HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
Bab 53. Di Taman Rumah Sakit


__ADS_3

Pagi itu, langit cerah dan segar, sayup-sayup terdengar bunyi riuh rendah bunga-bunga yang berhembus lembut di terali pagar.


Ghibran perlahan menyeret kaki menuju jalan setapak hijau yang membawa ke taman rumah sakit tempat istrinya, Aisha, dirawat. Syifa, anak mereka yang masih kecil, berlarian riang menyusul dari belakang.


Ghibran mendorong kursi roda yang diduduki Aisha secara pelan. Dia ingin sang istri merasa bahagia dengan menghirup udara segar di taman pagi ini.


"Kamu senang main kesini, Syifa?" tanya Ghibran sambil menyentil pelan hidung putri kecilnya.


"Iya, Papi!" jawab Syifa dengan senyum lebar di bibirnya. "Taman ini cantik!"


Ghibran tersenyum lembut. Syifa memang anak yang riang dan ceria, tidak pernah menunjukkan kecemasan atau rasa takut meski sang Ibu sedang sakit. Kedewasaannya di luar usianya.


Sampai di taman, Ghibran langsung mencarikan tempat duduk untuk mereka berdua sambil Syifa berlari-larian di sekitar taman. Taman ini memang cukup besar dan rindang, terdapat banyak sekali bunga dan pohon yang menyejukkan.


Ketika di taman itu, Ghibran menaruh buku-buku yang ingin dia baca di sela-sela waktu pemulihan Aisha. Buku-buku itu bercerita tentang keindahan dan filosofi kehidupan. Ghibran selalu merasa tenang ketika membaca buku-buku tersebut. Dalam ketenangan itu, Ghibran selalu menemukan inspirasi dan kekuatan.


"Sayang, apa masih ada yang terasa sakit?" tanya Ghibran saat mereka telah duduk di bangku taman.


"Tidak ada, Mas," jawab Aisha pelan. Dua hari ini, Ghibran selalu saja mendampingi sang istri. Dia dengan sabar menjaga Aisha dan putrinya Syifa.


"Aku harap ini yang terakhir kalinya kamu sakit dan dirawat," ucap Ghibran.


"Tidak ada yang menginginkan sakit, Mas. Semua atas kehendak Allah," balas Aisha.


"Jika aku boleh meminta, aku ingin Allah memindahkan semua penyakit kamu ke aku saja," ucap Ghibran.


"Mas tidak boleh bicara begitu," ujar Aisha. Mendengar ucapan istrinya, Ghibran lalu tersenyum menyadari salah ucap, lalu mengecup kedua pipi sang istri. Dia bahagia karena Aisha tidak lagi membicarakan

__ADS_1


Sudah hampir satu jam mereka duduk di taman rumah sakit itu, berbincang-bincang tentang hal-hal sepele dan berusaha membuat Aisha merasa nyaman. Syifa tetap berlarian di taman, kadang-kadang dia melompat atau bermain dengan beberapa anting-anting makhluk kecil di kerikil taman kecil.


"Jangan berkeliaran terlalu jauh ya, Nak," tegur Ghibran ketika Syifa melompat-lompat di batu.


"Iya, Papi," jawab Syifa riang.


"Sayang, kamu pasti sudah lapar. Aku pesan makanan dulu, ya? Kamu mau apa?" tanya Ghibran dengan lembut.


"Mas, apa aku boleh makan nasi Padang?" Bukannya menjawab pertanyaan Ghibran, justru dia balik bertanya.


"Aku rasa tak masalah, Sayang. Tapi jangan pedas. Kamu mau aku pesankan nasi Padang?" tanya Ghibran lagi. Aisha mengangguk kepalanya sebagai jawaban.


Entah mengapa dari kemarin dia ingin makan nasi Padang. Namun, Aisha takut mengatakan pada Ghibran.


Beberapa saat kemudian, makanan yang dipesan sampai. Ghibran membantu Aisha menyusun bantal di punggungnya.


Aisha tersenyum melihat Ghibran sedang berusaha memasukkan nasi yang gumpal ke dalam mulutnya. " Aku bisa makan sendiri, Mas!"


