
Jenazah Rachel telah sampai di kediaman orang tua Ghibran. Pria itu segera memakamkan dengan bantuan teman dan tetangga. Banyak yang bertanya, ada hubungan apa antara Ghibran dan jenazah. Mereka tidak pernah sebelumnya melihat wanita itu.
Setelah pemakaman selesai, Ghibran kembali ke rumah sakit. Aisha dan Syifa tetap berada di rumah orang tua Ghibran. Dia akan menunggu kediaman itu, siapa tahu ada yang masih ingin melayat.
"Mas, harus kembali ke rumah sakit. Kamu di sini saja dengan Aisha dan saudara lainnya," ucap Ghibran.
"Iya, Mas. Annisa juga ada di rumah sakit menemani ibu?" tanya Aisha.
Ghibran mendekati istrinya, menangkup kedua wajah sang istri. Mengecup dahinya dengan lembut.
"Sayang, dengar ya. Jika aku memang tertarik dengan Annisa, kenapa tidak dari dia gadis aku terima saja. Kenapa harus menunggu hingga hari ini?" tanya Ghibran dengan gemasnya.
"Awas kalau Mas ganjen," ucap Aisha dengan manjanya.
"Atau kamu ikut lagi ke rumah sakit, biar aku minta Annisa yang menunggu rumah ini?" tanya Ghibran. Aisha menggelengkan kepalanya. Sebenarnya dia juga telah lelah di rumah sakit. Kehamilannya yang makin membesar, membuat dia mudah lelah.
"Sayang, percayalah denganku, cintaku telah habis hanya untuk kamu. Tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan kamu," balas Ghibran dengan memeluk tubuh istrinya.
"Aku percaya denganmu, Mas. Tapi tidak dengan wanita lain di luar sana. Banyak wanita sekarang lebih doyan suami orang," ucap Aisha.
Ghibran makin mempererat pelukannya. Semenjak Aisha tahu jika Annisa pernah memiliki perasaan dengannya, wanita itu memang lebih cemburuan. Namun, Ghibran menanggapi dengan senang hati. Dia kembali mengecup dahi sang suami.
"Tidak akan bisa tamu masuk jika pintunya ditutup rapat. Aku telah mengunci hari ini, dan kuncinya ada padamu. Jadi bagaimana bisa terbuka untuk wanita lain," ujar Ghibran.
__ADS_1
Aisha lalu memeluk sang suami erat sebelum akhirnya melepaskan. Dia mengantar Ghibran hingga masuk ke mobil. Syifa telah masuk ke kamar. Mungkin dia kelelahan.
***
Tiga hari kemudian.
Ghibran duduk di ruang tunggu rumah sakit dengan wajah lesu. Di sebelahnya, Ibu Nur tak henti-hentinya berdoa, sedangkan tangan mereka saling bergandengan erat. Annisa juga masih berada di rumah sakit.
"Gib, semoga Ayah segera sadar," ujar Ibu Nur dengan suara yang penuh harap.
"Ya, Ibu, aku juga berharap begitu. Aku tak sabar untuk mendengar suara Ayah lagi," jawab Ghibran pelan.
Mereka terdiam sejenak, terbuai oleh suasana yang penuh haru. Namun, Ibu Nur tak lama kemudian menabrakkan jari-jarinya sebagai tanda semangat.
"Ayo, Gib. Kita harus tetap semangat. Ayah pasti akan baik-baik saja," kata Ibu Nur dengan suara berusaha keras meyakinkan.
"Ibu Nur, Mas Ghibran. Ada perkembangan terbaru dari dokter," ucap perawat tersebut.
Kedua mata Ibu Nur langsung bersinar berharap. Ghibran pun tampak menatap perawat itu dengan tatapan yang penuh harap.
"Apakah ada perubahan menggembirakan, Bu?" tanya Ibu Nur cepat.
"Sayangnya, belum ada perubahan signifikan. Tapi dokter mengatakan ada sedikit pergerakan yang terjadi pada Ayah Abdul. Ini mungkin pertanda baik, meski belum bisa dipastikan," jelas perawat itu.
__ADS_1
Mendengar kabar tersebut, Ibu Nur dan Ghibran masih dalam perasaan antara gembira sekaligus kekhawatiran. Namun, mereka berdua mengucapkan rasa syukur karena ada sedikit harapan di tengah keadaan yang suram.
"Ya Allah, tolong jadikan Ayah sehat kembali. Kami rindu dengan senyumnya, dengan kehangatan dan kasih sayangnya. Tolong lepaskan dia dari penderitaan ini," pinta Ibu Nur dalam doanya.
"Ya Allah, berikanlah kesembuhan pada Ayah. Aku ingin dia melihat putrinya yang telah lahir," sambung Ghibran memiliki keyakinan yang tinggi.
Hari-hari terus berlalu, namun Ayah Abdul tak kunjung sadar. Ghibran kadang merasa putus asa dalam menyaksikan kondisi sang ayah. Setiap kali melihat Ibu Nur menangis, hatinya teriris sedih.
Annisa telah Ghibran minta pulang. Awalnya dia bersikeras ingin menemani sang Tante, tapi Ghibran memaksa wanita itu meninggalkan rumah sakit. Walau dengan berat hati, dia akhirnya pulang. Ibu Nur kali ini hanya diam saja dengan apa yang Ghibran lakukan.
Pada malam harinya, ketika mereka berdua duduk bersama di ruang tunggu rumah sakit, Ghibran tidak bisa menahan diri lagi.
"Ibu, aku lelah melihat Ayah dalam keadaan seperti ini. Aku ingin Ayah segera pulih," ucap Ghibran dengan suara yang terdengar rapuh. Dia ingin meminta maaf atas sikapnya pada ayah sebelum terjadi kecelakaan.
Ibu Nur menatapnya dengan penuh kasih sayang. Ia menggenggam tangan Ghibran sembari tersenyum lembut.
"Kita semua capek, Gib. Tapi kita tidak bisa menyerah. Ayah perlu kita kuatkan. Kita perlu terus bersabar dan mempercayai keajaiban," kata Ibu Nur tegas. Walau sebenarnya hatinya hancur, tapi berusaha tetap kuat.
"Ya Allah, berikan kekuatan pada kami untuk terus mendoakan Ayah Abdul dan menjaga semangat kami tidak pernah padam," doa Ibu Nur sungguh tulus.
"Dan kami berdoa agar Ayah lekas pulih dan kembali menjalani kehidupan yang bahagia bersama keluarga kami," Ghibran menambahkan doanya dengan sepenuh hati.
Pagi hari ini, ketika mereka sedang duduk bersama di ruang tunggu, para dokter dan perawat berdatangan dengan senyuman di wajah mereka.
__ADS_1
"Ibu Nur, Mas Ghibran. Ayah Abdul sudah bangun dari koma," ucap salah satu dokter dengan suara gembira.
...----------------...