
Aisha, Ibu Nur dan juga Annisa terdiam. Larut dalam pikiran masing-masing. Wanita itu tidak mengira reaksi dari istrinya Ghibran itu baik.
"Aisha, jika kamu memang sudah memaafkan semua kesalahan ibu, apa boleh ibu minta sesuatu?" tanya Ibu Nur.
"Tentu saja boleh, Bu. Apa yang Ibu inginkan? Jika memang aku sanggup, akan aku kabulkan," jawab Aisha.
Sementara tiga orang dewasa itu sedang mengobrol, kedua bocah itu asyik bermain. Syifa mengizinkan saja Aqila memegang atau mengambil mainan miliknya. Dia takut jika sang bocah menangis, maminya yang akan dimarahi nenek.
"Ghibran saat ini sangat marah dengan ibu. Dia pikir kamu sakit karena ibu. Dia meminta agar jangan pernah mendekati kamu, itulah alasannya kenapa ibu tidak menjenguk kamu," ucap Ibu.
Aisha mendengarnya dengan penuh perhatian. Dia baru tahu jika suaminya saat ini sedang perang dingin sama ibunya.
"Hari itu, setelah kamu pergi, Ghibran membentak ibu di depan seluruh keluarga. Sakit rasanya. Seorang anak yang dulu begitu lemah lembut, tak pernah sekalipun dia berkata keras. Baru kali itu dia bicara dengan suara lantang. Rasanya dunia ibu seakan mau runtuh," ucap ibu lagi dengan napas memburu karena menahan sebak di dada.
"Aku minta maaf atas nama Mas Ghibran. Aku tidak tahu semua itu," ucap Aisha.
"Ibu tidak marah walau Ghibran berkata kasar, dan ibu telah memaafkannya. Ibu ada satu permintaan, Aisha. Katakan pada suamimu, jika kamu telah memaafkan ibu dan tidak marah lagi. Jadi Ghibran juga tidak perlu marah. Setiap hari ibu jadi kepikiran. Apa begitu besarnya salah ibu sehingga dia berubah begini," ucap ibu dengan terbata.
"Baik, Bu. Nanti akan aku sampaikan," balas Aisha.
__ADS_1
"Aku juga mau minta maaf, Mbak. Aku tidak pernah bermaksud mengungkit masa lalu mu. Jadi aku mohon, maafkan aku! Apa Mbak mau memaafkan kesalahanku?" tanya Annisa.
"Annisa, sebenarnya hal tersulit dalam hidup adalah memaafkan. Namun, kebencian akan merusak diri sendiri. Jika kamu membenci seseorang, kamu tidak menyakiti yang dibenci, kamu sedang menyakiti diri sendiri. Memaafkan adalah obatnya. Jadi kenapa aku harus dendam. Aku telah memaafkan semuanya," jawab Aisha.
Annisa lalu memeluk tubuh wanita itu. Dia tampak jauh lebih kurus dari pertama mereka bertemu saat pengajian. Dalam hati Annisa bertanya, apakah selama ini dia tertekan. Padahal Kak Ghibran begitu mencintainya.
Tanpa disadari, terkadang perkataan orang lain mungkin bisa membuat kita sakit hati. Sebagian besar orang mungkin tidak bisa memaafkan kesalahan orang yang telah menyakiti hati mereka. Hal ini karena memaafkan seseorang adalah jalan tersulit untuk dilakukan.
Namun, memaafkan adalah kunci untuk merasa bebas dari hal-hal negatif. Dengan membiarkan diri kita melepaskan penderitaan dan kesengsaraan karena perasaan dendam.
Memendam rasa sakit jauh lebih menyiksa dibandingkan dengan memaafkan orang yang telah menyakiti kita. Dengan memaafkan tidak hanya membuat perasaan kita menjadi lebih baik, tetapi juga bisa membuat mereka yang melakukan kesalahan menyesali perbuatannya dan berubah menjalani kehidupan lebih baik yang tidak menyakiti orang lain.
Setalah kepergian tamunya, Aisha mengajak putrinya tidur di kamar sambil menunggu kepulangan Ghibran.
Jam lima sore, Ghibran pulang. Dia langsung masuk ke kamar karena tidak melihat istri dan anaknya. Ternyata benar, kedua wanita yang dia cintai itu sedang menonton televisi di kamar.
Ghibran menghampiri keduanya. Mengecup pipi sang istri dan putrinya. Dia juga ikut bergabung di atas ranjang, menonton televisi yang menyiarkan kartun kesukaan Syifa.
"Mas, aku tidak sempat masak buat makan malam. Kamu pesan saja ya, Mas?" tanya Aisha dengan lembut.
__ADS_1
"Siapa yang meminta kamu masak? Justru aku melarang melakukan itu. Aku tadi sudah membeli lauk di rumah makan Padang. Ada rendang, ayam soas, dan gado-gado untuk sayur," jawab Ghibran.
Ghibran melihat istrinya. Dia terlihat sangat lelah. Dalam hatinya bertanya, apa yang wanita itu lakukan.
"Kamu terlihat sangat lelah. Kamu tadi melakukan apa?" Akhirnya Ghibran bertanya.
"Aku tidak melakukan apa-apa, Mas. Mungkin karena aku tidak sempat tidur siang, jadi terlihat capek," jawab Aisha.
"Kenapa tak tidur siang?" Ghibran kembali bertanya.
Belum sempat Aisha menjawab pertanyaan Ghibran, putri mereka Syifa telah langsung menjawab.
"Tadi siang ada nenek dan Tante Annisa bertamu, jadi mami tidak bisa tidur siang," jawab Syifa.
Dahi Ghibran berkerut mendengar jawaban dari sang putri. Dia memandangi wajah sang istri dengan mata penuh tanda tanya.
"Mau apa mereka datang?" tanya Ghibran.
...----------------...
__ADS_1