HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
30.Sang Pembangun Jiwa


__ADS_3

Zikir syahdu berkumandang.Tangis-tangis mengisi ruang. Doa-soa merajuk menembus langit setiap malam, pagi, siang, dan petang. Hawa yang sejuk, sejuk hati para insan yang wajahnya terbasuh air wudhu. Bergerak berlahan kedalam surau membentuk saf para pencinta dan perindu sujud.


"Duhai, saudaraku, Aku dan kamu dulu adalah para penatang tuhan. Di perbudak hawa nafsu.Teramat mudah mengikuti godaan-godaan setan yang terkutuk. Malam ini tundukkan jiwamu.Tundukan segala kesombongan dalam hati mu. Kita lanjutkan peperangan melawan dan menaklukkan nafsu dalam diri kita."


Suara lelaki tua itu menyebar ke seluruh ruangan, mengisi hati para jemaah di kampung hijrah.Tak terkecuali Satria, yang terlihat khusyuk menikmati malam demi malam yang dia lalui.Ya, tak terasa sudah seminggu dia bersama dua sahabatnya berada di sini.Tak terasa begitu besar perubahan yang telah di rasakan.


"Dosa-dosa mu adalah penghalang untuk bertemu Rabb-mu. penghalang merasakan kehadiran Rabb-mu. Maka, ungkapkan lah penyesalan mu malam ini. Gaungkan kegelisahan mu kepada-Nya. Lafaskan lah istighfar dalam hatimu seolah kamu akan meninggal esok hari."


Satria menikmati setiap lafaz istighfar yang terucap dari hati terdalam. Getarannya terasa hangat mengalir bersama darah ke setiap inci tubuhnya. saat mengingat semua dosa-dosa yang dilakukan di masa lalu, air matanya tumpah, mengalir dan membasahi relung jiwanya yang telah lama kering.


"Beliau bernama Iwan Syaifullah Yusuf. Orang-orang memanggilnya Abah Iwan. kalau kalian mau belajar di sini, harus izin dulu Sam beliau," kata Bang Mirza, pengurus di kampung hijrah yang mereka temui pada awal kedatangan.


Mereka kemudian dipertemukan dengan Abah Iwan di rumah kayunya yang sederhana. Pertemuan singkat untuk kali pertama dengan sosok yang sangat karismatik itu membekas dalam hati Satria.


"Anak muda, ada keperluan apa kalian datang kesini?" tanya Abah Iwan dengan nada suara tegas.


"Kami, dan khususnya saya, ingin belajar di sini," jawab Satria.


"Kami bertiga sedang dalam proses hijrah, Abah," tambah Angga.


"Saya juga, Abah, sama kayak dua teman saya ini," timpal Demoy.


"Alhamdulillah, niat yang bagus. Dari man kalian tau tempat ini?"


Ketiga nya terdiam sesaat,lalu Satria menjawab.


"Dari anaknya Kang Umar, Abah."


Mendengar jawaban Satria, Abah Iwan langsung tersenyum. Mimik wajahnya berubah.


"Hmmmm, ada hubungan apa kamu sama senja?"


Satria terlihat kaget.Teryata Abah Iwan tau Senja. Dan,dia menjawab jujur.


"Saya mantan kekasihnya, Abah," kata Satria pelan.

__ADS_1


"Satu malam saya membaca surat dari ayahnya Senja, Kang Umar, dan saya merasa ada kesamaan antara masa lalu Kang Umar dengan saya. saya seorang penzina, Abah, Awalnya, saya pun ingin menzinahi Senja, tetapi gagal. saya menyesal Abah. saya menyesal dengan semua dosa-dosa saya. saya ingin berubah, saya ingin bertobat,Abah," tambah Satria.


Abah Iwan mendengarkan cerita Satria dengan wajah tenang. kepalanya mengangguk-angguk.


