
CIwidey adalah kecamatan di kabupaten Bandung yang berjarak 50 km ke arah selatan kota bandung. kota ini terkenal dengan kesejukannya. tempat-tempat wisatanya juga indah seperti kawah putih, situ batenggan, batu cinta, dan kawah rengganis. selain itu, si Ciwidey terdapat banyak perkebunan teh yang terhampar luar membentuk simfoni hijau yang sedap di pandang mata. sebut saja perkebunan teh rancabali, perkebutan teh sinumbra, dan perkebunan teh patuahwatte.
Mengendarai sepeda motor, Satria, Angga dan demoy berangkat dari kota Bandung meenuju Ciwidey. Satria dengan motor balap ya sementara Angga dengan motor Vespanya. mereka bergerak beriringan. Demoy di bonceng Angga, dan dia terlihat antusias karena akan pulang ke kampung tempat dia di lahirkan Dan di besarkan.
Setelah beberapa waktu menempuh perjalana, tibah lah mereka di Ciwidey.
"Kita berhenti di sini, brayyyy....."
"Memang sudah nyampe?" tanya Angga.
"Hampir, ini kampung urang."
"Ohhh......"
"Saya mau tanya sama ustadz bibin. Beliau guru gaji saya dulu."
Motor mereka parkir di tempat aman.kemudian ketiganya berjalan kaki kurang lebih 500 meter. melewati kebun kecil yang di tanami sayuran, juga kolam-kolam ikan milik penduduk sekitar.
Langkah mereka berhenti di depan rumah bercat putih dan hijau muda, berukuran 10×12 meter.
"Assalamu'alaikum......" Demoy mengetuk pintu.
"Waalaikumsalamwarahmatullah...." seorang Ibu menjawab salam, lalu terdengar suara pintu terbuka.
"Deden....." Ibu berusia sekitar 45 tahun itu terlihat kaget melihat deden.
"Muhun, Bu haji, Pak ustadz ada?"
"Oh, ada, mangga kalebet." Bu haji mempersilah kan masuk.
Akhirnya, mereka bertiga masuk ke ruang tamu dan di persilahkan duduk. tak lama kemudian pak ustadz muncul.
"Ustadz bibin....." Demoy langsung berdiri dan mencium tanggan ustad bibin.angha dan satria mengikuti, mencium tanggan ustaZ bibin.
"Deden, meni ajaib pisan kamu datang ke sini." kata ustad bibin heran.
"Muhun, ustadz, punten Deden mau minta petunjuk."
__ADS_1
"Kela, kela. kamu teh katanya jadi anak jalan sekarang?"
"Itu, mah, dulu, ustadz, sekarang sudah tobat. sudah alumnus anak jalanan, taz. sekarang, mah, Deden sedang belajar lagi."
"Alhamdulillah. kalau ini siapa?" Ustad Bibin menoleh ke arah Angga dan satria.
"Teman seperjuangan, ustadz."
"Wah, hebat kamu punya teman seperjuangan. memangnya apa yang sedang di perjuangkan??"
"Jodoh, ustadz. Eh, maaf, kami sedang berjuang untuk berhijrah, ustaZ, bejuang mendapatkan hidayah," jawab demoy.
Ustadz bibin tersenyum. Angga dan satria saling lirik." Jadi,apa yang bisa ustad bantu?"
"Begini, taz, Ustad, kan, dari dulu sudah jadi sesepuh dan tokoh agama di sini. Deden mau tanya, ustad tau kampung hijrah, tidak? katanya di Ciwidey ada kampung hijrah. ini teman-teman Deden mau ke sana."
"Hmmmm, kampung hijrah, yah, Den? CIwidey itu, kan, luas, dan sekolah juga pesantren di sini ada banyak."
"Bukan pesantren, taz, tapi kampung hijrah.....," kata Deden.
"Muslim village, taz, sebutan lainya itu," kata Angga,
"Di pimpin oleh Abah Iwan, Ustad.....," Satria menambahkan.
