
Aisha membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa pusing. Dia melihat ke samping. Terlihat suaminya yang tidur dengan kepala berada di ujung ranjang.
Wanita itu berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Ghibran. Merasakan pergerakan Aisha, pria itu membuka mata.
"Sayang kamu telah sadar," ucap Ghibran. Dia langsung mengecup kedua pipi wanita yang dia cintai itu.
"Maaf, Mas ...," ucap Aisha pelan.
"Kamu tak salah. Aku yang harus minta maaf. Aisha, maaf Sayang. Aku tidak bermaksud membentak kamu. Sekali lagi, maafkan aku!" ucap Ghibran.
Aisha hanya mengangguk setelah itu kembali memejamkan matanya. Tampak sekali dia lelah.
Pagi harinya, Ghibran memandikan Syifa sebelum Aisha bangun. Semalaman dia tidak bisa tidur. Dia merasa sangat menyesal dengan tindakannya kemarin. Istrinya itu juga tampak belum bisa memaafkan, buktinya Aisha tidak mau bicara.
"Papi, mami tak apa 'kan?' tanya Syifa kuatir melihat sang mami masih memejamkan matanya dari kemarin.
"Tak apa, Sayang. Mami masih harus istirahat, jadi biarkan mami tidur. Kita doakan mami segera sembuh," jawab Ghibran.
Dokter memang memberikan obat tidur yang cocok untuk wanita hamil agar Aisha bisa istirahat dengan maksimal. Kandungannya masih lemah. Tidak boleh banyak pikiran dan kerjaan.
__ADS_1
Setalah Syifa berpakaian rapi, dia pamit pada putrinya untuk ke kantin. Ghibran ingin membeli sarapan.
"Syifa jaga mami. Papi mau beli sarapan dulu," pesan Ghibran.
Matanya tampak memerah dan sembab. Menangis dan mengantuk jadi satu. Tidak pernah dia merasa sebersalah begini. Pria itu tidak mengatakan apa pun pada keluarganya tentang keadaan Aisha. Tidak ingin kedatangan mereka makin memperparah kondisi kesehatan sang istri.
Saat Ghibran pergi, Aisha membuka matanya. Dia melihat Syifa yang sedang bermain tablet di sofa. Gadis cilik itu asyik dengan game, sehingga tidak menyadari jika maminya telah bangun.
Aisha teringat kejadian kemarin. Mungkin dirinya yang terlalu sensitif, mungkin benar suaminya tidak bermaksud marah dengannya. Namun, dia benar lelah dengan semuanya. Selalu saja dia yang berusaha memahami semua orang tanpa seorang pun tahu perasaan dirinya.
Ayah, ibu, rasanya dunia ini begitu sunyi semenjak kepergianmu. Ayah, ibu, datanglah ke mimpiku, aku sangat ingin bertemu denganmu. Bisakah kita bertemu, walau sebentar saja? Ada begitu banyak yang ingin ku ceritakan. Ayah, ibu, nyaman kan di sana? Di sini berbeda tanpa ayah dan ibu. Tapi, aku akan kuat dan gak mau buat ayah dan ibu di sana sedih. Aku harap jika ayah dan ibu dapat mendengar ku, aku ingin mengatakan bahwa aku sangat merindukan kehadiran kalian. Andai ayah dan ibu ada di depanku saat ini, mungkin aku sudah memeluknya dan menceritakan keluh kesahku. Sekarang aku tahu mengapa kalian selalu memintaku untuk kuat karena kalian tahu aku bakalan butuh kekuatan untuk menanggung kepergian ayah dan ibu. Aku merindukanmu, Ayah, Ibu.
"Mami telah bangun. Jangan tidur lama lagi. Aku takut. Aku tak mau mami meninggalkan aku," ucap Syifa.
"Sayang, mami tidak apa-apa. Kamu jangan takut," ucap Aisha pelan.
"Mami, aku tidak mau lagi ke rumah itu. Mereka jahat. Membuat mami jadi sakit," ucap Syifa dengan suara sedikit geram. Dia teringat kejadian kemarin yang membuat maminya jatuh pingsan.
Ghibran yang baru datang, mendengar ucapan putrinya. Dia hanya diam tidak menanggapi. Anak dan istrinya pasti sangat tertekan kemarin.
__ADS_1
"Sayang, aku beli bubur ayam. Kamu mau sarapan dengan bubur yang di beri rumah sakit atau bubur ayam ini?" tanya Ghibran.
"Mas, aku tidak mau apa-apa. Aku capek. Lelah dan ingin menyusul ayah dan ibu," ucap Aisha pelan.
Ucapan Aisha membuat Ghibran terkejut. Dia langsung memeluk tubuh istrinya.
"Jangan bicara begitu, Sayang. Aku janji tidak akan membiarkan kamu jadi bahan omongan lagi. Kita pindah. Pindah ke tempat yang jauh. Tapi jangan pernah tinggalkan aku. Aku tak sanggup," ucap Ghibran dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya.
Ghibran memang telah memikirkan semua ini. Dia akan membeli rumah di luar kota jauh dari keluarganya. Perusahaan akan dijalankan oleh orang kepercayaannya.
"Mas, aku capek selalu dianggap kotor. Aku capek jadi bahan perbandingan. Aku capek selalu di pandang sebelah mata. Aku juga ingin dihargai. Aku tidak minta mereka memujiku. Cukup dengan tidak mengungkit masa laluku saja. Itu sudah cukup. Apa mereka tahu bagaimana aku mencoba bangkit dan melupakan semua itu. Aku hampir gila, hampir bunuh diri, aku hampir saja tak percaya pada kehidupan ini. Tapi di saat aku mulai bangkit, kembali aku dihantam dengan ucapan mereka yang membuat aku kembali jatuh," ucap Aisha dengan air mata yang berderai.
"Kita akan pergi jauh dari mereka. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghina kamu lagi. Aku janji," ucap Ghibran dengan suara lemah seperti memohon.
Aisha diam tanpa menjawab lagi ucapan sang suami. Syifa datang mendekati dan menghapus air matanya.
"Mami, Syifa sayang mami. Mulai hari ini aku janji akan melawan semua orang yang membuat mami menangis, termasuk Papi," ucap bocah itu. Aisha memeluknya, terharu dengan perhatian sang anak.
...----------------...
__ADS_1