"Iya, aku tahu kamu bisa makan sendiri, tapi aku tidak akan membiarkan itu. Kamu itu sakit," kata Ghibran sambil tersenyum lembut. Tatapannya menembus jauh ke hati Aisha tatkala memandanginya.


Mereka menghabiskan beberapa jam di taman, menikmati cuaca yang indah dan kebersamaan yang terjalin dalam kehangatan. Ghibran membacakan buku-buku filosofi yang ia bawa untuk Aisha dan keduanya memahami hikmah-hikmah dalam cerita yang ditampilkan.


Aisha sepertinya sudah mulai melupakan kejadian yang membuat dirinya marah hingga pingsan. Dia juga telah menerima dan memaafkan Ghibran lagi.


Syifa berlari kecil ke arah mereka, lalu menunjukkan anting-anting dan batu yang ia kumpulkan sambil berlari di taman dan menjelaskan cara ia menemukannya pada kedua orang tuanya.


Waktu begitu cepat berlalu. Tiba-tiba, Syifa mendekati orang tua mereka dengan perasaan sedikit gugup dan melontarkan sebuah pertanyaan yang sangat tak terduga.

__ADS_1


"Papi, kapan mami bisa pulang?" tanya Syifa.


Ghibran terhenyak mendengarnya dan sedikit bingung bagaimana ia seharusnya menjawab pertanyaan itu karena dia juga belum tahu, kapan istrinya itu diizinkan pulang ke rumah. Aisha yang mendengarnya juga terlihat sedih, tapi coba menenangkan Syifa dengan senyum kecil.


"Mami masih harus dirawat, Sayang. Jadi belum bisa pulang ke rumah. Mungkin dua hari lagi mami diizinkan pulang," jawab Aisha dengan lembut.


"Aku tidak suka Mami sakit. Aku mau mami segera sembuh," kata Syifa sedih. "Bentar lagi kan kita ada libur sekolah. Kita bakal liburan kan?"


"Iya, kita akan liburan bersama-sama setelah mami pulang dari rumah sakit, Nak. Kita bakal pergi ke tempat yang indah, seperti taman ini," kata Ghibran.


"Syifa mau ke pantai," jawab gadis kecil itu dengan suara riang.


"Baiklah, nanti kita ke pantai. Kita berenang dan bermain pasir," kata Aisha sambil membelai rambut putrinya.


"Sekarang, aku mau main permainan yang Papi bawa itu, seperti kemarin," ujar gadis kecil itu dengan wajah ceria.


Ghibran tersenyum dan membawa beberapa buah kartu dari dalam tasnya. "Oke, apa yang kita mainkan kali ini?"


Mereka bermain kartu hingga hari mulai siang. Matahari memancarkan cahayanya dengan garang. Syifa dominan menang dan semakin riang karena kemenangannya. Aisha memandang mereka dengan haru dan tersenyum bahagia.


Akhirnya, saatnya bagi mereka untuk kembali ke ruangan perawatan Aisha. Mereka berpamitan di taman dan melangkah menuju lorong rumah sakit.


Pada saat itu pula, Ghibran menyadari bahwa meski di tempat itu sedih dan menegangkan, ia telah menemukan keindahan. Keindahan dalam kebersamaan dan cinta antara keluarganya. Beberapa hari di sana, mereka telah belajar untuk mencintai hidup secara lebih baik.


Ghibran akan segera membawa anak dan istrinya ke rumah yang baru dia beli. Menjauh dari keluarganya.


Menjauh bukan karena ingin memutuskan persaudaraan. Terkadang menjauh dari seseorang atau keluarga bukan karena ingin memutuskan tali silaturrahmi, tapi hanya ingin memutuskan perselisihan, perdebatan dan kesalahpahaman yang tidak nyaman di hati. Jika seseorang telah menyakiti dengan sikap dan kata, jangankan untuk menyapa, memandang wajahnya pun malas. Itu bukan benci, tapi hanya ingin menjaga hati dan perasaan dari orang yang biasa merendahkan kita. Biarkanlah, tidak perlu merasa tersinggung apa lagi merasa sedih. Jika kita dinilai baik, ya syukur. Di nilai tidak baik pun tak mengapa, semua hadir dalam hidup kita memiliki perannya masing-masing. Ada yang memberikan kebahagiaan dan ada yang memberikan kepedihan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2