
Tidak ada tempat yang lebih indah selain rumah. Tidak ada senyuman yang lebih indah dari senyuman Ibu. Tidak ada tatapan yang paling menggetarkan selain tatapan ayah yang penuh kasih sayang dan penjagaan kepada anak-anaknya. jika itu semua terjadi maka keluarga adalah wujud keindahan cinta di dunia, dan surga telah membumi indah dalam sebuah ruang bernama rumah tangga.
Akan tetapi, tidak semua keluarga seperti itu. Banyak yang memiliki keluarga, tapi kekurangan cina. sehingga, menjamurlah benci Dan caci maki. Banyak juga yang membangun rumah tangga dengan fondasi yang mudah roboh. sehingga rumah dalam beberapa hal, terasa seperti neraka mengertikan.
Pukul 22:30, satria sampai di rumah sakit. Dia berjalan cepat ke ruang ICU dan menemukan Mama sedang tertunduk lesu, menangis.
"Fitri Kenapa, Ma?" tanya Satria. Mama tak menjawab sama sekali.
Satria mendekat, lalu berjongkok di hadapan Mama. sambil memegang tangan Mama, dia mengatakan, "Ma, maafkan Satria....."
Mama menatap Satria, kantung matanya seperti sudah lelah mengeluarkan air mata. Lekat sekali Mama menatap Satria, si sulung yang telah lama dia lupakan saking asyiknya berkerja. Sejurus kemudian pelukan hangat terasa di tubuh Satria. Dan, Mam menangis sejadi-jadinya, membuat satria melelehkan air mata.
Beberapa saat kemudian, setelah kondisinya lebih tenang, Mama akhirnya menjelaskan keadaan Fitria.
"Adikmu keguguran, Tepatnya menggugurkan kandungannya. Dia mengalami infeksi perdarahan," bisik Mama kepada Satria, ada kesedihan dalam setiap kata yang di ucapkan.
"Fitria hamil, Ma?" tanya Satria tak percaya.
Mama mengangguk,
"Astagfirullah'adzim......" Lirih Satria menutup kedua wajahnya dengan tangganya.
Tiba-tiba sejuta penyesalan dirasakan olehnya. Terbayang semua dosa dan kesalahannya pada masa lalu. Dia menyalahkan dirinya atas nasib yang menimpa adik perempuan satu-satunya.
"Ya Allah, jangan kau hukum adikku karena dosa-dosa dan kesalahanku," doanya dalam hati.
__ADS_1
Akan tetapi, semua sudah terlambat, Takdir sudah terjadi. Satria hanya bisa merenungkan semua kejadian yang terjadi dalam hidupnya.
Tengah malam Ayah Satria sampai di rumah sakit dari perjalanan bisnis di luar kota. Terlihat langkahnya yang sangat cepat dari kejauhan. Dia langsung mendekat ke Mama dan menumpahkan segala kemarahannya.
"Semuanya gara-gara Mama. kenapa enggak diawasin? kok, bisa-bisanya Fitria hamil. kok, bisa, Ma? kok, bisa anak kita hamil dan keguguran?" kata Bapak kesal.
"Mama terus yang di salahkan. Bapak ke mana saja? mang selama ini Bapak peduli pada anak-anak?"
"Kamu melawan terus, Ma!"
"Karena Bapak nyalain terus!"
"Kamu berani, ya?"
Bapak mengakar tangannya, akan memukul Mama. sejurus kemudian tangan satria langsung memegang tangan Bapak.
"Kamu berani melawan Bapak?" kata Bapak kepada Satria. tatapan Bapak penuh kemarahan. Mama semakin menangis.
Lalu, satria bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya.
"Bukan salah Mama dan Bapak. Ini salah Satria. Ampuni satria, Pak..... Ma....jangan bertengkar lagi, jangan ......"
Beberapa detik kemudian Satria bersujud di hadapan kedua orang tuanya.
Mama menangis. Mata bapak. berkaca-kaca. keduanya lalu duduk di kursi dan tertunduk lesu dengan batin tersiksa. Ada beragam kepahitan yang kini mereka rasakan. perasaan gagal, marah, kesal, sedih, sekaligus malu, semuanya menjadi satu dan menyerang secara bersamaan.
__ADS_1
Seminggu berlalu dengan cepat. Fitria pulang ke rumah dengan kondisi membaik. kata dokter, kondisi psikologisnya yang sekarang harus dikuatkan. Dukungan penuh dari keluarga sangat dibutuhkan.
