HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
15.Nilai sebuah kehormatan


__ADS_3

Noktah itu membesar. tak lagi berupa titik hitam kecil, tetapi berubah menjadi titik hitam raksasa dalam hidup pak Rahmat. Bapak yang selalu mendoakan kebahagiaan kedua pitra-putrinya. Bapak yang mengharapkan anaknya menjadi anak Sholeh dan Sholeha.


Semua orang tua jika di tanya doa dan harapan untuk anaknya pasti menjawab begitu. Meski telah dewasa, kadang anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang tak mereka kenal. Doa tinggal lah doa. harapan tinggal lah harapan. orang tua menerima pasrah keadaan anak apa pun kondisinya.


Pak Sukri tetangga dekat Pak Rahmat, anaknya di terima di Universitas Indonesia. Pak Herman, tetangga yang lain, putrinya mendapatkan beasiswa ke malaysia. sementara pak Yusuf putra-putrinya bersekolah di pondok modern Gontor. bahkan, setelah lulus, mereka berencana melanjutkan pendidikan di universitas Al-Azhar Mesir. Wajar karena beliau orang terpandang, lama jadi ketua Dewan Keluarga Masjid di kampung.


Pak Rahmat juga merupakan orang yang terpandang di kampungnya. Dia pernah menjadi ketua RW, Juga sepuh kepengurusan DKM. Semua warga kampung menghormatinya. menjadikan beliau panutan dalam banyak hal.


Sebagai pensiunan guru, karir tertinggi beliau adalah kepala sekolah.Tetapi, itu sudah cukup menjelaskan setatusnya sebagai orang penting di kampung yang pantas di hormati.


Kepala sekolah adalah jenjang percapaian prestisius. menjadikan beliau sosok pendidik, guru yang pantas di gugu dan ditiru. meski sudah pensiun, aura beliau sebagai pendidik tetap terlihat.


Sebagai orang tua, orang-orang pun menjadikan beliau teladan dalam mendidik anak. Seorang kepala sekolah yang sudah malang melintang sebagai guru pastilah yang diharapkan mampu mendidik ke dua putra-putrinya dengan sangat baik. Banyak warga yang berkonsultasi kepadanya tentang bagai mana membesarkan anak menjadi suskses dan saleh-saliha.


Bagi orang tua, anak adalah sebuah kebanggaan, cermin keberhasilan. setiap orang tua berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. mereka mengajarkan ilmu agama, menyegolahkan atau memasukkan ke pesantren, dan berkerja keras membiayai hingga kepengurusan tinggi. dengan harapan setelah lulus bisa memiliki fropesi terhormat, menikah dengan orang sekufu, dan pernikahanya menjadi pembuktian nilai kehormatan keluarga

__ADS_1


Itu jugalah harapan Pak Rahmat. posisinya sebagai pendidik terpandang membuat beban dan tanggung jawab membesarkan kedua putra-putrinya menjadi lebih besar. pun harapan masyarakat di sekitar tentu menjadi lebih tinggi.


Setelah istrinya meninggal beberapa tahun yang lalu, Pak Rahmat berusaha membesarkan kedua putra-putrinya dengan pendidikan yang keras dan di siplin. kedua putra-putrinya harus berhasil dan membanggakan. Tak bisa di tawar lagi.


Waktu berjalan nyaris sempurna bagi pak Rahmat. putrinya yang pertama baru lulus SMA dan sedang bersiap untuk perguruan tinggi impian. putranya kedua akan lulus SMP dan selalu mendapatkan ranking 1 di kelasnya.


Dia sudah menabung sekian lama untuk biaya masuk perguruan tinggi putrinya. Dia sudah memiliki rencana sempurna. Dia ingin anaknya menjadi dosen. Profesi yang menurut dia sangat mulia dan terpandang. Harapanya terus membesar seiring semakin besarnya sang putri kesayangan.


Hingga suatu kejadian mengubah segalanya. seperti musim yang berganti cepat. sesuatu yang tak pernah di bayangkan, bahkan dalam mimpi terburuknya sekali pun. tiba-tiba terjadi.


Tampa angin dan hujan, halilintar datang menyambar, meluluhlantahkan mimpi dan harapan yang lama di bangun.


Sebelumnya, satu tamparan keras di pipi kanan Sinta, membuatnya mengerang kesakitan. namun, rasa sakit itu tak seberapa dengan sakit yang di rasakan pak Rahmat.


"kenapa kamu tega melakukan itu, Sinta?kurang apa bapak ngajari kamu selama ini?" Tanya Pak Rahmat dengan dada sesak dan kemarahan memucak. ingin rasanya dia melemparkan putrinya itu keluar rumah. menyuruhnya pergi Tampa harus menyebut dia anak lagi

__ADS_1


"Ampun Pak.......ampun ...," Hanya itu yang bisa diucapkan Sinta. Air matanya terus mengalir. tak kuasa dia menatap wajah bapak.


"Siapa orangnya?"


Sinta terdiam. air matanya menderas. ketakutan besar tiba-tiba merasuki tubunya.


"Siapa lelaki berengsek itu? jawab!!!!!!"


Kelu, Sinta merasa tak mampu berkata, Tapi, dia harus mengatakan yang sebenarnya. kalau tidak, kemarahan Bapak nya semakin menjadi.


"Riki Hidayat,Pak. anaknya pak Burhan, kampung sebelah."


Satu tamparan keras kembali melayang di pipi Sinta. Pak Rahmat tak kuasa menahan tangis yang sedari tadi tertahan bercampur marah. Dalam bayanganya. dia melihat kehormatan keluarganya yang puluhan tahun dia bangun hancur lembur


Bagai man aku bertemu dengan para tetangga? Dengan cara apa aku menjelaskan aib ini nanti kepada mereka?aku malu,

__ADS_1


pertanyaan demi pertanyaan membuat hati pak Rahmat tersiksa. Didin, anak keduanya, melihat semua kejadian itu dari balik pintu kamar. semua kejadian setelahnya terekam utuh dalam pikirannya.


Setelah itu, Pak Rahmat sering mengurung diri di rumah, jarang bersosialisasi. sesekali dia sempatkan diri melaksanakan sholat di masjid, namun. rasa malu terus merajam dalam hati dan pikirannya menghukum kesehatan pisiknya. Pak Rahmat jadi sering sakit-sakitan, sampai akhirnya meninggal dunia.


__ADS_2