
"Mami, Papi, ayo! Cepetan!" seru Syifa dari dalam mobil.
Sesuai janji Ghibran dan Aisha kemarin kalau hari ini mereka akan melakukan liburan keluarga bersama-sama. Hanya mereka berempat. Benar, calon bayi yang dikandung oleh Aisha pun dihitung. Maka dari itu, mereka akan liburan berempat saja. Mereka ingin menepati janji pada putrinya.
"Sebentar, Sayang!" seru Ghibran dari dalam rumah.
Di dalam mobilnya, Syifa sudah kesal karena kedua orang tuanya sangat lama. Itu menurut bocah cilik itu tentunya. Namun, tanpa dia tahu, saat ini Mami dan Papi nya sedang mempersiapkan makanan ringan buat gadis cilik itu, untuk bekal mereka di perjalanan nanti.
Lebih baik membawa bekal sendiri ketimbang nanti Syifa rewel di jalan dan malah membuat perjalanan terganggu. Itulah yang ada di dalam pikiran Aisha. Dia juga membawa beberapa mainan putrinya. Tidak ingin seperti Aqila yang selalu menangis minta mainan.
"Papi, nanti keburu siang!" teriak Syifa lagi.
Tidak sampai tiga puluh detik usai teriakan Syifa, papinya sudah keluar dari dalam rumah sambil membawa box berisi persediaan makanan buat mereka semua. Tak beda jauh dengan Maminya, ibu hamil itu berjalan di belakang Ghibran sambil membawa satu botol besar berisi air putih dan sekantong mainan.
Setelah box sudah dimasukkan ke dalam mobil, Ghibran pun ikut masuk. Tentunya dia akan menjadi sopir untuk keluarganya sendiri. Sesuai keinginan Syifa, mereka hari ini akan pergi ke puncak karena bocah itu merengek ingin melihat deretan pohon cemara di sisi kanan dan kiri jalan.
Apa boleh buat? Ghibran dan Aisha tentu akan menurutinya. Walaupun pria itu sedikit khawatir akan kondisi istrinya, takut kalau istrinya mabuk karena kondisi jalanan yang berkelok-kelok. Namun dia mengatakan, kalau dia akan mencoba kuat demi putri mereka.
"Kita berangkat sekarang!" seru Ghibran agar Syifa tidak cemberut lagi.
Jalanan menuju puncak itu sudah sangat dihapal oleh Ghibran. Terlebih dulu dia juga sudah pernah tinggal di Puncak dulu. Jadi perjalanan mereka kali ini, tidak akan ada hambatan. Itulah yang mereka harapkan, semoga saja.
__ADS_1
Selama berjam-jam, mobil dipenuhi oleh suara musik yang ceria. Banyaknya lagu anak-anak agar suasana anak-anaknya lebih terasa. Syifa tampak bahagia sepanjang jalan. Bibirnya tidak berhenti ikut menyanyikan lirik lagu yang diputar.
"Papi, bisa tolong matikan lagunya nggak?" tanya Syifa, tapi sebenarnya dia berharap jika Ghibran akan mematikan lagunya.
"Memangnya kenapa, Sayang? Kamu bosan sama lagunya?" tanya Aisha.
Syifa menggelengkan kepalanya sambil menatap Aisha yang menoleh ke arahnya sekilas. "Ini sudah ada pohon cemara, Mami," kata Syifa.
Ghibran pun segera mematikan lagunya. Di saat itu, Syifa segera menyanyikan lagu Naik-Naik Ke Puncak Gunung seraya menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan kiri. Ghibran dan Aisha pun tidak mengira jika putrinya akan segirang ini.
"Kiri kanan, kulihat saja, banyak pohon cemara ...," nyanyi mereka bertiga bersama-sama.
Ghibran dan Aisha ingin meninggalkan kesan baik buat Syifa. Jadi mereka memilih ikut bernyanyi agar memori dalam otak bocah itu mengenai hubungan keluarganya saat kecil, hanya diisi dengan hal-hal baik.
