HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
Bab 82. Rachel


__ADS_3

Ibu Nur melepaskan kepergian Pak Abdul dengan hati sedih. Tidak dipungkiri hatinya sakit mengingat suaminya akan bertemu wanita lain. Wanita yang jauh lebih muda darinya.


Dua jam perjalanan sampailah Pak Abdul di rumah istri mudanya. Ternyata mereka tinggal tidak begitu jauh dari perusahaan pria itu.


Dengan perlahan, Pak Abdul mengetuk pintu rumah. Seorang wanita tua membuka pintu dan mempersilakan pria itu masuk.


"Rachel mana, Bi?" tanya Pak Abdul pada bibi yang bekerja di rumah istri mudanya itu.


"Di dapur, Pak. Saya sudah melarang ibu masak. Tapi dia keukeh ingin masak buat Bapak," jawab Bi Inah.


"Tak apa, Bi. Asal jangan yang buat capek saja," ucap Pak Abdul.


Dia berjalan menuju dapur. Kemarin Abdul memang mengabari sang istri jika dia akan pulang, sehingga wanita itu mempersiapkan makan siang untuk sang suami.


Rachel dan Abdul bertemu secara tak sengaja. Wanita itu bekerja di kafe samping perusahaan. Sering bertemu membuat pria itu menyukainya. Awalnya mereka ragu untuk menjalin hubungan. Usia mereka sangat terpaut jauh, berbeda 35 tahun. Usia Rachel saat ini baru 25 tahun dan Pak Abdul 60 tahun.


Rachel yang yatim piatu begitu bahagia mendapatkan perhatian dari Pak Abdul. Dia merasa memiliki seseorang ayah lagi. Kebersamaan membuat keduanya saling jatuh cinta. Untuk menghindari dosa, Abdul menikahi wanita itu.


Bersama Rachel jiwa muda Abdul kembali. Tapi dia akui, cintanya pada Ibu Nur tetap sama. Dia menyembunyikan semua ini karena tidak ingin berpisah dari wanita yang telah 30 tahun menemaninya itu.


Pak Abdul berjalan pelan menghampiri sang istri. Memeluknya dari belakang dan mengecup leher sang istri yang terekspos karena rambut yang dikucir. Rachel langsung membalikan tubuhnya dan membalas ciuman sang suami.

__ADS_1


"Aku kangen ...," ucap Rachel dengan manjanya. Biasanya setiap hari Abdul akan menyempatkan pulang ke rumah Rachel walau tidak menginap. Dia memang lebih banyak menghabiskan waktu bersama Ibu Nur.


"Nur telah tahu semuanya. Aku tidak mungkin meninggalkan dia di saat hatinya sedang terluka dan sedih," jawab Pak Abdul.


"Aku mengerti, Mas. Aku tak marah jika Mas sering bersama Ibu Nur. Aku cuma ingin mengatakan jika aku kangen saja," ucap Rachel lagi.


Pak Abdul mencubit hidung mancung istrinya dengan lembut dan mengacak rambutnya. Dia tak tahu pasti perasaan apa yang ada pada dirinya. Sayang atau cinta. Dia tidak bisa melepaskan Nur, tapi tak mau juga kehilangan Rachel.


"Kamu masak apa? Perutku sudah lapar. Dari rumah hanya sarapan sedikit saja. Aku ingin makan siang masakan kamu," ucap Pak Abdul sengaja mengalihkan pembicaraan.


Seperti kata Nur, tidak ada wanita yang ingin di madu dan menjadi madu. Pasti mereka ingin menjadi satu-satunya dalam hidup sang pria. Dia tidak ingin kedua istrinya merasa cemburu.


"Aku masak dendeng balado. Mas bilang paling suka masakan aku ini," ucap Rachel.


Rachel tersipu malu karena suaminya selalu saja memujinya cantik. Dia lalu menata semua masakan di meja. Ada dendeng balado, sayur bayam dan perkedel kentang. Sebagai seorang berdarah Padang, Rachel memang lebih jago masakan Padang seperti dendeng balado.


Pak Abdul selalu minta dimasakin menu makanan Padang. Dari rendang, dendeng balado, Kalio jengkol, Cencang daging. Semua menu itu telah dikuasai Rachel karena dia lama bekerja di kafe atau kantin dekat perusahaan milik pria itu.


Setelah makan siang, Rachel mengganti bajunya. Mereka segera meluncur menuju kota untuk membeli perlengkapan bayi.


"Mas, apa Ibu Nur tahu kalau Mas akan menemui aku?" tanya Rachel.

__ADS_1


"Aku mengatakan dengan jujur," jawab Pak Abdul.


"Pasti dia sedih dan kecewa. Mas, aku boleh bertemu Ibu Nur? Aku ingin meminta maaf karena telah menjadi duri dalam rumah tangganya," ujar Rachel.


"Tidak saat ini, tunggu dulu, Sayang," balas Pak Abdul.


"Aku ingin sebelum melahirkan meminta maaf dengannya. Umur seseorang tidak ada yang tahu. Aku takut saat melahirkan nyawaku tidak tertolong dan aku belum sempat meminta maaf," ucap Rachel lagi.


"Jangan bicara ngawur. Ucapan adalah sebagian dari doa. Aku tak suka kamu bicara begitu. Kita akan membesarkannya bersama. Walau mungkin aku tidak akan bisa seperti bapak yang lain, aku tidak bisa setiap saat berada di samping kamu dan putri kita nanti," ujar Abdul.


Dia telah berjanji akan menjaga jarak dengan Rachel setelah anak mereka lahir. Mungkin setelah bayi itu berusia tiga bulan, dia tidak akan sering pulang ke rumah Rachel. Karena telah berjanji dengan Ibu Nur.


"Maaf, Mas. Cuma aku selalu dihantui rasa bersalah karena telah merebut kamu dari Ibu Nur. Sebelum meminta maaf, hatiku tidak tenang," jawab Rachel.


Dua jam perjalanan sampailah mereka di tempat tujuan. Dengan bergandengan tangan mereka masuk ke sebuah mal. Langsung menuju ke sebuah toko yang menjual perlengkapan bayi dengan lengkap.


Keduanya memilih perlengkapan bayi dengan antusias. Telah 30 tahun berlalu sejak kelahiran Ghibran, dia tidak pernah lagi mencari perlengkapan bayi. Saat keduanya sedang asyik memilih, Pak Abdul dikejutkan dengan suara anak kecil yang memanggilnya.


"Kakek ...."


Pak Abdul dan Rachel menoleh ke arah asal suara. Betapa terkejutnya pria itu saat melihat siapa bocah cilik yang memanggilnya.

__ADS_1


"Syifa ...," ucap Pak Abdul dengan raut wajah yang sangat terkejut.


...----------------...


__ADS_2