit untuk berubah? Mengapa tak semudah sahabatnya yang lain yang sudah berhijrah?
Apa yang telah aku lakukan? batin Satria.
Lalu, dari lorong rumah sakit, terlihat gadis cantik berjalan menuju kearahnya. Satria menatap gadis itu sambil berusaha tersenyum"Senja, Giman kondisi Ibu?"
Senja tidak menjawab langsung duduk di samping Satria. Dia langsung bersandar pada dinding. lalu matanya terpejam. Senja menarik napas dalam-dalam.
"Senja aku minta maaf," ucap Satria pelan.
Senja masih tak bersuara. beberapa detik kemudian Satria mencoba memegang tangan Senja, Tapi Senja langsung menepisnya.
Sekarang mereka bertatapan dengan kepala penuh tanya.
__ADS_1
"Apakah kamu benar mencintaiku? tanya Senja
Senja menatap wajah Satria dan berusaha mencari ketulusan dan kesungguhan dalam tatapan matanya.
"Ya, aku mencintaimu."
"Apa yang kamu lakukan pada malam ini juga pernah kamu lakukan pada perempuan yang dekat denganmu?"
Satria diam membisu.
"Seperti itukah wujud pembuktian cinta menurutmu?"
Senja menyerahkan sebuah amplop surat kepada Satria. Satria menerima surat itu dengan tatapan bingung.
"Kamu baca sekarang di sini."
Satria membuka amplop surat, lalu membacanya berlahan. Di resapinya kata demi kata yang ada dalam surat itu dengan dada bergetar.
__ADS_1
Dan, dia merasa seperti dipaksa masuk kelorong waktu yang mengantarkannya pada pintu masa depan. Di mana cerita yang dia baca dalam surat itu adalah cerita tentang nya. kisah perjalanan hidupnya. penyesalan yang di rasakan oleh Ayah Senja juga merupakan penyesalanya.
Dalam benaknya, tiba-tiba muncul daftar perempuan-perempuan yang selama ini yang telah berhasil dirayu olehnya. lalu, wajah adiknya sedang menangis muncul tiba-tiba.
"Zina adalah hutang dan kamu akan berusaha membayarnya seumur hidupmu."
Kalimat itu benar-benar meneror dirinya, berputar dalam kepalanya, dan meruntuhkan semua keberaniannya selama ini.
Satria tiba-tiba tersugkur, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan. kertas surat itu masih di pegang nya. kertas yang seperti mengandung energi listrik yang menyetrum urat-urat kesadaran dalam kepalanya. Untuk kali pertama dalam hidup, dia merasa getaran aneh di seluruh tubuh yang terasa menyiksa dari atas kepala Hinga ujung kaki.
Beberapa saat kemudian dia berdiri dengan nekat air mata terlihat jelas di wajahnya. Senja ikut berdiri dan menjaga jarak satu meter di hadapannya. Satria kemudian mengembalikan surat itu kepada Senja dengan dada masih bergetar. tampa kata-kata apapun dari mulutnya.
"Senja, aku.......aku....." Satria tak kuasa mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. Satria merasa sangat Gugun.
"Kamu tau Satria, Ayahku meninggal tiga bulan lalu saat melaksanakan sholat shubuh."
Setelah mengatakan kalimat itu, Senja langsung beranjak pergi. namun, beberapa meter kemudian dia kembali menoleh ke arah Satria yang masih berdiri termangu.
__ADS_1
"Kita putus. hubungan kita cukup sampai di sini. jangan pernah hubungi aku lagi." kata Senja yang terus berjalan meninggalkan satria Tampa menoleh kembali.