HIJRAH ITU CINTA

HIJRAH ITU CINTA
Bab 84. Ibu Nur


__ADS_3

Setelah ayah pamit, Ghibran dan Aisha meneruskan makan tanpa suara. Wanita itu membiarkan sang suami meredam emosinya dulu.


Mereka membeli perlengkapan bayi sehabis makan, dilanjutkan dengan mengunjungi ibu. Ghibran meminta izin istrinya untuk ke rumah sebelum ke hotel untuk menginap.


Sampai di rumah orang tuanya, bibi mengatakan jika ibu kurang sehat dan hanya tidur di kamar. Aisha dan Ghibran langsung menuju kamar. Kuatir dengan keadaan Ibu Nur.


Ibu Nur mencoba tersenyum saat melihat kedatangan anak dan menantunya. Aisha duduk di tepi ranjang.


"Ibu sakit apa?" tanya Aisha dengan suara lembutnya.


"Hanya sedikit pusing, ibu sudah minum obat. Nanti juga sembuh," ucap Ibu Nur.


"Apa Ibu sudah makan?" tanya Aisha lagi.


"Nanti saja ibu makan. Belum lapar," jawab Ibu mertuanya itu.

__ADS_1


"Aku buatkan bubur dulu. Ibu harus makan. Bagaimana bisa sembuh jika ibu tidak makan," ucap Aisha dan langsung berdiri tanpa menunggu jawaban dari sang mertua.


Tinggal lah Ghibran dan Ibu Nur berdua di kamar saat ini. Dia menanyakan kabar ibu sambungnya itu. Dan mencoba menjadi pendengar yang baik saat sang ibu bercerita.


Aisha menuju dapur dan memasakan bubur untuk ibu mertuanya. Sementara itu Ghibran menemani ibunya di kamar. Ibu Nur merasa sedikit terhibur karena kedatangan anak menantunya itu.


"Ibu nggak tahu harus mengatakan apa, yang pasti saat ini Ibu belum bisa sepenuhnya ikhlas menerimanya. Tapi Ibu akan belajar untuk sabar menerima semua takdir ini," ucap Ibu Nur.


"Aku harap Ibu jangan terlalu memikirkan semua ini. Ibu bisa sakit. Jika ayah ke luar kota, anggap saja seperti biasa. Memang itu tidak akan gampang. Pasti pikiran akan tetap ke suami, tapi aku harap ibu mulai terbiasa dengan semua ini," balas Ghibran.


Ibu Nur menganggukan kepala sebagai jawaban. Memang tidak ada gunanya dia meratapi nasibnya. Semua telah terjadi. Tidak akan bisa kembali lagi.


"Seharusnya kamu nggak perlu buatkan ibu bubur. Nanti kamu kecapean. Kamu sedang hamil. Kamu yang seharusnya dilayani," ujar Ibu Nur.


"Nggak apa, Bu. Aku di rumah juga sering masak sendiri buat Mas Ghibran dan Syifa. Mas tidak mau makan di luar. Maunya aku yang masak," ujar Aisha.

__ADS_1


Ghibran jadi malu karena Aisha membuka rahasianya. Pria itu memang tidak mau membeli makanan di restoran atau kafe, jika tidak ada momen penting seperti ulang tahun. Hanya sesekali dia mengajak anak dan istri makan di restoran. Jika Aisha tidak bisa masak, dia sendiri akan memasaknya. Bagi Ghibran, masakan Aisha tidak ada tandingnya. Walaupun istrinya itu hanya memasakan telur dadar.


"Pasti karena masakan kamu enak banget," puji Ibu Nur.


Ghibran dan Aisha tersenyum dan saling pandang mendengar ucapan ibu. Tidak biasanya wanita itu memuji istrinya. Mungkin dia mulai sedikit sadar akan kebaikan Aisha.


"Bukan juga, Bu. Mungkin karena Mas malas keluar rumah. Sudah capek pulang kerja."


"Aisha, Ibu bersyukur memiliki kamu sebagai menantu. Maafkan Ibu, jika sering menyakiti kamu dengan perkataan dan ucapan Ibu selama ini," ucap Ibu Nur dengan lemah.


Dia baru menyadari jika Aisha begitu sabar dan ikhlas sejak menginap di rumah mereka kemarin. Tidak pernah wanita itu memperlihatkan kesal atas kehadirannya walaupun selama ini selalu julid.


"Bu, tidak ada manusia yang sempurna. Aku juga tidak luput dari kesalahan. Jangan memandang kebelakang, Bu. Tetap maju. Hidup tidak selalu sempurna. Seperti jalan, itu memiliki banyak tikungan, naik, dan turun. Tapi, itulah keindahannya."


Ibu memeluk Aisha. Dia makin menyadari ketulusan hati wanita itu.Tidak ada manusia atau hal yang sempurna di dunia ini. Semua pasti pernah melakukan kesalahan di dalam hidupnya. Hal tersebut dikarenakan kesempurnaan hanya milik Tuhan.

__ADS_1


Akan tetapi, cobalah lakukan hal terbaik yang kamu bisa. Walau tidak akan sempurna, yang terpenting adalah kamu melakukan hal baik yang dapat berefek positif bagi orang di sekitarmu.


...----------------...


__ADS_2