
Hari keempat puluh di kampung hijrah. Satria memandang pegunungan tinggi di hadapannya. Dia hirup udara segar yang selama ini menyehatkan sendi-sendi tubuhnya. Menikmati nyanyian alam yang mengalun indah di telinganya.
Simulasi dari mempelajari kembali rukun iman dan rukun Islam. lalu, mempelajari bab bersuci atau taharah. Belajar cara wudhu yang benar, juga cara membersihkan diri dari hadas dan najis. lalu, belajar menegakkan sholat wajib dan membiasakan sholat sunah khususnya sholat malam. belajar melancarkan bacaan Alquran dan membaca Alquran setiap hari. membiasakan melafazkan zikir. memperbanyak istighfar dan juga sholawat. membiasakan puasa sunah Senin dan Kamis. Bahkan, Satria telah berhasil membiasakan puasa nabi Daud dalam dua Minggu. membiasakan membaca buku, lalu membiasakan diri bermuhasabah dan memohon ampun kepada Allah setiap hari. mengikuti kelas-kelas pembelajaran pendalaman akidah juga fikih bersama pembimbing. mengikuti tausiah Abah Iwan setiap hari. Berolahraga rutin setiap hari. Belajar berkata-kata baik. Belajar membersihkan hati dari segala iri dan dengki. Dan, belajar menerima dan memaafkan semua yang terjadi pada masa lalu.
Semua proses pembelajaran ini di lalui nya dengan sungguh-sungguh. Munkin masih jauh dari sempurna, tapi setidaknya bagi Satria, dia sudah sangat berusaha.
Hari ini pun, dia sudah melakukan instruksi pembimbing yang harus dia lakukan, yaitu memohon maaf dengan sungguh-sungguh kepada orang-orang yang pernah dia zalimi. Satria dengan penuh penyesalan mengirimkan pesan permohonan maaf melalui WhatsApp kepada beberapa perempuan yang dahulu pernah singgah dan menjadi korban rayuannya, termaksud Senja.
"Jalan pertobatan ini tidak mudah karena salah satu yang harus di lakukan adalah meminta maaf kepada orang yang telah kita zalimi. Kenap? Karena dosa kepada Allah akan terhapus saat kita bertobat memohon ampun langsung kepada-nya. Tetapi, dosa kezaliman kepada manusia hanya akan terhapus jika kita memohon maaf kepada orang tersebut. sebab itu, untuk kebaikan dunia dan akhirat kita, lapangkanlah dada kita untuk meminta maaf. kecuali orang itu sudah meninggal, maka kita cukup mendoakan nya."
Begitu nasehati Bang Mirza kepadanya. setelah pesan-pesan itu dikirim, ada yang merespon dengan marah dan menghina. Ada yang memaafkan. Ada juga yang tidak membalas, Bahakan tidak membaca pesan darinya sama sekali. Senja misalnya, yang sepertinya sudah menghapus nomor Satria dari ponselnya.
"Tugas kita hanya meminta maaf dengan tulus. Bukan memaksa dimaafkan. Urusan memaafkan sudah bukan urusanmu."
Begitu pesan Bang Mirza, membuat hatinya lebih lega. setelah meminta maaf kepada orang-orang yang telah dia zalimi, dia pun diminta minta maaf kepada keluarga dekat, khususnya orang tuanya. Hal ini pun langsung dia lakukan. meskipun selama ini dia tak dekat dengan kedua orang tuanya. Namun, bagaimanapun, merekalah orang yang paling berjasa dalam hidup nya. selama ini Satria hanya memberi tahu orang tuanya bahwa dia sedang belajar agama di pesantren. seperti biasa, mereka mengizinkan tanpa terlalu peduli dengan aktivitas yang dia lakukan.
Setalah dua instruksi ini dilakukan, ada perasaan laga yang dia rasakan.
Malam harinya, bakda Isya, ada sesi tausiah mingguan dari Abah Iwan. materi malam ini, kata Kang Mirza, merupakan materi sangat penting, yaitu mengenali ilmu Islam tentang akhir zaman, atau ilmu eskatologi Islam.
"Musuh sebenarnya umat manusia adalah iblis dan bala tentaranya, juga satu makhluk ciptaan Allah yang kita berlindung dari fitnahnya. Salah satu ciri utama dari fase akhir zaman, yang telah di ceritakan oleh Nabi Muhammad Saw., yaitu makhluk bernama AL-Masih Ad-Dajjal."
__ADS_1
Abah Iwan menatap tajam para santri yang serius menyimak, kemudian melanjutkan.
"Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dari Nawas bin Sam'an, pada suatu hari Rasulullah Saw. berbicara tentang Dajjal. kata beliau, 'Dajjal pemuda berambut keriting, mata kanannya pecak, tidak melihat. Aku melihatnya mirip dengan Abdul Izza bin Qathan. Barang siapa di antara kamu bertemu dengan dia, bacakan kepadanya permulaan surah Al-Kahfi. Dia akan muncul di suatu tempat yang sunyi antara Syam atau kini Suriah, dan Irak, lalu berbuat kerusakan ke kiri dan ke kanan. Wahai, hamba Allah, tetaplah kalian berpegang teguh pada agama Islam."
"Kami bertanya, 'Ya Rasulullah, berapa lama dia tinggal di bumi?' jawab Rasulullah,' empat puluh hari. sehari seperti setahun. sehari seperti sebulan. sehari seperti sepekan. Dan, selebihnya seperti hari-hari sekarang.'