"Ohhh........ iya, asa pernah dengar yang itu, mah. yang anak muridnya banyak mantan perseman itu, yah?"
"Nah, seperti itu, taz, tempat yang di maksud," kata demoy.
Satria dan Angga terlihat antusias
"Di man tempatnya, Ustad?" tanya Angga.
"Kalau tidak salah di daerah patengan. Tapi. itu sebenarnya sudah masuk daerah kecamatan rancabali sekarang, mah."
"Masih jauh, ustadz?" tanya demoy.
"Lumayan lah, beberapa kilo lagi dari sini. jalan nya agak naik nanti. coba ini di tulis patokanya, ya." ustad mengambil pulpen dan kertas, mengambatr peta sederhana, lalu memberikan kepada demoy.
__ADS_1
"Nanti sampai di daerah sana kamu tanya-tanya kan lagi saja....." saran pak ustadz.
"Siapppp, Taz, Alhamdulillah, hatur nuhun, Ustad......." kata demoy.
"Terima kasih, Taz.......," kataa Angga dan satria hampir bersamaan.
Setelah mendapatkan alamat, mereka bertiga langsung berpamitan dan melanjutkan perjalanan menuju kampung hijrah.
Dalam perjalanan, Angga bertanya kepada demoy" Kamu enggak pulang dulu ke rumah, Moh?"
"Ah, nanti saja. saya, mah, sudah di usir dari rumah. mereka pasti kaget kalu saya pulang," kata demoy pelan. ada nada sedih dalam suaranya.
Motor Angga dan satria terus bergerak sesuai petunjuk arah ustad bibin. sekitaar 10 menit kemudian mereka berhenti.
Di hadapan mereka terhampar kebun teh yang luas. juaga, banyak pepohonan tinggi menjulang. angin berdesir sejuk terasa menyentuh kulit. matahari baru seperempat tinggi, sinarnya terasa menghangatkan hati
Angga, Satria, dan Demoy berhenti sebentar menikmati udara khas perkebunan.semakin dalam, tarikan napas mereka semakin terasa melegakan.
Mereka kemudian berjalan ke suatu rumah yang ad di sana rumah itu teryata berdampingan dengan warung kopi. Demoy langsung bertanya ke empunya warung.
"Bi, apa kampung hijrah Abah Iwan masih jauh?" tanya demoy
Bibi memperhatikan lelaki botak di hadapannya, kemudian menjawab.
"Lumayan, dari sini masih jauh. sekiyat 4 kilometer lagi. itu belakang perbukitan itu," kata Bibik sambil menunjuk bukit yang terlihat di sebelah timur warung.
Tampa menunggu lama mereka bertiga menuju kesana.bergarak melewati perbukitan. jalan yang di lalui hanya cukup untuk satu mobil. kiri Kana jalan adalah hamparan kebun teh yang indah. hangat matahari dan udara yang sejuk bergantian mengusap tubuh. kaca helm mereka buka agar wajah mereka bisa menikmati pemandangan dan udara perbukitan dengan maksimal.
Motor terus melaju menuju celah bukit hingga akhirnya sampai lah mereka pada satu lokasi yang membuat mereka berhenti. lalu berdiri menatap takjub dari kejauhan.
"Hati saya mengatakan ini memang tempat nya......," kata Satria.
"Indah, ya.....," kata Angga.
Di hadapan mereka, terlihat perkampungan dengan rumah-rumah dan bangunan yang hampir semua berwarna putih. perkampungan itu menyatu bersama Allam sekitar, Tampa indah dari kejauhan
Hati satria tiba-tiba bergetar memori di kepalanya cepat sekali berputar. pertemuan dengan Senja, surat ayah senja yang dia baca, obrolan dengan Angga, Demoy. dan akhirnya, saat ini dia berdiri di depan sebuah tempat yang sudah dia impikan beberapa waktu ini. satu tempat yang akan mengubah diri nya menjadi sosok yang dia sendiri pun bahkan belum pernah memikirkan sebelumnya.
__ADS_1