
Ghibran terus memeluk tubuh istrinya dengan erat sepanjang malam. Tidak ingin wanita itu pindah ke ranjang sang putri. Aisha akhirnya tertidur dalam dekapan dada suaminya.
Pagi hari Ghibran memesan sarapan yang disukai sang istri. Dia tidak ingin Aisha marah dan mengungkit percakapan mereka kemarin malam.
Aisha masih mematut dirinya di depan cermin. Tidak biasanya dia berdandan. Ghibran dan Syifa telah menunggu di sofa untuk sarapan bersama.
Ghibran tersenyum melihat istrinya yang merias wajahnya. Padahal menurut pria itu, tanpa polesan, Aisha juga sudah sangat cantik.
Setelah merasa dirinya pantas, wanita itu menghampiri keduanya. Duduk dengan manisnya. Ghibran dan Syifa langsung saling pandang melihat maminya yang sangat rapi.
"Cantik banget maminya Syifa pagi ini," ucap Ghibran.
"Mami emang selalu cantik. Tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikan mamiku, Papi," balas Syifa.
Aisha hanya melirik kedua orang itu dan mengambil sarapannya. Langsung menyantap tanpa basa-basi. Ghibran dan Syifa juga melakukan hal yang sama.Setelah sarapan keduanya lalu segera pergi menuju rumah sakit.
Di dalam ruang rawat inap itu telah berkumpul saudara lainnya. Ternyata Ikhbar telah sadar, tapi masih belum bisa banyak bicara.
Saat Ghibran dan Aisha mengucapkan salam, semua mata langsung tertuju pada keduanya. Aisha memberikan senyumannya. Dia masuk dengan memeluk lengan suaminya erat seolah takut kehilangan.
"Cantik banget Aisha," ucap salah seorang saudara.
"Emang istriku selalu cantik. Tak pernah jelek," balas Ghibran dan setelah itu melirik ke istri di sebelahnya. Aisha tersenyum malu mendengar suami memujinya.
__ADS_1
"Ini ada kue buat sarapan," ucap Aisha memberikan kue yang dia beli tadi sebelum ke rumah sakit.
Aisha menyalami ibu mertuanya yang duduk mendampingi Annisa di samping tempat tidur Ikhbar. Dia juga menyalami mamanya Annisa. Setelah itu Aisha kembali duduk di samping suaminya.
Tio dan Anton, sepupunya Annisa yang lain memandangi Aisha yang terus saja menggenggam tangan sang suami.
"Kalian berdua, pasangan yang serasi. Cantik dan ganteng. Sama-sama bucin lagi," ucap Anton melihat Aisha yang terus menggenggam tangan sang suami.
Mendengar ucapan Anton, yang lain tersenyum kecuali Ibu Nur. Dia lalu berbisik dengan Annisa.
"Aisha ini tidak punya malu, orang ramai begini, masih saja mempertontonkan kemesraan. Seolah hanya dia yang punya suami. Tapi wajar, siapa yang mau dengannya jika Ghibran menceraikan. Makanya takut banget kehilangan putraku," ucap Ibu Nur pelan sekali, dengan berbisik.
"Mesra dengan suami sendiri tak apa, Tante. Aku juga mau begitu, tapi Mas Ikhbar tidak suka. Beda dengan Kak Ghibran. Dia selalu membalas apa saja yang Aisha lakukan. Dia sangat tahu cara memanjakan dan meratukan istrinya," balas Annisa.
Dia juga sebenarnya ingin bermanja dengan suaminya, tapi setiap dia menggenggam tangan Ikhbar, pria itu selalu menolaknya.
"Ikhbar, bagaimana keadaanmu? Apa yang masih terasa sakit?" tanya Ghibran begitu dekat ke ranjang.
"Kakiku tentunya, Mas," ucapnya pelan.
"Lain kali harus hati-hati. Beruntung kamu hanya kecelakaan tunggal dan laju mobilnya masih standar. Di jalan jangan banyak pikiran, harus konsentrasi. Ingat anak dan istri yang menunggu di rumah. Aku sekarang sering bawa supir. Takut terjadi sesuatu. Aku tidak mau istriku jadi janda. Aku masih mau hidup dengannya puluhan tahun lagi," ucap Ghibran. Dia tersenyum dengan sang istri.
"Tidak ada yang tahu musibah yang akan menimpa kita, Ghibran," jawab Ibu Nur.
__ADS_1
"Ibu benar. Tapi kita harus tetap menjaga keselamatan diri dan berdoa, jika masih juga mengalami musibah, itu baru namanya takdir," balas Ghibran.
"Mas, apa aku akan cacat? Kata Annisa Mas yang menemui dokter dan bicara," tanya Ikhbar.
"Tidak. Kamu masih bisa sembuh. Walau membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Meskipun waktu penyembuhan bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, seseorang sudah bisa berjalan dengan bantuan tongkat penyangga setelah dua minggu pascaoperasi.Pada bulan keempat atau kelima, kemungkinan pasien sudah bisa berjalan pelan tanpa menggunakan penyangga. Itu yang dokter katakan," jawab Ghibran.
"Jadi Mas Ikhbar akan menggunakan kursi roda beberapa bulan ini?" tanya Annisa dengan raut wajah terkejut.
"Begitulah. Tapi jangan kamu dan Ikhbar terlalu berpikir. Semua tergantung motivasi kita. Jika kita emang bertekad ingin segera sembuh dan mengikuti anjuran dokter, kemungkinan sembuh lebih cepat," ucap Ghibran lagi.
"Ghibran, bagaimana dengan Annisa selama Ikhbar cacat. Pasti dia tidak bisa memberikan nafkah lahir dan batin. Apa yang harus adikmu ini lakukan?" tanya Ibu Nur.
Ghibran terdiam mendengar pertanyaan ibunya yang sangat ambigu. Apa maksud dari pertanyaan itu? Pikir pria itu.
"Tentu saja Annisa harus memberikan dukungan dan menemani suaminya selama sakit. Di sini peran istri akan lebih dibutuhkan. Jangan mau saat senang saja dengan suaminya. Soal nafkah lahir dan batin dari Mas Ikhbar, bisa ditanyakan langsung dengan suaminya. Bukan dengan Mas Ghibran suamiku, Bu. Mas Ghibran tidak ada kewajiban pada Annisa," jawab Aisha dengan ketus.
Jawaban Aisha yang menohok itu langsung menusuk ke hati Ibu Nur. Wajahnya memerah menahan amarah.
...----------------...
Aisha
__ADS_1
Ghibran