"Kami bertanya, ' Ya Rasulullah, ketika sehari seperti setahun, cukupkah kalau kami shalat seperti sholat kami sekarang?'
"Jawab beliau, ' Tidak. tetapi, hitunglah bagaimana pantasnya.'
"Kami bertanya, 'Berapa kecepatannya berjalan di bumi?'
"Jawab beliau, 'seperti hujan di tiup angin........''''
Abah Iwan lalu meninggikan suara, " Kalian jangan takut. Takutlah hanya kepada Allah. sebab itu, teguhkan imam dan ilmu kita. sangat penting kita tahu ilmu akhir zaman. karena dengan ini, kita bisa meningkatkan keimanan dan kewaspadaan diri."
"Dan, yang terpenting, sebelum kemunculan Dajjal, dunia akan dihadapkan pada fitnah-fitnah yang bermunculan. seperti yang kini terjadi dalam persoalan geopolitik di Timur Tengah, penjajahan Palestina oleh Zionis, Arab Spring, kehancuran Irak, Libya, Afganistan, prahara di bumi Suriah, juga yang terjadi di Yaman. semuanya harus kita lihat sebagai satu kesatuan bingkai peristiwa yang menandakan bahwa kita sedang hidup di akhir zaman.
Negara-negara Timur Tengah itu hancur karena skenario Zionis. sebuah gerakan yang kini mewujud negara, yang akan bersekutu dengan Dajjal pada hura-hura akhir zaman nanti.
"Kalian juga harus tahu ciri-ciri akhir zaman yang sudah satu demi satu terjadi. seperti yang telah di ceritakan oleh Nabi Muhammad Saw. Apa saja ciri-ciri itu?"
__ADS_1
Abah Iwan bertanya kepada para santri yang semakin serius mendengarkan materi.
"Semakin mengeringkannya danau Tiberias yang terletak di dataran tinggi Golan adalah salah satu ciri akhir zaman yang di ceritakan Nabi Muhammad Saw. perzinaan yang bermunculan dan seolah menjadi hal biasa. pembunuhan yang kian marak terjadi. maraknya LGBT.
Negara-negara Arab berlomba meninggikan gedung. Hilangnya amanat. meningkatnya kemusyrikan dan menjamurkan praktik riba. ini lah beberapa ciri akhir zaman yang sudah terjadi saat ini. Waspadalah! Tingkatkan Dan jaga iman kita. seperti para pemuda Ashabul Kahfi yang sekuat tenaga melarikan diri dari kejaran raja yang zalim, demi menyelamatkan iman."
Abah Iwan lalu menyampaikan satu hal penting. dengan nada pelan dia berbisik, "Anak-anak ku, ada fase Ketika mungkin saja peperangan besar akan terjadi di akhir zaman. setelah peperangan besar tersebut, munkin saja teknologi modern akan hilang dari peredaran. Jadi, kita disunnahkan belajar memanah dan berkuda. Untuk melatih kekuatan dan ketangkasan kita.Dan, jangan lupa menghafal kan 10 ayat pertama atau 10 ayat terakhir dalam Surah Al-Khafi, dan membacanya setiap Jumat, sesuai dengan pesan nabi Muhammad Saw.,' Siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surah Al-khafi, maka dia akan terlindung dari dajjal.'''"
Terakhir, Abah Iwan menyampaikan pesan, "Fitnah Dajjal memang dahsyat. Tapi, kita jangan terlalu khawatir jika suatu saat Dajjal muncul ke dunia. Allah sudah menyiapkan seseorang yang bisa melawan Dajjal dan pasukannya. Dia adalah seorang imam yang akan mempersatukan umat Islam sedunia. seorang keturunan Rasulullah Saw..., yaitu Imam Mahdi, Allah sudah mempersiapkan seseorang yang bisa membunuh Dajjal, Dan dia adalah Nabi Isa a.s. yang akan turun ke bumi melaksanakan tugasnya membunuh Dajjal. tugas kita saat ini hanya berlindung dari fitrah Dajjal. Dan, sekuat tenaga menjaga iman kita yang semakin besar tantangannya di akhir zaman.
"Dan ingat, di akhir zaman, ikutilah ulama-ulama yang mempersatukan, menggaungkan persatuan umat, tidak peduli dari Mazhab apa pun. kenapa? karena sifat Imam Mahdi itu mempersatukan. Jadi, ikutilah ulama yang selalu ingin mempersatukan, bukan yang hobi memecah belah hanya karena urusan khilafah."
Semua santri mendengarkan dengan khusuk. setelah itu, Abah Iwan menutup pertemuan dengan doa singkat yang diamini bersama-sama.
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab jahanam, dari azab kubur, dari fitrah kehidupan dan kematian, dan dari keburukan fitnah AL-MASIH Dajjal."
Malam semakin larut di kampung hijrah. semua santri sudah bersiap melepas penat, tak terkecuali Satria. Namun, sebuah pesan penting yang masuk ke ponselnya membuat dia tetep terjaga.
Mama
Satria, kamu bisa pulang sekarang? adikmu masuk rumah sakit dan kondisinya genting.
__ADS_1
Pesan itu dari Mama. Satria lalu meminta izin untuk pulang kepada Bang Mirza. Tak lama kemudian, dia langsung bergegas menuju rumah sakit dengan mengendarai motor kesayangannya.