Mama cuti dari berkerja. Bapak juga demikian. Ia menyerahkan pengurusan bisnisnya kepada karyawannya. Selama satu Minggu ini, mereka bergantian merawat Fitria bersama Satria.
Satria menjadi pemeran utama dari perubahan positif yang sedikit demi sedikit terjadi dalam rumah itu. Mama dan Bapak terlihat takjub dengan perubahan deratis yang terjadi pada anak sulungnya. Sampai-sampai tidak mengerti dengan apa yang sudah terjadi pada hidup Satria beberapa waktu ini.
"Apa yang sudah terjadi pada Satria?" begitu kata Bapak Kepala Mama.
Selama berada di rumah, Satria selalu shalat pada awal waktu dan pergi ke masjid untuk berjamaah. Bahkan, shalat subuh sekalipun. Dari kamarnya tak terdengar alunan musim-musim keras, melainkan syahdu lantunan tilawah Al-Qur'an. kata-katanya selalu positif dan menguatkan kedua orang tuanya, juga adiknya.
"Meskipun kita sudah melakukan dosa besar, Allah Maha Penerima Tobat. Maafin kakak yah. Kakak akan menemani kamu berubah. Kamu pasti bisa berubah. Masa depan kamu masih cerah," kata Satria kepada Fitria.
Mama dan Bapak jadi malu sendiri. meskipun belum membaik secara komunikasi, tapi setidaknya, Mama dan Bapak berkomitmen untuk fokus merawat Fitria sampai pulih. Mereka berusaha menahan kemarahan supaya tidak bertengkar lagi.
Satria menyampaikan permasalahan keluarganya kepada Bang Mirza. Atas informasi Bang Mirza, Satria menyarankan orang tuanya mengikuti acara di aula masjid dekat kampus di jalan Ganesha. Di sana ada kelas parenting islami, bagaimana menjadi orang tua yang baik menurut Islam. Tampa disangka, orang tua Satria setuju mengikuti acara tersebut.
"Keluarga adalah pilar Peradaban. Salah satu cara paling efektif menghancurkan peradaban adalah dengan menghancurkan rumah tangga. Bagaimana caranya? Dengan mengubah peran ibu. Buatlah dia malu berstatus ibu rumah tangga. sibukkan dia dengan aktivitas yang menjadikannya lupa kodrat dan kewajibannya sebagai istri dan ibu," kata Coach Sodik, pakar parenting islami kepada ratusan peserta seminar yang mayoritas adalah para orang tua.
Mama dan Bapak terlihat serius menyimak materi yang disampaikan.
"Ibu adalah pendidikan untuk anak-anak nya. Ayah adalah kepala sekolahnya. Jadi, peran ayah di sini juga sangat penting. Indonesia itu, Kata Ustadz Ajobendri, seperti negeri Tampa Ayah, yaitu banyak keluarga yang sebenarnya Ayah nya masih ada, tetapi seperti kehilangan peran Ayah. Ayah hanya berfungsi sebagai mesin ATM. Dibutuhkan hanya untuk mengambil uang. Berperan hanya sebagai penyedia uang.
"Jika rumah tangga seperti itu, ibu lupa perannya sebagai pendidik, ayah hanya sebagai mesin ATM, anak-anak menjadi korban. Dan siap-siap, ini awal kehancuran peradaban.
"Menjadi orang tua itu tidak mudah. pertaruhannya dunia akhirat. Jangan hanya penuhi mereka dengan kebutuhan dunia. Beri mereka pendidikan agama. Ajarkan mereka tauhid. Bangun karakter mereka. Ajarkan adab dan akhlaq kepada mereka. Berikan perhatian dan kasih sayang sehingga mereka tidak akan mencari jalan yang salah untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang di luar rumah yang justru menjerumuskan mereka pada kesesatan dan keburukan."
__ADS_1
Mama dan Bapak mendapatkan banyak tamparan dari materi-materi yang di sampaikan Coach Sodik. Tak terasa sampai hampir Dua jam lamanya mereka berdua mengikuti acara. Banyak ilmu parenting yang mereka dapatkan.
Dalam benak mereka terbayang wajah Fitri dan satria. Betapa mereka telah bersalah selama ini karena melalaikan kewajiban menjadi orang tua yang baik.