
Ibu Nur dan Ghibran serta keluarga yang lain telah berkumpul di rumah sakit. Operasi Rachel sedang berjalan. Semua hanya diam, dalam pikiran masing-masing.
Sementara itu di ruang operasi, dokter dan perawat sedang berjuang untuk menyelamatkan nyawa pasiennya. Rachel telah banyak mengeluarkan darah.
"Suster, kita harus melanjutkan operasi. Kita tidak punya banyak waktu," ucap Dokter dengan perawat.
"Siap, Dokter," balas perawat.
Setiap detik terasa seperti seabad bagi Ghibran dan keluarga yang lainnya, ketika semuanya duduk di ruang tunggu rumah sakit, menunggu kabar dari dokter. Mereka merasa gelisah, khawatir, dan penuh dengan kecemasan. Rasanya seperti ada ribuan kilogram beban yang menekan dada, mereka hanya bisa berdoa semoga semuanya baik-baik saja.
Akhirnya, dokter keluar dari ruang operasi dan menuju ke arah Ghibran dan keluarga. Wajahnya tampak serius sambil memegang secarik kertas. Ghibran dan Aisha langsung berdiri dari kursinya dan memandang dokter dengan mata yang penuh harapan. Dia tidak sabar lagi mendengar berita tentang Rachel, ibu tirinya Ghibran yang sedang menjalani operasi sesar.
"Maafkan saya mengganggu Anda," kata dokter sambil menatap Ghibran dengan serius. "Operasi Rachel berjalan baik dan bayinya dalam kondisi yang stabil."
__ADS_1
Ghibran dan Aisha juga Ibu Nur merasakan dadanya yang berat seperti kehilangan berat beban yang besar. Air mata bahagia mengalir di pipi saat mereka merasa lega dan bersyukur. Tanpa ragu, dia bertanya, "Bagaimana dengan Bu Rachel? Dia baik-baik saja, kan?" tanya Aisha.
Dokter menggelengkan kepalanya dan matanya penuh empati. "Saya mohon maaf, tapi sang ibu tidak bisa diselamatkan. Operasinya berjalan lancar, tetapi ada komplikasi yang tak terduga. Kami mencoba yang terbaik, tapi kami tidak dapat menghentikan pendarahan internal yang terjadi secara tiba-tiba."
Ghibran dan Aisha juga Ibu Nur dan keluarga lain yang mendengarnya, seperti disambar petir. Rasanya seperti alam semesta sedang mengambil sesuatu yang berharga secara kejam dari kehidupannya. Ia merasakan kehilangan mendalam yang tidak bisa diungkapkan dalam kata-kata. Ghibran merasa bersalah karena tidak menerima ungkapan maaf dari wanita itu.
Dokter meraih tangan Ghibran dengan lembut dan berusaha memberikan dukungan. "Saya tahu betapa sulitnya situasi ini bagi Anda dan keluarga. Kami telah mencoba yang terbaik untuk menyelamatkan kedua nyawa, tetapi kami hanya bisa berusaha tapi semuanya takdir dari Tuhan. Mohon maaf atas semua ini."
Ghibran menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatasi rasa bersalah pada ibu tirinya itu. "Terima kasih atas segalanya yang telah dokter lakukan. Apakah saya bisa melihat bayinya?"
Mereka berjalan menuju ruang perawatan bayi baru lahir, di mana Ghibran melihat adiknya untuk pertama kali. Hatinya bergetar saat ia melihat wajah mungil bayi itu, yang mirip sekali dengan Rachel.
Setelah itu dokter pamit dan meninggalkan Ghibran dan Rachel. Keduanya menatap bayi mungil yang berdosa itu. Tanpa sadar air mata pria itu menetes. Teringat Syifa putrinya. Kenapa dia selalu dikelilingi wanita yang meninggal dunia saat melahirkan.
__ADS_1
Ghibran memandangi istrinya Aisha. Dia langsung memeluk erat tubuh wanita itu. Dalam hati berdoa untuk keselamatan anak dan istrinya. Tidak tahu harus bagaimana dia melanjutkan hidup jika Aisha pergi meninggalkan dirinya.
"Mas, kasihan bayi itu. Dia lahir ke dunia, tapi langsung berstatus piatu," ucap Aisha dengan suara serak menahan tangis. Dia sebenarnya menjadi takut dan gugup. Satu bulan lagi persalinannya.
Ghibran yang melihat Aisha menangis mekin mempererat pelukannya. Dalam setiap helaan napasnya pria itu selalu berdoa untuk keselamatan sang istri dan bayi dalam kandungannya.
Setelah cukup melihat keadaan bayi Rachel, keduanya menuju ruang ICU. Ayah telah dipindahkan ke ruang itu. Dia belum sadar diri. Ibu Nur sedang menatap suaminya dari balik kaca. Dokter meminta waktu untuk membiarkan Abdul istirahat. Bisa masuk nanti tiga jam lagi.
"Ghibran, ayah kamu pasti selamat'kan? Dia tidak mungkin meninggalkan ibu," ucap Ibu Nur dengan derai air mata.
"Saat ini hanya doa yang bisa kita lakukan, Bu. Kita serahkan semua perawatan pada dokter dan kesembuhan pada Allah," jawab Ghibran.
"Aisha, Bu, aku mau mengurus kepulangan jenazah Rachel. Apakah dia boleh disemayamkan di rumah kita?" tanya Ghibran.
__ADS_1
Bagaimana pun dia harus meminta izin sang ibu. Jika jenazah di bawa ke rumah pasti otomatis tetangga akan bertanya siapa wanita itu. Ibu harus siap mental menerima semua gunjingan. Ibu mengangguk tanda setuju. Dia telah ikhlas atas semua yang terjadi. Bukankah semua yang terjadi di muka bumi ini atas kehendak yang maha kuasa.
...----------------...