
Telah satu Minggu berlalu. Hubungan Pak Abdul dan Ibu Nur semakin membaik. Wanita itu sudah mulai melakukan semua yang biasa dia lakukan dan bersikap wajar lagi.
Pagi itu di suatu hari di kota kecil yang sunyi, Pak Abdul duduk di ruang tamu dengan gelisah. Raut wajahnya tampak tegang, dan matanya seakan memancarkan rasa gelisah. Ia memegangi secarik kertas yang tampak usang, yang merupakan undangan reuni teman kantornya di kota lain.
Dengan hati yang berdebar, Pak Abdul memanggil istrinya, Ibu Nur, yang sedang memasak di dapur. "Nur, ada sesuatu yang ingin ku sampaikan padamu," ucap Pak Abdul sambil merapikan rambutnya yang beruban. "Aku ingin pamit ke luar kota untuk menghadiri reuni teman-temanku. Aku merasa ini penting bagiku untuk mengenang masa lalu dan menghabiskan waktu bersama mereka."
Ibu Nur, yang saat itu tengah mengaduk adonan, menoleh dan melihat wajah Pak Abdul yang tegang. Hatinya seketika dipenuhi oleh rasa cemas. "Tapi Yah, mengapa kamu tak mengatakan padaku sebelumnya? Aku terkejut mendengarnya sekarang," sahutnya dengan suara halus.
Pak Abdul menghela nafas panjang dan menarik kursi di depan Ibu Nur. "Maafkan aku, Nur. Aku sedang bingung dan takut memberitahumu karena aku tak ingin melukaimu. Namun, reuni ini menjadi penting bagiku untuk menghadapi masa pensiun kelak. Mungkin beberapa tahun ke depan aku sudah tidak bisa pergi keluar kota lagi tanpa pendamping. Usiaku makin senja."
Melihat kekhawatiran wajah istrinya, Pak Abdul memutuskan untuk jujur tentang satu hal lagi. Ia menyadari bahwa kejujurannya mungkin membuat Ibu Nur merasa cemburu, tapi penyesalan sudah terlambat untuk mengubah keadaan. Dengan perasaan tegang, ia mengatakan, "Nur, aku juga ingin menjenguk Rachel, istriku. Kandungannya sudah makin membesar."
__ADS_1
Ibu Nur terkejut mendengar ucapan sang suami. Baru saja dia belajar ikhlas menerima semuanya, langsung di tampar kenyataan jika dia saat ini telah di madu. Wajahnya berubah menjadi pucat dan matanya berkaca-kaca. "Rachel? Istri mudamu? Mengapa kamu ingin bertemu dengannya? Apakah kamu ingin menemaninya hingga lahiran?” tanya Ibu Nur dengan suara terguncang.
Pak Abdul ingin menjelaskan semuanya, agar Ibu Nur mengerti apa yang terjadi. "Tidak, Nur. Aku hanya ingin memastikan bahwa ia baik-baik saja. Bagaimana pun dia itu adalah istriku juga. Apa lagi saat ini dia sedang hamil, aku harus bisa memastikan jika dia tidak kekurangan apa pun."
Suara Ibu Nur bergetar ketika ia membalas ucapan sang suami, "Apa yang kamu katakan,Yah? Bukankah kamu telah berjanji akan memprioritaskan aku?" tanya Ibu Nur.
Pak Abdul segera meraih tangan Ibu Nur dengan penuh kelembutan. "Bu Nur, kau adalah cinta sejatiku. Aku mencintaimu dengan segenap hatiku. Rachel hanyalah bagian dari hidupku. Hanya karena aku mengunjunginya bukan berarti aku menomor satukan dia. Bukankah aku lebih banyak denganmu. Sebenarnya ini tidak adil, tapi bagaimana mana pun bagiku kau yang utama. Aku berharap kau mempercayai dan mengerti."
Pak Abdul mencoba menghapus airmata Ibu Nur dengan lembut. "Nur, aku mengerti rasa cemburu mu. Namun, percayalah bahwa aku akan selalu kembali padamu. Tak ada yang bisa menggantikan tempatmu di hatiku. Aku hanya ingin menjadi suami yang adil dan menjaga hubungan kita tetap bahagia."
Perlahan, Ibu Nur menyeka air matanya dan menggenggam tangan Pak Abdul dengan erat. Wajahnya membayangkan perjuangan batin yang tak terlihat. Ia ingin mempercayai suaminya sepenuh hati, namun cemas dan rasa cemburunya tetap ada.
__ADS_1
Sementara itu di rumah kediaman Ghibran, pria itu dan kedua wanita tercintanya sedang mempersiapkan diri untuk ke kota. Mereka ingin membeli semua perlengkapan bayi.
"Aisha, Syifa, apakah kamu telah siap?" teriak Ghibran. Sudah hampir satu jam dia menunggu, tapi belum terlihat tanda-tanda mereka telah selesai dengan persiapannya.
"Sebentar lagi, Pi. Sabar ...," ucap Syifa.
Ghibran hanya bisa mengurut dada dan menarik rambutnya frustasi. Selalu saja begini, setiap akan keluar kota mereka berdua riweh dengan barang bawaannya. Hingga satu jam berlalu barulah keduanya keluar dari kamar dengan tentengan tas di kedua tangan mereka.
"Papi, ayo cepat. Nanti keburu siang, bisa-bisa sampai malam di kota," ucap Syifa.
Dalam hati Ghibran berkata, siapa yang membuat mereka telat berangkat. Bukankah sang putri dan istrinya yang membuat perjalanan mereka jadi tertunda.
__ADS_1
...----------------...