HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
Bab 77. Sarapan Pagi


__ADS_3

Pagi itu, suasana di rumah Ibu Nur terasa tegang. Ia masih marah setelah mengetahui bahwa suaminya, Bapak Abdul, memiliki istri lain. Meskipun marah, Ibu Nur tetap bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan seperti biasa. Ia masih terus memasak sambil memikirkan masalah yang sedang dihadapinya.


Tiba-tiba, Bapak Abdul muncul di dapur dengan wajah penuh penyesalan. Ia berusaha untuk mendapatkan maaf dari Ibu Nur yang masih murka. "Maafkan aku, Nur. Aku melakukan kesalahan besar ini. Kamu adalah istriku yang utama, dan aku tidak seharusnya menduakan mu tanpa izin. Aku benar-benar menyesal," ucap Bapak Abdul dengan ragu.


Ibu Nur tidak langsung menjawab. Dia terus memasak dengan hati yang masih berat. Setelah beberapa saat berlalu, Ibu Nur akhirnya berhenti dan menatap Bapak Abdul dengan tatapan tajam. "Ayah, apakah kamu benar-benar menyesal atau hanya sedang berusaha meminta maaf karena ketahuan?" tanyanya dengan suara tegas.


Bapak Abdul terdiam sejenak, tersadar bahwa penyesalan yang ia rasakan haruslah tulus. "Nur, aku memang menyesal dengan perbuatanku. Aku tidak ingin kehilanganmu, kamu adalah kehidupanku. Aku akan melakukan apapun untuk memperbaiki kesalahan yang telah aku lakukan. Aku tahu caraku salah, tapi jangan memintaku untuk berpisah dari Rachel. Kalian berdua sangat berarti bagiku," jawab Bapak Abdul dengan suara lirih.


Ibu Nur merasakan kejujuran dalam kata-kata Bapak Abdul. Hatinya yang sedikit mengendur, namun rasa marahnya masih belum hilang. Selama ini, walau dia sering melakukan kesalahan, Pak Abdul tidak pernah berkeinginan untuk berpisah.

__ADS_1


"Ayah, kamu telah menyakiti hatiku sangat dalam. Aku butuh waktu untuk memaafkanmu, tapi aku tidak akan menolak permintaan maafmu. Hanya waktu yang akan bisa menyembuhkan luka ini," ujar Ibu Nur dengan penuh tetap.


Bapak Abdul tersenyum lega mendengar kata-kata dari Ibu Nur. Ia tahu bahwa ia terus harus bersabar dan membuktikan penyesalannya melalui tindakan nyata. "Nur, aku akan berjuang untuk mendapatkan kepercayaanmu kembali. Aku akan mengubah diriku menjadi suami yang lebih baik untukmu dan untuk Rachel. Bukankah selama dua tahun pernikahanku dengan Rachel, kau tetap aku nomor satukan," kata Bapak Abdul sambil mendekati Ibu Nur dan mencoba untuk memeluknya.


Namun, Ibu Nur mencegahnya dengan tegas. "Tidak sekarang, Ayah. Aku masih marah, dan ini adalah momen yang membutuhkan kesendirianku. Jangan memaksaku," kata Ibu Nur dengan bangun yang mantap namun lembut.


Saat sarapan selesai disajikan, Ibu Nur duduk di meja dan mulai makan sendirian. Bapak Abdul berdiri di depannya dengan pandangan penuh penyesalan. "Aku akan keluar sebentar, Nur. Ada urusan penting yang harus ku atasi. Aku akan pulang nanti sore," ujarnya seraya berjalan menuju pintu.


Ibu Nur menoleh ke arah suaminya sambil menganggukkan kepala dan berkata, "Bersihkan hatimu, Yah. Kemudian, barulah kamu bisa membersihkan hubungan ini. Aku akan menunggu." Ucapan itu terdengar lembut, tapi dalam di telinga Bapak Abdul.

__ADS_1


Sementara itu, Ibu Nur melanjutkan sarapannya dengan hati yang masih berat. Ia sadar bahwa perjalanan memaafkan bukan hal yang mudah, namun ia percaya bahwa keluarganya dapat melewati masa sulit ini jika hati mereka dibersihkan dan tindakan yang dilakukan tulus.


Demi keutuhan keluarganya, Bapak Abdul berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi suami yang setia dan mencintai Ibu Nur dengan tulus. Ia menyadari bahwa ia harus berjuang mendapatkan kepercayaan dan memperbaiki niat buruk yang ia lakukan.


Namun, dia juga tidak akan melepaskan Rachel. Mereka berdua memiliki tempat tersendiri di hatinya.


Siang harinya, Ibu Nur memutuskan untuk pergi ke rumah Ghibran. Dia akan menginap beberapa hari untuk menenangkan pikirannya. Dia juga berkeinginan mengadu tentang pengkhianat yang ayah Abdul lakukan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2