HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
Bab 89. Pemakaman Pak Abdul


__ADS_3

Ibu Nur duduk di sudut ruangan rumahnya dengan air mata yang terus membasahi pipi. Tidak pernah dia bayangkan jika akan berpisah dengan suami tercinta dengan cara begini.


Dulu dia berpikir akan menghabiskan sisa hidup dengan saling menyayangi sambil momong cucu. Mereka akan tinggal di sebuah desa dengan rumah yang dikelilingi taman bunga.


Aisha mendekati ibu mertuanya. Ibu Nur langsung memeluk wanita itu. Kembali tangisnya pecah.


"Ibu, ikhlaskan semua. Ayah sudah tenang di tempatnya. Ibu tidak boleh terlalu laut dalam kesedihan begini," ucap Aisha mencoba menenangkan hati ibu mertuanya.


Annisa mendekati Tante nya itu. Dia menggenggam tangan wanita itu mencoba memberikan kekuatan.


"Tante, yang sabar ya," ujar Annisa.


"Bu, sebentar lagi jenazah ayah akan dimandikan. Apa ibu ingin ikut memandikan?" tanya Aisha. Ibu Nur menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


(Tidak ada bahaya sekiranya kamu meninggal sebelumku. Aku akan mengurusimu, memandikan, mengafani, mensalatkan, dan menguburkanmu.” (HR. Ibnu Majah no. 14 dan Ahmad 43: 81. Dinilai hasan oleh Syekh Albani dan Syekh Syu’aib Al-Arnauth)


Hadis ini merupakan dalil bolehnya seorang suami memandikan jenazah istrinya. Pendapat ini merupakan pendapat jumhur (mayoritas) ulama, di antaranya adalah Imam Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad (pendapat yang masyhur dari beliau). Sebagaimana mereka juga berdalil dengan qiyas bolehnya seorang istri memandikan jenazah sang suami.

__ADS_1


Sedangkan sejumlah ulama yang lain berpendapat tidak boleh seorang suami memandikan jenazah istrinya, di antara adalah pendapat Abu Hanifah, Ats-Tsauri, dan satu riwayat dari Imam Ahmad.)


Pemandian jenazah Pak Abdul dilakukan oleh Ghibran dan para ahli lainnya. Ibu Nur hanya membantu menyiram di saat terakhir saja.


"Ayah, masih melekat diingatan ku, dulu di awal pernikahan kita sering mandi bareng. Saat ini aku kembali memandikan kamu untuk terakhir kalinya. Aku mencintai kamu, Yah. Aku harap kamu menunggu kehadiranku walau mungkin kamu telah di dampingi Rachel saat ini. Aku ikhlas melepaskan kepergianmu. Aku ikhlas atas semua yang pernah kau lakukan padaku. Aku memaafkan semua salahmu, dan aku juga meminta maaf karena tidak bisa menjadi istri yang sempurna untukmu," ucap Ibu Nur dalam hati dengan derai air mata.


Setelah jenazah dimandikan dan disolatkan, seluruh keluarga dan pelayat menuju ke pemakaman umum. Pak Abdul yang terkenal baik dan ramah, sehingga para pelayat begitu banyak mengantar dirinya ke peristirahatan terakhir.


Ibu Nur berjalan dengan menggandeng tangan Aisha. Dibelakangnya ada Annisa dan Ibunya. Cukup heran sang adik melihat Ibu Nur sang kakak menjadi akur dengan menantunya.


Ghibran turun langsung ke liang lahat untuk menyambut jenazah ayahnya. Setelah jenazah di letakkan dengan baik dalam liang lahat, pria itu juga yang mengadzani sang ayah.


Setelah itu, Ghibran naik ke atas. Dia dan dibantu yang lain mulai menurunkan tanah untuk menutupi kubur Pak Abdul. Setiap tanah yang masuk, membuat detak jantung Ibu Nur makin berdetak cepat. Air mata tidak bisa dia bendung. Tangannya memeluk erat pergelangan tangan menantu.


Syifa berdiri di samping maminya. Gadis kecil itu sangat mengerti jika neneknya lebih butuh mami Aisha, makanya dia tidak ingin merepotkan Aisha. Dia berdiri di samping wanita itu saja tanpa minta pelukan seperti biasanya.


Aisha yang mengerti jika sang putri juga sedih dengan kepergian sang kakek lalu memeluk pundak Syifa, merapatkan tubuh mereka.

__ADS_1


"Selamat jalan Ayah. Kamu mertua hebat, walau aku hanya mengenalmu sebentar saja, tapi sangat membekas di hati ini. Kamu pria baik, jika di akhir hidupmu melakukan kesalahan dengan menikah tanpa izin, itu bukan hak aku untuk menghakimi. Aku doakan semoga kamu ditempatkan di sisi-Nya," doa Aisha dalam hati.


Ibu Nur hanya diam, tanpa suara. Tangisnya saja yang terdengar. Hingga doa selesai dibacakan. Ibu Nur maju dan menaburkan bunga di atas pusara sang suami. Kembali air mata jatuh membasahi pipinya.


"Selamat jalan, suamiku. Semoga surga tempatmu. Tunggu aku di sana," ucap Ibu Nur dalam hatinya.


Mengikhlaskan dan melepaskan mungkin tampak seperti kamu menyerah kepada orang itu atau ingatannya. Namun, tentu tidak seperti itu.


Tidak ada gunanya terjebak berduka atau berduka atas kehilangan mereka. Mereka tidak ingin hidupmu berhenti atau dibatasi karena ingatan mereka.


Ya, berduka dan merindukan mereka adalah hal yang wajar, dan itu bisa bertahan beberapa saat. Namun, juga normal untuk mencapai titik di mana kamu menerima dan mengikhlaskan seseorang telah pergi, serta melepaskan kesedihan yang berkelanjutan.


Itu tidak berarti kamu tidak sedih atas kehilangan mereka. Juga tidak berarti kesedihanmu langsung berhenti. Akan tetapi, itu menandai pergeseran di mana rasa sakit yang begitu luar biasa dan sulit diatasi, mulai mereda. Kamu lihat ada kehidupan setelah kematian.


"Cinta lebih kuat dari kematian, meski itu tidak dapat menghentikan kematian terjadi. Namun, tidak peduli seberapa keras kematian mencoba, itu tidak dapat memisahkan orang dari cinta. Itu juga tidak bisa menghilangkan ingatan kita. Pada akhirnya, hidup lebih kuat dari kematian."


"Semoga kita semua bisa mengambil tauladan pada kebaikan yang telah almarhum lakukan selama hidupnya. Kita simpan saja semua keburukan almarhum semasa hidup, dan tak perlu mengungkitnya kembali. Allah SWT tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan kita sebagai manusia. Maka, tetaplah tegar atas kepergiannya karena semuanya akan indah pada waktunya. Segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak Allah, kita harus menerimanya dengan lapang dada."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2