
Pak Abdul dan Rachel kini yang sudah keluar dari toko perlengkapan bayi tampak tidak bersuara satu sama lain, terutama Pak Abdul yang masih memikirkan sikap Ghibran kepadanya. "Nggak usah dipikirkan, Mas." Pak Abdul menatap ke arah Rachel yang baru saja mengatakan itu kemudian membuka pintu mobil mereka.
"Kamu masuk duluan saja, Mas mau masukkan barang-barang ini dulu," ujar Pak Abdul memasukkan barang mereka ke mobil.
Setelah selesai, Pak Abdul kemudian menyusul Rachel masuk ke dalam mobil, setelah mereka berdua sudah berada di dalam mobil. Pak Abdul kemudian menyetir mobilnya meninggalkan area perbelanjaan itu.
"Mas masih kepikiran sama sikap Ghibran yah?" tanya Rachel membuat Pak Abdul menggeleng pelan.
"Ah tidak, cuma kecapekan saja," Pak Abdul menjawab seadanya karena dia tidak ingin membuat Rachel juga kepikiran.
Rachel memilih diam, dia tahu ada yang berbeda dari pria disampingnya, saat mereka larut dalam diam mereka, Pak Abdul tidak menyadari bahwa ada mobil berlawanan arah yang sedang melaju kencang ke arah mereka.
"Mas-" Belum selesai kalimat Rachel, Pak Abdul tiba-tiba membanting stir ke kanan membuat bagian belakang mobil mereka dihantam oleh mobil depan.
Mobil yang nyari terguling itu kemudian menabrak pembatas jalan dengan sangat cepat, membuat Rachel terlempar keluar dari posisinya dan terjebak diantara jok dan dashboard mobil.
Sedangkan Pak Abdul sudah tidak sadarkan diri karena benturan yang cukup keras dengan setir mobil. Keduanya sudah tidak sadarkan diri dengan tubuh yang bersimbah darah, terutama Rachel.
Orang-orang sekitar mulai mengerumuni keduanya. Salah seorang dari mereka telah menghubungi ambulans. Setengah jam berlalu, barunya mobil tersebut datang dan membawa keduanya menuju rumah sakit.
Pihak kepolisian lalu mencari data korban dan mencoba menghubungi keluarganya. Ghibran dan Aisha yang sedang berkumpul dengan ibu Nur terkejut mendapati telepon dari rumah sakit.
__ADS_1
Mereka segera berangkat begitu mendengar ayah dan istri mudanya kecelakaan. Yang paling gelisah tentu saja Ibu Nur.
"Semoga ayah kamu tidak apa-apa, Nak!" gumam Ibu Nur.
"Bu, kita berdoa saja untuk keselamatan keduanya," balas Aisah mencoba menenangkan ibu mertuanya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit yang memakan waktu satu jam, semuanya hanya diam. Larut dalam pikiran masing-masing, terutama Ghibran. Dia teringat sikapnya tadi dengan ayah dan istri mudanya itu.
Sampai di rumah sakit, Ghibran langsung bertanya di mana korban kecelakaan berada. Perawat lalu menunjuk ke arah IGD. Ketika sampai di ruangan itu kebetulan dokter sedang bertanya keluarga korban pada pihak kepolisian. Ghibran langsung maju dan mengatakan dialah keluarganya.
Dokter meminta Ghibran untuk menandatangani surat persetujuan operasi untuk Rachel. Dia harus segera di operasi untuk menyelamatkan bayinya.
"Tim medis kami sedang berusaha yang terbaik untuk menyelamatkan Bapak anda, istri dan bayi dalam kandungannya. Tenanglah," jawab Dokter.
"Terima kasih, Dokter."
"Kami pasti akan melakukan segala yang bisa kami lakukan. Berdoalah semua akan baik-baik saja," balas dokter itu lagi.
Dokter itu lalu masuk ke rumah operasi. Sementara Rachel harus berjuang di meja operasi, Pak Abdul juga sedang berjuang di ruang lain.
"Bagaimana keadaan Ayahmu, Nak?" tanya Bu Nur dengan derai air mata.
__ADS_1
"Sedang ditangani dokter. Kita berdoa saja untuk kebaikan semua," jawab Ghibran.
Dalam hatinya Bu Nur berdoa untuk keselamatan keduanya beserta sang bayi. Walau hatinya sakit mengetahui pengkhianat sang suami, tapi tidak pernah dia berdoa buruk untuk mereka.
Bu Nur memeluk Aisha. Tangisnya pecah dalam pelukan sang menantu. Keluarga yang lain baru dikabari Ghibran. Semua dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Aisha, ibu belum siap kehilangan ayah. Jikapun kalau nanti mereka sembuh, dan ayah lebih memilih Rachel, ibu rela asal dia bisa sembuh. Mungkin kami memang ditakdirkan bersama sampai di sini," ucap Ibu Nur.
Tiga hal dari tindakan mulia di dunia ini dan kelak di akhirat: maafkan dia yang telah berbuat zalim kepadamu, kunjungi dia yang telah memutuskan silaturahim denganmu, dan bersabarlah ketika dirimu tidak dipedulikan – Ja’far Ash Sadiq
"Bu, kita berdoa saja untuk keselamatan semuanya. Baik ayah, Rachel dan bayinya," ucap Aisha dengan suara lembut.
Tuhan adalah pencipta kehidupan, Dia juga yang mengatur dan mengendalikan kehidupan serta seisinya, termasuk kehidupan manusia, mahkluk ciptaan-Nya.
Itulah mengapa, manusia boleh saja berencana, namun segala yang terjadi akan sesuai kehendak-Nya. Dan tak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubahnya. Kita hanya bisa menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada.
Kita harus belajar menyelami rencana Tuhan dalam hidup kita karena Dia empunya hidup kita sehingga Dia pula yang akan mengendalikan kehidupan kita.
"Satu-satunya cara Tuhan dapat menunjukkan kepada kita bahwa Dia yang mengendalikan adalah dengan menempatkan kita dalam situasi yang tidak dapat kita kendalikan."
...----------------...
__ADS_1