HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
Bab 69. Kemarahan Ikhbar


__ADS_3

"Jangan bicara kasar begitu, Aisha. Apa kamu tidak malu di dengar keluarga yang lain. Ibu cuma mengatakan hal sewajarnya. Bukankah lumrah seorang saudara membantu saudara lainnya yang sedang kesusahan. Apa kamu tidak suka jika Ghibran membantu keluarganya? Berbagi sedikit rizki itu biasa," jawab Ibu Nur dengan suara tinggi.


"Bu, jangan salah paham dulu. Aku mengerti maksud dari Aisha. Dia hanya ingin mengatakan jika bukan aku saja berkewajiban membantu Annisa. Semua keluarga bisa melakukan itu. Pertanyaan ibu juga salah, kenapa ibu bertanya siapa yang bertanggung jawab dengan Annisa, tentu jawabnya Ikhbar. Jadi, aku harap ibu bisa mengerti dengan ucapan istriku," ucap Ghibran.


Dia sengaja menengahi karena tidak ingin ibu dan istrinya berselisih paham terus. Kedua wanita ini sangat berarti dalam hidupnya, jika diminta memilih, dia tetap memilih istrinya.


"Ibu juga tadinya bermaksud begitu. Aisha saja yang langsung terbawa emosi. Seharusnya dia bertanya baik-baik. Maklum saja orang tua kalau bicara pasti ada salahnya," ucap Ibu Nur.


"Sudahlah, jangan berdebat. Apa yang Aisha katakan itu benar. Kenapa harus bertanya dengan Ghibran tentang tanggung jawabku. Itu semua tanggung jawab aku dan orang tuaku. Tante, Annisa, kamu jangan takut. Walau aku cacat dan tidak bisa bekerja, semua kebutuhan tetap aku penuhi," ucap Ikhbar dengan penuh penekanan.


Annisa terkejut mendengar jawaban Ikhbar. Kelihatan pria itu sangat marah saat menjawab ucapan Ibu Nur.


"Mas, bukan aku yang bertanya. Tante juga berkata begitu, mungkin karena rasa kuatir nya. Maafkan aku dan Tante jika salah ucap," ujar Annisa.


"Kamu jangan marah dengan Annisa, ini hanya pemikiran Tante saja," ucap Ibu Nur yang tidak terima ponakannya disalahkan.


"Hhhmmmm, kami sebaiknya pamit. Kamu pasti butuh istirahat," ucap Ghibran.


Ghibran tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain. Jadi memilih pergi. Dia pamit dengan seluruh keluarga, tak peduli nanti jadi bahan omongan karena singgah hanya sekejap.


***


Ghibran akhirnya memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama anak dan istrinya di mall yang terkenal di kota itu. Dari tadi Aisha hanya diam. Dia tidak ingin wanita itu marah dan stres. Dengan


"Nah, kita sampai di mall ya! Kalian siap untuk petualangan kita hari ini?" tanya Ghibran memecahkan kesunyian di antara mereka.

__ADS_1


"Iya, Mas! Aku mau melihat pakaian bayi," ujar Aisha bersemangat. Melupakan kejadian tadi di rumah sakit.


"Betul, Ayah! Aku juga ingin melihat toko mainan baru di sini," balas Syifa.


Setelah memarkir mobil, mereka segera berjalan masuk ke dalam mall yang gemerlap dan penuh dengan berbagai macam toko. Mereka bertiga berjalan bersama, sementara Syifa bergandengan tangan dengan Aisha.


"Ayo, kita mulai mencari toko mainan pertama! Ada toko mainan keren di lantai paling atas," ucap Ghibran.


"Papi, aku tidak sabar! Aku ingin melihat mainan apa aja yang ada di toko itu," ucap Syifa.


Keluarga itu tiba di lantai atas dan langsung menuju toko mainan yang ditunjukkan oleh Aisha. Mereka memasuki toko dengan penuh semangat dan terpesona oleh berbagai macam mainan yang ada di sana.


"Wow! Mainan apa yang harus aku pilih, Pi? Semuanya bagus," tanya Syifa dengan penuh semangat.


"Terserah padamu, Sayang. Pilihlah mainan yang paling kau sukai."


"Pi, aku ingin membeli robot ini! Boleh?" tanya Syifa.


"Tentu, Sayang. Papi akan membelikannya untukmu."


Setelah puas berbelanja mainan, Aisha mengajak melihat perlengkapan bayi. Namun, tidak jadi membeli karena mengingat kandungannya yang masih lima bulan.


Mereka kemudian memutuskan untuk makan siang di food court yang terletak di lantai bawah. Mereka duduk di salah satu meja yang bersih dan nyaman.


"Hmm, Apa yang kalian ingin makan, Sayang? Ada banyak pilihan makanan di sini. Aku ingin mencoba mie ayam yang terkenal di sini. Bagaimana denganmu, Sayang?" tanya Ghibran dengan Aisha.

__ADS_1


"Aku mau nasi Padang aja, Mas," jawab Aisha. Tampaknya dia telah melupakan semua yang terjadi kemarin dan juga tadi di rumah sakit.


"Aku ingin pizza, Pi! Aku suka dengan keju yang meleleh di atasnya," jawab Syifa.


Setelah memesan makanan mereka, mereka duduk bersama dan menikmati hidangan mereka sambil bercerita tentang petualangan mereka di mall. Tawa dan candaan pun terdengar di sekitar mereka.


Sehabis makan siang, keluarga itu pun melanjutkan petualangan mereka dengan pergi ke taman bermain yang letaknya tidak jauh dari mall. Syifa bersorak girang melihat perosotan tinggi yang ada di taman bermain.


"Papi, lihat perosotan tinggi itu! Ayo, kita main perosotan bersama-sama."


Ghibran dengan senyum lebar mengangguk setuju. Mereka berdua naik ke atas perosotan dan menikmati sensasi terbang dengan cepat saat meluncur ke bawah.


"Kalian berdua terlihat sangat bahagia! Aku rasanya ingin bergabung jika tidak hamil," ujar Aisha.


Syifa bermain bersama Ghibran di taman bermain, melewati berbagai permainan seru seperti jungkat-jungkit, ayunan, dan trampolin. Mereka menghabiskan waktu bermain hingga kelelahan.


Saat hari mulai gelap, keluarga itu memutuskan untuk segera kembali ke hotel. Mereka berjalan keluar dari mall dengan senyum di wajah mereka, membawa mainan baru Syifa dan kenangan yang indah.


"Hari ini adalah petualangan yang seru di mall, bukan?" tanya Ghibran.


"Betul sekali, Mas! Aku senang bisa menghabiskan waktu disini," jawab Aisha.


"Terima kasih, Papi dan Mami. Petualangan hari ini benar-benar menyenangkan!"


Dengan hati penuh kebahagiaan, mereka kembali ke mobil dan kembali ke hotel. Ghibran memutuskan besok mereka kembali ke rumah. Bukankah mereka sudah menjenguk Ikhbar. Tidak ada juga yang bisa mereka lakukan. Pria itu tidak mau ada lagi perdebatan antara ibu dan istrinya. Lebih baik mereka yang menghindar. Bukankah tujuan dari awal dia pindah ke pinggir kota agar menjaga kewarasan istrinya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2