"Sebuah pertobatan agung akan melahirkan banyak kebaikan. kalian sampai di tempat ini semuanya atas kehendak allah. selamat datang di kampung hijrah....."


Satria, Angga, dan Demoy tersenyum mendengar perkataan Abah Iwan.


"Mirza, mereka adalah santri baru kita. Kamu Abah tunjuk sebagai pembimbing mereka. perlakukan mereka dengan baik."


"Siap, Abah," jawab Mirza.


"Alhamdulillah, terima kasih, Abah.....," kata Satria.


"Terima kasih, Abah.....," kata Angga dan Demoy juga.


Ketiganya lalu mencium tanggan Abah Iwan, guru yang akan membimbing mereka menempuh jalan pertobatan.


Abah Iwan adalah pusat semua aktivitas di kampung hijrah. lelaki berusia sekitar 60 tahun itu masih terlihat fit dan energik. Dia mengelola kampung hijrah bersama para pengurus yang dahulunya adalah santri di sana, seperti Mirza. selain itu, Abah Iwan juga si bantu oleh beberapa ustadz muda dengan spesialisasi khusus untuk membimbing para santri.


Jumlah santri di kampung hijrah tidak banyak.Hanya sekitar 200 orang, dan semuanya laki-laki. mereka menetap di rumah-rumah kayu yang di bangun secara mendiri oleh para pengurus dan santri sendiri.


Satria, Angga, dan Demoy terlihat takjub dengan suasana di kampung hijrah. sebuah perkampungan yang diapit perkebunan teh luas, perbukitan, dan pemandangan pengunungan tinggi menjulang.


"Untuk tempat tinggal, zona santri dan zona warga dibuat terpisah. Tapi, tidak ada sekat, Dan di buat tetap berdekatan Karen konsep kami memang membangun perkampungan Islam. Apalagi para warga di sini dulunya juga adalah para santri," lanjut Mirza.


"Untuk kebutuhan sehari-hari, para warga di tugaskan untuk berkebun Daan berternak. Hasil perkebunannya berupa sayur-mayur dan buah-buahan. Untuk perternakan, kami berternak ayam, kambing, sapi, dan kelinci. kami juga mengelolah pasar, pusat kesehatan, taman bermain anak-anak, juga fasilitas lain yang kami sediakan untuk santri dan warga. selain itu, ada juga program pemeliharaan kuda karena para santri di kampung hijrah di latih mahir berkuda.


"Konsepnya dari Abah Iwan. Beliau ingin membangun kemandirian di sini. kami, para warga di bantu santri, yang kemudian mengeksekusi. Beliau itu lulusan pesantren ternama di Jawa Timur. Mulai membangun kampung hijrah ini sejak delapan tahun lalu.


"Orang g datang ke sini beragam. Rata-rata orang yang memiliki masa lalu yang kelam. Ada mantan perseman, mantan debt collector, mantan perzina, bahkan ada beberapa orang yang pernah di penjara, lalu menjadi santri di sini."


"Mantan anak geng motor dan anak skater ada, enggak, Bang?" tanya Angga.


"Mantan anak geng motor ada, Ko, di sini." jawab Bang Mirza.

__ADS_1


"Kalau mantan anak punk ada, Bang?" tanya Demoy.


"Ada, kamu.....," balas Bang Mirza.


"Hehe. aku keren berarti kalau begitu," kata Demoy cegegesan.


"Nanti kalian harus ikut program sesuai kurikulum di sini. khususnya untuk yang baru masuk, ada beberapa hal khusus yang harus diikuti dan dikerjakan selama 40 hari ke depan."


"Insyaallah, Bang Mirza....," jawab Satria.


"Bang, aku boleh tanya?" kata Demoy lagi.


"Boleh, silahkan," jawab Bang Mirza.


"Kalau di sini gak ada korupsi, kan?" tanya Demoy.


"Insyaallah tidak ada. Malu kepada Allah dan Rasul kalau seandainya kita mencuri dan menghianati amanah." jawan Bang Mirza.


