
Tersebutlah Umar bin Khathab r.a., sahabat Nabi Muhammad Saw. yang berwatak keras dan bertubuh tegap. Semasa jahiliah. dia sangat keji. Saking kejinya, dia pernah mengubur anak perempuannya hidup-hidup. Namun, ketika hidayah Islam menghampiri, kisah Umar bin Khathab adalah salah satu kisah terbaik dalam hijrah dan pertobatan agung manusia yang kembali fitrah. Di akhir hayatnya, dia wafat sebagai seorang Khalifah. Pemimpin Islam yang sangat disegani sepanjang masa. Salah satu sahabat terbaik Nabi, Dikuburkan tepat di samping makam manusia teragung sepanjang zaman, Nabi Muhammad Saw.
Tersebutlah seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israel bernama Barsisa yang selama hidupnya dikenal tekun beribadah. Seorang Zuhud yang tak pernah bermaksiat dan memiliki banyak murid. Pada satu waktu, dia mendapatkan amanah menjaga perempuan, adik dari tiga pemuda yang hendak pergi berjihad. Awalnya, dia menolak, tapi karena terus didesak, akhirnya dia bersedia menuruti permintaan mereka. Tinggallah perempuan itu berdekatan dengan si ahli ibadah. Cerita selanjutnya adalah nestapa. karena terus-terusan dibujuk, digoda oleh setan yang penuh tipu daya, si ahli ibadah menzinahi perempuan tersebut sampai hamil dan melahirkan anak hasil zina. Setelah itu, setan tak henti menggoda. Karena takut ketahuan saudara-saudara lelakinya, si ahli ibadah akhirnya membunuh anak dan perempuan tersebut sekaligus. Kisah tragis terus berlanjut. Pada akhirnya, saudara-saudara lelaki perempuan itu mengetahui bahwa adik mereka telah dibunuh oleh si ahli ibadah dan melaporkan hal ini kepada raja. si ahli ibadah akhirnya dihukum mati. Sebelum kematian terjadi, setan menampakkan diri dan kembali menggoda barsisa agar bersujud kepada setan supaya selamat. Barsisa melakukan itu sehingga wafat dalam kekafiran.
Tersebutlah dalam Hadits Rasulullah Saw., seorang wanita pezina menolong anjing yang menjulurkan lidahnya dan hampir mati kehausan di pinggir sumur. Melihat itu, si wanita pelacur melepas sepatunya dan mengikatnya dengan menutup kepalanya. Lalu, dia mengambilkan air untuk diminum oleh anjing tersebut. Kebaikannya yang ikhlas bernilai tak terhingga. Dan, karena perbuatan baiknya, wanita perzina itu mendapatkan ampunan dari Allah AZZA WA Jalla.
Satria membaca buku Merindu Husnul khatimah karya Kang Umar dengan hati bergetar dan perasaan merinding di sekujur tubuhnya.Di kamarnya seorang diri, menatap jauh ke arah luar jendela, dia merenungi jejak perjalanan hidupnya yang penuh dosa dan maksiat. Dia juga membayangkan akhir perjalanan hidupnya. Seperti apa akhir perjalanan hidupku, ya, Rabb? tanyanya dalam hati.
Tiba-tiba Satria teringat pertanyaan yang sering diucapkan Abah Iwan. Kata-kata yang juga ditulis oleh Kang Umar dalam bukunya. Kata-kata yang mewarnai alam pikiran semua santri di Kampung Hijrah.
__ADS_1
Renungkanlah dalam hatmu dan pikiranmu, pertanyaan-pertanyaan ini.
Dengan cara apa aku meninggal?
Sedang dalam keadaan apa?
Di mana aku meninggal?
Kang Umar sudah berhasil mewujudkan harapanya. Sedangkan aku, mampukan aku mendapatkan husnul Khotimah? Apa aku bisa seperti Kang Umar?
__ADS_1
Pertanyaan itu menjadi harapan indah bagi Satria kini.
Dia kembali teringat pesan Abah Iwan. "Hidup itu adalah perjalanan. Nilai kesuksesan seseorang terlihat di akhir perjalanan. Saat kematian menyapa, seperti apa keadaan kita? Apakah saat Allah ridho? Saat allah cinta? Ataukah saat Allah murka kepada kita karena kemaksiatan, kekufuran, dan kejahilan kita?
"Sebab itu, anak-anakku, jangan lah pernah kalian menjudge siapapun yang masuk neraka. Apalagi mendoakannya masuk neraka. Seperti apapun kondisi di saat ini, jangan pernah mendoakan keburukan untuk orang lain, Kenapa? karena kita tidak tahu akhir hayat seseorang. Bisa jadi dalam fase perjalanan hidupnya, Allah berikan hidayah sehingga dia berhijrah, bertobat dan menjadi insan yang taat sampai akhirnya wafat.
"Kita pun jangan pernah mengklaim diri pasti masuk surga. Bangga dengan kesalehan diri kita sehingga lupa Dan besar kepala. Astagfirullah'adzim. . . . berlindung lah kenapa Allah agar kita diberi Rahmat oleh-nya. Sehingga, kita bisa Istikomah, dalam jalan tobat dan taat. Diwafatkan oleh-nya dalam keadaan jiwa tenang, jiwa yang tersenyum untuk kembali pulang, untuk bertemu kekasih sejati, Allah AZZA WA Jalla."
Angin bertiup sepoi-sepoi. Semilirnya lembut menyentuh wajah dan rambut Satria yang masih berada di balik jendela. Pandangannya jauh ke depan, menatap gunung, perkebunan, juga bukit yang berwarna kehijauan. Entah mengapa hari ini Satria terus-menerus dihantui perasaan takut akan datangnya kematian. Bayangan kematian membesar dan membuat batinnya tak henti berzikir serta berdoa lirih kepada Allah.
__ADS_1
"Ya Allah, aku inggin meninggal di Kampung Hijrah. Aku ingin meninggal saat membela agama-Mu. Aku ingin meninggal saat membela kehormatan Islam. Aku mengharapkan akhir yang indah. Merindukan Husnul khatimah."