Tak selang berapa lama, Ghibran membelokkan mobilnya ke sebuah villa sisi jalan yang dekat dengan beberapa kafe, tempat oleh-oleh, kios buah dan tentunya itu tempat strategis untuk menuju ke wisata satu ke yang lainnya. Pria itu segera mengajak keluarganya turun, dia menemui pengurus villa dan langsung diberikan kunci villa karena memang dia sudah pesan dari kemarin dan sudah memberikan pembayaran di awal.
Ghibran memindahkan semua barang-barang mereka sendirian ke dalam villa. Sedangkan Aisha dan Syifa, mereka memilih menikmati kebun bunga yang ada di belakang villa. Dia memang sengaja tidak memperbolehkan istri dan putrinya membantu karena pria itu tidak ingin melihat mereka kelelahan.
Mereka akan berlibur di sana selama tiga hari. Ghibran sudah mengatakan pada orang kepercayaannya untuk melakukan liburan bersama keluarga. Untuk Syifa sendiri, dia tidak terlalu sulit mendapatkan izin dari guru di sekolahnya.
Hari semakin malam, cuaca semakin terasa menusuk ke tulang. Mereka sama-sama memakai pakaian tebal untuk menghangatkan tubuh mereka. Dibantu oleh pihak pengelola villa, keluarga kecil Ghibran akan mengadakan pesta makan sate ayam.
__ADS_1
Aisha sudah bilang dari kemarin, dia ingin makan sate yang ada di puncak. Karena tidak tega akan istrinya yang sedang mengidam, tentu saja Ghibran akan menuruti keinginan sang istri tercinta.
"Memangnya Papi bisa bakar sate ayam, Pi?" tanya Syifa yang melihat Ghibran sedikit kesulitan.
"Bisa dong, Sayang," sahut Ghibran yang sedang mengipasi sate ayam.
Saat ini, mereka sedang mengelilingi bara api untuk membakar sate ayam. Hitung-hitung sebagai penghangat alami untuk mereka agar tidak terlalu dingin. Karena posisinya mereka berada di luar. Namanya juga bakar-bakaran, tidak mungkin ada di dalam ruangan.
"Kamu coba deh, pasti enak." Aisha memberikan satu tusuk sate kepada Syifa agar putrinya itu mau mencoba.
Syifa awalnya tidak mau, karena tidak yakin buatan Ghibran enak dimakan. Namun akhirnya, bocah itu juga mau mencoba dan bilang kalau itu rasanya enak. Mereka jadi menghabiskan malam itu untuk menyantap sate ayam beserta lontong yang juga disiapkan oleh pihak pengelola villa.
Setelah semua sate dibakar, Ghibran membantu putrinya main ayunan. Di samping villa itu memang ada tempat permainan anak dan salah satunya ayunan. Syifa tertawa bersama papinya. Bahkan gadis kecil itu juga berlari ke arah Aisha kalau makanannya habis.
Kemudian ke arah Ghibran lagi jika ingin main ayunan. Terus seperti itu sampai beberapa kali. Hingga akhirnya pria itu merasa lelah dan membiarkan Syifa main ayunan sendirian. Lagi pula, posisi ayunan tadi juga ada di depan karpet tebal yang digelar di sana.
"Bahagianya aku, memiliki putri secantik, sesehat, seceria dan sepandai Syifa," gumam Ghibran seraya merangkul bahu Aisha untuk menyalurkan rasa hangat antara dirinya untuk sang istri.
Perempuan itu merebahkan kepalanya ke bahu suaminya. Sepasang suami istri yang sebentar lagi akan dikaruniai buah hati kedua itu, sama-sama tersenyum melihat keceriaan dan kebahagiaan yang melanda mereka di hari ini dan hari-hari sebelumnya.
Sementara itu di rumah kediaman orang tua Ghibran, Ibu Nur yang sedang membersihkan ruang kerja suaminya terkejut melihat foto Pak Abdul dengan seorang wanita muda, yang sedang hamil besar. Mungkin akan segera melahirkan. Tangan suaminya merangkul bahu wanita itu.
__ADS_1
Tangan Ibu Nur gemetar memegang foto itu. Dalam hatinya berkata, "Ini pasti salah satu keluarga ayah, tidak mungkin jika ayah mengkhianati ku."
...****************...