"Alhamdulillah, aku mau jadi warga di sini kalau begitu," kata Demoy kembali.


"Kalau aku gak mau. Aku mau balik ke masyarakat," kata Angga.


Sementara itu, Satria hanya diam,memikirkan sesuatu. Begitulah, hari itu mereka bertiga mendapatkan penjelasan yang lengkap tentang kampung hijrah dari Bang Mirza. meraka merasa beruntung dan bersyukur bisa menjadi santri di sini. mereka berazam akan mengikuti semua program di kampung hijrah dengan sepenuh hati.


"Program 40 hari membangun jiwa adalah salah satu jalan pertobatan yang harus kalian ikuti dengan kerelaan hati. Hidup adalah tentang membentuk kebiasaan dan karakter. selama ini, karakter buruk yang terbentuk karena kebiasaan-kebiasan buruk bersemanyam dalam diri kita. mari kita hancurkan karakter buruk itu dengan menganti semua kebiasaan kita. menginstalnya ulang dengan perbuatan dan kebiasaan baik."


Semua santri mendengarkan penjelasan Abah Iwan. khususnya beberapa santri baru yang harus mengikuti program membangun jiwa selama 40 hari. Abah Iwan melanjutkan dengan menyampaikan arti dari sebuah Firman Allah , ayat Al-Qur'an surah Ar-Ra'd(13):11.


"sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."


Abah Iwan lalu melanjutkan tausiahnya.


"Yang pertama harus kalian pelajari adalah ilmu suci, taharah, ilmu menyucikan diri secara lahir dan batin. pelajari lagi mulai dari cara mandi besar juga wudunya. bersih secara lahir dari hadas dan najis. pelajari juga cara membersihkan jiwa sehingga kita bisa masuk fase selanjutnya, yaitu membiasakan mendekat kepada Allah dalam ibadah. biasakan sholat di awal waktu dan berjamaah. biasakan berzikir. biasakan beristifar. biasakan sholat malam. biasakan membaca alquran. biasakan muhasabah dan berdoa. biasakan sholat dhuha. biasakan puasa sunah. semuanya harus di biasakan secara konsisten selama 40 hari. pemimbing akan mantau setiap aktivitas yang di lakukan. Harapanya. setelah 40 hari,semua kebiasaan baik itu akan terikat dalam dirimu dan menjadi kebiasaan seumur hidup pada akhirat nya. insya Allah....."


Begitu penjelasan Abah Iwan awal-awal mereka di kampung hijrah. Ini adalah hari ketujuh yang di lalui oleh mereka bertiga. selama seminggu ini, Satria, Angga, dan Demoy selalu berusaha melakukan apa yang di perintahkan. Dan, semua terjadi sampai hari ini telah menjadi pengalaman yang membekas di hati Satria.

__ADS_1


Sesi yang selalu di rindukan oleh semua santri adalah sesi tausiah dari Abah Iwan. setiap selesai aholat Tahajut, sesi muhasabah, dan sholat subuh berjemaah. Abah Iwan selalu melanjutkan dengan tausiah yang membangun jiwa. seperti hari ini. Abah Iwan memberi pesan yang sangat berharga dalam tausiahnya.pesan yang akan di ingat oleh Satria sepanjang hidupnya.


"Hijrah itu , Anak muda, adalah bergerak. bergerak untuk meninggalkan dan bergerak untuk menuju. seperti kanjeng nabi Muhammad yang berhijrah bergerak meninggalkan mekkah. negri yang saat itu menolak dakwa nabi, menuju madinah. negeri yang siap menerima dakwah nabi.dari inspirasi hijrah nabi, kita bisa mengambil pelajaran, bahwa hijrah itu bergerak meninggalkan satu kondisi yang buruk, atau meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk, menuju satu kondisi atau perbuatan demi perbuatan yang Allah rida, Allah suka, dan Allah cinta."


__ADS_2